"I believe you, but you're not. I love you and that's all you need"
Espresso Macchiato
dihadapanku sudah dari tadi tidak lagi mengeluarkan uap panas. Sepertinya
suhunya telah turun seiring berjalannya waktu. Memang sudah lama sih sejak kopi
ini disajikan, wajar saja jika sudah dingin. Aku mengamati cairan kental
berwarna coklat itu, menggoyangkannya sebentar dan terpaku ketika riak kopi
perlahan melemah. Aku sudah menunggu sejak tadi, mungkin jika aku diibiratkan
kopi, beginilah wujudku sekarang. Meski penghangat ruangan menyela, namun
rasanya aku kedinginan. Bukan secara fisik tapi lebih kepada psikologi, rasanya
badai salju yang tengah berlangsung diluar sana juga tengah meraung-raung dalam
hatiku.
Aku mengamati
badai itu dari balik jendela cafe disampingku. Tak banyak yang bisa dilihat,
hanya salju yang bergerak-gerak bebas disertai
angin kencang. Kota layaknya tidak berpenghuni, sunyi dan mencekam. Aku berani
bertaruh, hanya orang bodoh yang keluar rumah pada saat ini. mereka tidak akan
mau berjalan melewati badai salju yang berbahaya ini. siapa juga yang mau?
Tapi, aku
berharap ada satu orang bodoh yang berdiri disebrang jalan sana dan menatapku
lekat. Aku berharap ada satu orang bodoh yang nekat berlari menerjang badai dan
membuka pintu cafe lalu menyerbu kearahku. Aku berharap orang paling bodoh
didunia itu datang dan mengatakan bahwa ia masih mencintaku. Aku ingin ia
datang agar aku tidak sia-sia menunggunya sejak 3 jam lalu. Aku ingin ia datang
dan merasakan pelukannya sekali lagi.
Aku
merindukannya. Sangat. Orang bodoh itu, bagaimana kabarnya? Apa dia juga
merindukanku? Apa dia juga tengah menatap badai dan memikirkanku? Atau ia sudah
melupakanku?
Hari ini, aku
menunggunya lagi. Entah sudah berapa puluh pesan yang ku kirimkan padanya.
Entah sudah berapa kali aku mencoba meneleponnya. Sejak hari itu, aku menyadari
bahwa yang sebenarnya pantas dikatakan sebagai orang paling bodoh adalah aku.
Sejak hari itu, aku sadar bahwa tidak seharusnya aku melepaskannya, tidak
seharusnya aku berbalik dan melangkah meninggalkannya. Aku yang dulu begitu
naif dan bodoh, yang berpikir bahwa hubungan kami tidak akan pernah berhasil.
Aku yang terlalu pengecut untuk memulai kembali kisah asmara, yang
menyia-nyiakan pria berambut hijau itu. aku yang bodoh.
Alunan lembut
musik yang berasal dari speaker disudut ruangan begitu kontras dengan gemuruh
badai diluarsana. Sekali lagi aku menatap keluar jendela, tapi sama saja. Tak ada seorangpun yang berdiri disana, dia
tidak ada disana, dan sepertinya tidak akan pernah datang. Aku tidak akan
pernah melihatnya lagi berdiri disebrang sana dengan rambut hijau dan
mantel navynya. Hatiku sesak, aku tidak
mampu lagi berpura-pura kuat. Biarkan! Mengalirlah! Mengalirlah sesuka hati!
aku sudah lelah menahan tangis.
“kau tak apa?”
lalu aku mendengar sebuah suara. Suaranya? Yah sepertinya itu suara miliknya.
Tapi apakah benar dia ada disampingku sekarang? Aku memejamkan mata dan
membiarkan wajahku tenggelam dalam kedua lenganku yang terlipat diatas meja. Mungkin aku hanya
berhalusinasi.
“hei, kau tak
apa?”
Aku
mendengarnya lagi, dan kini aku merasakan seseorang menyentuh pundakku. Aku
tidak sedang berhalusinasi. Dia ada disini sekarang. Disampingku. Aku
mengangkat wajahku dengan cepat dan bersiap berhambur kepelukannya, namun
ternyata aku harus menahan pelukanku. Itu bukan dia. Bukan pria yang sedang aku
tunggu.
“kenapa kau
menangis nona?”
Ternyata dia
salah satu pegawai cafe. Wajahnya tampak heran melihat keadaanku. Aku memaksa
tersenyum dan menggeleng pelan.
“aku tak apa”
suaraku terdengar agak serak, lalu aku berdehem dan mengulangnya agar terdengar
lebih jelas. “aku tak apa”
Pegawai itu
terdiam, ia mengamatiku sebentar lalu menyerahkan beberapa lembar tissu padaku.
Aku menerimanya sambil berterimakasih.
“badai masih
berlangsung, sebaiknya anda menunggu disini”
“iya, tentu”
“apa kau butuh
susatu? Mau tambah kopi?” aku tau ia tidak bermaksud apa-apa, ia hanya ingin
membuatku merasa nyaman ditempat ini. lalu aku menggeleng.
“tidak,
terimakasih”
Pegawai itu
mengangguk mengerti dan melangkah pergi. Ah, aku mungkin sudah gila.. bagaimana
mungkin aku mengira pegawai itu adalah dia. Apakah ini karena aku terlalu
merindukannya? Tidak ada jawaban yang cocok untuk itu. kembali, tatapanku jatuh
keluar jendela. Badai sepertinya masih enggan meninggal kota kecil ini. malah
terlihat semakin ganas saja. Lampu-lampu digedung seberang jalan sudah mulai
dinyalakan. Aku melirik jam tangan, ternyata sudah pukul 6 petang. Rupanya aku
sudah disini selama hampir 4 jam, sebuah rekor baru.
Lalu lagu itu
mulai mengalun lembut, meski diluar sana badai salju tengah meraung tapi lagu
itu terdengar jelas ditelingaku. Lagu yang kini semakin mengingatkanku padamu.
Sial! Benar-benar waktu yang pas, aku semakin merindukanmu ,bodoh!
I can’t believe it’s over
Yah, aku masih
tidak percaya bahwa kita tidak lagi bersama.
I watched the whole thing fall
Benar, kau
benar! Seolah semua dihadapanku tak lagi berarti. Hampa, hancur!
and i never saw the writing that was on the
wall
Dan aku tidak
akan pernah bisa melihatmu lagi.
Oh! Lagu ini
seolah menamparku dengan keras. Well done Michael Buble! Lagumu sungguh ampuh
mengorek kembali kenanganku bersamanya. Lagumu kini menjadi tiket masuk bagiku
untuk terjatuh dalam lubang besar yang penuh dengan memori tentang dia. Waktu
seolah berputar kebeberapa bulan lalu. Ketika penyesalan dan kehilangan
menggerogoti hatiku. Membuatku terperangkap dalam rasa sakit yang tak tau harus
ku apakan. Yang membuatku setiap hari datang ke tempat ini untuk menunggumu.
Yang membuatku berharap kau akan datang dan aku bisa mengatakan bahwa aku
salah, aku bodoh, dan aku mohon agar kau memaafkanku. Hari dimana aku sadar,
bahwa aku benar-benar menyesal menyuruhmu pergi.
***
“ini tidak
akan berhasil!” aku berteriak tepat didepan wajah Suga dengan nafas memburu.
Tubuhku gemetar menahan gejolak emosi yang memuncah. Tatapanku agak kabur
karena air mata yang sejak tadi mengalir. Suga sendiri hanya diam dan menatapku
dengan ekspresi yang tak bisa aku artikan. Rambutnya yang dicat warna hijau
muda sedikit basah terkena lelehan salju yang turun. Matanya berkaca-kaca.
“aku minta
maaf” suaraku kini berubah layaknya bisikan. Emosiku turun dengan cepat ketika
aku melihat air mata pertama jatuh membasahi pipinya. Disaat yang bersamaan aku
merasa menjadi gadis brengsek yang tega menghancurkan hati seorang pria sebaik
Suga, dan seorang gadis lemah yang tidak ingin lagi jatuh pada lubang yang
sama. Aku terlalu takut untuk mengakui bahwa aku memiliki perasaan yang sama
pada Suga. Aku terlalu pengecut untuk mengatakan bahwa aku mencintainya dan
ingin menerima lamarannya saat ini juga. Aku terlalu takut.
“kau
menghancurkan segalanya” suaraku terdengar begitu pelan. Mataku tak lagi mampu
menatap wajah Suga. Aku merasa bersalah tapi tak mampu melakukan apa-apa.
“kau hanya
perlu percaya padaku” Suga berkata dengan nada memelas. Sejenak aku berpikir
bahwa benar, mungkin aku hanya perlu mempercayainya, mungkin sudah saatnya aku
menerimanya. Tapi seketika pikiran itu buyar dan digantikan perasaan takut yang
tak ingin aku rasakan lagi.
Suga baru saja
melemarku. Ia mengatakan bahwa ia mencintaiku dan ingin menjadikanku sebagai
istrinya. Ia berlutut dengan satu kaki dan mengeluarkan kotak cincin tepat
dihadapanku. Ia lalu membukanya dan sebuah cincin berawarna perak terpajang
indah. Hatiku rasanya mencelos melihat Suga melakukan itu. bukannya senang atau
terharuh, aku malah berdiri mematung layaknya orang idiot yang tidak bisa
berkata apapun.
“aku
mencintaimu, mungkin kita belum berpacaran terlalu lama. Namun entah mengapa,
hatiku mengatakan bahwa kau adalah takdirku” suara Suga terdengar bergema
ditelingaku. Aku kehilangan kata-kata.
“jadi, aku
mohon.. menikahlah denganku”
Oh! Jantungku
rasaya ingin copot ketika kata-kata itu keluar dari mulut pria yang telah
menjadi kekasihku selama 6 bulan ini. pria yang bertemu denganku secara tidak
sengaja dikerata bawah tanah yang penuh sesak saat jam pulang kerja. Lelaki
yang menjagaku agar penumpang yang kebanyakan pria itu tidak mendorongku dengan
kasar. Dia yang rela kakinya terinjak-injak hanya demi memberiku tempat yang
aman. Dia yang sama sekali tidak mengenalku tapi rela melakukan hal itu. hal
sederhana yang mampu membuat jantungku berdegup dua kali lebih kencang ketika
tubuhku dan tubuhnya saling bersentuhan akibat dorongan beberapa penumpang.
Lelaki yang menatap mataku dan memintaku menemaninya nonton keesokan harinya. Dan
lelaki yang membuatku berkata “iya” tanpa pikir panjang saat itu juga.
Tidak! Aku
tidak bisa!
Aku tidak bisa
menerimanya. Aku pernah mengalami ini, dan Suga tau dengan jelas. aku pernah
dicampakkan oleh mantan kekasiku. Dia memintaku untuk menikah dengannya, namun
tak lama aku menemukannya berselingkuh dengan temanku sendiri diapartemennya.
Aku tau, itu terdengar begitu klise. Tapi begitulah kenyataannya. Dia bermain
api dibelakangku. Dia berselingkuh dan menghancukan hatiku.
“kau hanya
perlu mempercayaiku”
Dia mengatakan
hal yang sama ketika melamarku dulu. Pria brengsek itu juga mengatakan hal
demikian. Tapi apa yang aku dapat? Rasa sakit hati dan trauma mendalam yang membuatku
menjadi gadis aneh yang takut untuk dinikahi! Sialan! Dia mengubahku menjadi
gadis gila!
“Amy?”
Suga melangkah
mendekatiku. Aku yakin, dia tau apa yang tengah ku pikirkan. Aku tau, dia sadar
bahwa ia telah mengorek trauma masa laluku. Suga mengulurkan tangannya hendak
memelukku, tapi kakiku refleks melangkah mundur. Dia terkejut dan terpaku
menatapku. Aku menggeleng pelan dengan air mata yang entah sejak kapan
membanjiri pipiku.
“kau, mengapa
kau melakukannya?” suaraku terdengar serak ditengah tangis yang tidak bisa lagi
ku bendung. Aku tak tau mengapa aku menangis, tapi rasanya hatiku sakit. Amy,
apa kau sadar bahwa dia tengah memintamu untuk menikah dengannya! Bukan putus
dengannya! Apa aku benar-benar sudah gila?
“aku tau ini
terlalu cepat, tapi aku ingin kau percaya padaku. Aku ingin kau menjadi
milikku”
Bagaimana bisa
Suga mengeluarkan kata-kata itu dengan mudah? bagaimana bisa ia begitu percaya
bahwa aku adalah gadis yang tepat untuknya? Bagaimana bisa dirinya begitu yakin
akan langkah yang ia ambil? Sementara aku? Aku sama sekali tidak bisa
memikirkan apa-apa. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Rasa takut seolah
mengurungku dalam ruang sempit yang gelap. aku takut, terlalu takut.
Jadi aku
memutuskan untuk berbalik dan pergi. Aku tidak menjawab lamaran Suga dan pergi
begitu saja. Aku berlari meninggalkannya sediri, ia mengejarku tapi aku berlari
memasuki mobil dan langsung pergi. Aku meninggalkannya di taman itu sembari
masih menggenggam cincin perak itu. Suga menatapku dengan tatapan nanar dan
kecewa. Hari itu, aku menorehkan luka dihatinya yang murni. Aku menyakitinya
dan menghancurkannya. Menghancurkan diriku.
Selanjutnya
aku mengurung diri di dalam kamar. Aku tidak keluar bahkan untuk makan. Ibuku
memandanganku dengan wajah prihatin tiap kali masuk kamar dan meletakkan
makanan. Aku meringkuk dibalik selimut tebalku. Menyembunyikan diriku dari
dunia yang sama sekali tidak bisa ku mengerti. Bersembunyi dari kenyataan bahwa
aku bukanlah diriku yang dulu. Aku hanya seorang wanita pengecut, kejam dan
tidak berperasaan, yang tega menghancurkan hati seorang kekasih yang begitu
mencintainya.
Dering telepon
berbunyi, entah untuk keberapa puluh kali. Aku tau itu dari siapa, aku tau apa
maksud telepon itu. Aku merindukan Suga, aku ingin mendengar suaranya sekali
lagi, tapi aku tidak bisa. Aku tidak pantas untuknya, dia begitu percaya padaku
namun aku malah tidak percaya pada diriku sendiri. Alhasil aku hanya bisa
memejamkan mata dan menangis, aku hancur karena masa lalu yang terus
membayangiku.
Lalu ketika
hari berganti dan perasaanku menjadi lebih stabil, aku menemukan Suga tak lagi
menghubungiku. Ponselku tak lagi berdering seperti dulu. Aku mengecek ponsel
dan menemukan banyak pesan dan email dari Suga. Aku membuka pesan itu dan
menemukan sebaris kalimat sederhana yang mampu menohok hatiku.
“aku percaya padamu, tapi kau tidak. Aku
mencintaimu dan hanya itu yang kau butuhkan”
Suga begitu
mencintaiku. Suga begitu percaya padaku. Lalu pesan selanjutnya berbunyi
“aku menunggumu ditempat yang sama, tapi kau
tak datang. Apa kau benar-benar tidak mempercayaiku?”
Oh damn! Aku
tau bahwa jauh didalam lubuk hatiku, aku mempercayai Suga lebih dari apapun.
Aku percaya tapi rasa takutku seolah membentuk tembok besar dan mengurungku.
Lalu pesan terakhir darinya membuatku mati rasa, hatiku sakit dan penuh dengan
penyesalan. Salahku memang, aku yang bodoh.
“aku percaya padamu Amy, tapi hari ini
hatiku hancur dan kepercayaan itu mulai runtuh. Aku menyerah. Semoga suatu saat
kau bisa mempercayai seseorang lagi”
Suga menyerah.
Itu artinya dia bena-benar telah pergi. Saat itu rasanya aku ingin berlari
sekencang kencangnya ke tempat ia menungguku dan mengatakan bahwa satu-satunya
orang yang bisa ku percaya hanya dirinya. Aku ingin mengatakan bahwa dia tidak
boleh menyerah padaku, meski itu sama saja dengan menjadikanku gadis paling
egois didunia. Mengatakan kalau aku begitu mencintainya dan, yah.. yah! Aku
ingin menikah dengannya!
Tapi aku
berakhir dengan jatuh terduduk dilantai kamarku sambil menangis sesenggukan.
Aku menangis layaknya anak kecil yang kehilangan ibunya, aku menangis lebih
keras dari pada saat mantan kekasihku yang brengsek itu mencampakkanku. Aku
menangis hingga ibuku berlari memasuki kamarku lalu menarikku dalam dekapannya.
Aku menjadi gadis kecilnya lagi, aku menjadi gadis yang tak berdaya.
***
Setahun
berlalu sejak kejadian itu, empat musim terlah berganti dan kali ini salju
kembali datang mengisi bulan Desember. Empat musim telah berlalu dan aku masih
setia menunggunya hingga hari ini. sejak
hari dimana Suga mengatakan bahwa ia menyerah padaku, hatiku seketika menyadari
betapa aku tak ingin kehilangannya. Aku menghubunginya setiap hari,
meneleponnya, mengiriminya pesan bahwan mendatangi rumahnya. Namun aku tak bisa
menemukan Suga. Ia tak menjawab telepon atau membalas pesan, bahkan ia tak lagi
tinggal diapartemennya. ia telah pergi.
Penyesalan
yang begitu dalam kini memenuhi relung hatiku. Setiap hari aku datang di cafe
tempat kami sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Aku menunggunya dan
berharap ia akan berdiri diseberang jalan sambil melambai padaku. Tapi hingga
detik ini, Suga tak pernah muncul.
Aku melirik
jam dinding yang tepasang didekat speaker, ternyata sudah pukul 8 malam. Sudah
hampir 5 jam aku menunggunya disini. Badai diluar sana tampak sudah reda meski
salju masih turun agak lebat. Lagu milik Michael Buble kini telah berganti
dengan alunan lembut dari alat musik biola. Aku mendesah dan menatap cangkir
kopi di hadapanku. Espresso Macchiato milikku masih tersisa setengah gelas,
tapi aku sudah tidak berselera meneguk kopi yang telah dingin itu.
Aku tak bisa
menunggu lebih lama lagi. Aku harus pulang dan segera berkemas. Malam ini aku
akan terbang ke London. Aku dipindah tugaskan oleh perusahaan dan tidak punya pilihan selian menerimanya. Sebenarnya
bisa saja aku menolak, tapi ini satu-satunya kesempatanku untuk menyelamatkan
hidup adik perempuanku yang buta. Aku harus bekerja lebih keras untuk
mengumpulkan biaya operasi dan donor mata miliknya. Aku tidak bisa melihatnya
menangis setiap hari sambil mengutuk hidupnya. Jika saja bukan karena Suga,
mungkin aku tidak akan begitu berat meninggalkan kota ini.
Desahan nafas
berat terdengar dari mulutku ketika beranjak dari tempat duduk. Aku melangkah
pelan menuju kasir untuk membayar kopi dan cemilan yang tadi ku pesan.
“salju masih
turun diluar sana, apa nona tidak ingin menunggu lebih lama lagi?” pelayan pria
yang tadi mendatangiku berkata dengan nada bersahabat. Aku hanya tersenyum dan
menggeleng.
“kalau begitu
apa nona ingin meminjam payung kami? Sepertinya anda tidak membawa payung. Nona
bisa mengembalikannya jika datang lagi besok”
Aku terdiam.
Mengembalikannya
besok?
Tapi aku tidak
akan ada disini lagi besok atau hari selanjutnya. Aku akan meninggalkan kota
ini dan tak tau kapan tepatnya aku kembali.
“tidak, terima
kasih. Mungkin aku tidak akan kesini besok, aku akan rindu dengan Espresso Macchiato
buatanmu. Kau sangat baik” jawabku. Pelayan itu mengangkat alisnya bingung,
namun tidak lama kemudian ia kembali tersenyum hangat dan mengangguk.
selanjutnya dia menyerahkan bon yang harus aku bayar. Lalu ketika selesai
membayar dan hendak keluar, pelayan pria itu berkata
“apa nona baru
saja mengucapkan salam perpisahan?”
Ah, aku baru
menyadari bahwa kata-kata ku barusan memang terdengar seperti salam perpisahan.
“hm, seperti itulah”
Pelayan itu
diam sejenak lalu melanjutkan
“apa nona
sudah menyerah menunggunya?”
Menyerah?
Entahlah. Tapi bagaimana ia bisa tau kalau aku datang ke tempat ini setiap hari
hanya untuk menunggu seseorang?. “ada sesuatu yang membuatku harus pergi. Bukan
karena aku telah menyerah menunggunya. Jujur saja bahkan jika harus menunggu
hingga empat musim lagi, aku akan rela”
“lalu jika
boleh aku tau, siapa pria yang sedang nona tunggu?”
Aku terdiam.
Haruskah aku memberitahunya? Hari ini adalah hari terakhir aku bertemu
dengannya. Aku menatap wajahnya yang bersahabat. Jika diingat-ingat, selama ini
dia yang selalu membawakan pesananku. Segelas Espresso Macchiato dan beberapa
buah macaron, aku selalu memesan itu.
aku mengakui bahwa kopi buatannya terasa pas dimulutku. Dia juga sering
memutar lagu-lagu yang entah bagaimana merupakan lagu favorit ku.
“siapa
namamu?” tanyaku penasaran.
“nona bisa
memanggilku Jin” ia memegang tanda pengenal yang terpasang didadan kanannya.
Aku juga baru menyadari hal itu. rasanya sedikit malu menyadari betapa terlambatnya
aku menanyakan namanya.
“terimakasih
Jin, kau baik sekali” Pelayan itu tersenyum lagi. Aku balas tersenyum sambil
memperbaiki letak syalku. “namanya Suga. Pria yang aku tunggu selama ini
bernama Suga. Dia pria yang aku cintai. Seorang pria dengan rambut berwarna
hijau muda”
Kemudian tanpa
menunggu balasan darinya aku segera melangkah keluar. Langsung saja aku
disambut dengan hembusan angin musim salju yang dingin. Aku sedikit gemetar
karena suhu yang begitu berbeda ketika masih di dalam cafe. Lalu aku
menengadah, langit gelap terhampar luas tanpa cahaya. Hanya butiran-butiran
kecil salju yang turun hingga mengenai wajahku. kemudian aku beralih menatap
jalanan sekitar. begitu sepi dan tenang. Hanya ada satu dua orang yang berjalan
menyusuri trotoar dengan langkah cepat. Tiba-tiba saja, aku merasa menjadi
orang yang paling kesepian di dunia ini.
Kembali, aku
menangis. Rasanya tenggorokanku jadi sakit tiap kali aku mencoba menahan
tangisku. Oleh karena itu, didepan cafe yang setiap hari ku datangi aku
mengeluarkan semuanya. Aku menangis sesenggukan, toh tidak ada seorangpun yang
memperhatikan. Namun meski marasa begitu sedih, ada perasaan lain yang menguap
seiring tangisku yang pecah. Perasaan yang membuatku bisa mengontrol tangisku.
Aku tidak lagi menangis seperti saat aku menerima pesan terakhir dari Suga.
Tidak, tidak begitu. Perasaan lega itu
muncul entah dari mana. Perasaan yang membuatku berpikir bahwa, sudah saatnya
aku menyerahkan semuanya pada Tuhan. Aku tidak perlu lagi memaksa diriku atau
bahkan dunia sekelilingku untuk kembali pada masa lalu.
Dan aku
memilih melangkahkan kakiku menuju rumah. Aku ingin pulang dan memeluk mereka
yang tengah menungguku dengan cemas. Aku ingin merasakan kehangatan ibu dan
adikku. Dua orang yang tidak akan pernah menyerah untukku. Tapi ini bukan
berarti aku menyerah untuk Suga. Sama sekali tidak. Aku akan tetap menunggunya.
Meski tidak lagi duduk dicafe itu.
***
Jam sudah
menunjukkan pukul 11 ketika pintu tiba-tiba terbuka. Aku yang tengah sibuk
membersihkan meja sedikit terperanjat oleh bunyi lonceng yang nyaring.
“siapa sih
yang datang jam segini? Sebentar lagi kan cafe ini tutup” aku menggerutu. Bos
dan yang lainnya sudah pulang sejak 15 menit yang lalu. Tinggal aku seorang
diri yang harus berjibaku dengan meja-meja dan daftar persediaan bahan makanan.
Mengapa juga aku harus mendapat giliran dimalam bersalju seperti ini. Aku
seharusnya sudah sampai di rumah dan meringkuk dibalik selimut hangat.
“permisi apa
ada orang?”
Aku medengar
suara dari pelanggan tersebut. sepertinya ia tidak melihatku yang tengah
menyusun meja tak jauh dari posisinya berdiri. aku kemudian melangkah
mendekatinya dengan masih memegang serbet.
“maaf tapi
cafe akan segera tutup” ucapku setelah berdiri tepat dihapannya. Aku
mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala. Aku berusaha melakukannya senormal
mungkin agar ia tidak tersinggung. Pria dihadapanku ini seperti baru saja
berlari dari tempat yang jauh, ia berusaha mengatur nafasnya secara perlahan.
“aku, aku
mencari seseorang” ucapnya agak terbata.
Ha? Mencari
seseorang? Lalu apa hubungannya orang yang tengah ia cari dengan cafe tempatku
bekerja? atau bisa saja ia adalah temannya bos?
“apa yang kau
maksud manager disini? Tapi, dia sudah..”
“bukan, bukan
manager tapi seorang gadis”
Pria
dihadapanku memotong ucapanku dengan terburu-buru. Seorang gadis katanya? Aku
semakin tidak mengerti. Lalu aku baru menyadarinya, pria dengan rambut berwarna
hijau! Yah tidak salah lagi. Pria dengan rambut berwarna hijau dihadapakku
adalah pria yang dimaksud oleh nona yang sejak tadi menunggu.
“dia sudah
pergi” ucapku. Entah kenapa nada suaraku terdengar begitu dingin. Tiba-tiba
saja aku merasa jengkel melihat pria dihadapanku itu. Mengapa ia baru datang
sekarang?! Mengapa tidak sejak tadi?! Mengapa ia membiarkan gadis itu
menunggunya sejak berjam-jam lalu?! Tidak! Mengapa ia membiarkan gadis yang
begitu mencintainya itu rela menunggu hingga setahun lebih?!
“dia sudah
pergi dan sepertinya dia tidak akan datang lagi besok” aku sudah berusaha
mengubah nada bicaraku, tapi tetap saja terdengar begitu dingin. Aku
menggenggam serbet ditanganku secara berlebihan. Memang ini bukanlah urusanku,
namun rasanya pria ini harus mendapat pelajaran dari apa yang telah ia lakukan.
“mengapa kau
baru datang sekarang?” tanyaku. Lalu aku melihat pria itu mengangkat wajahnya.
Ia menatapku dengan eskpresi datar, tapi walaupun begitu aku bisa melihat
matanya berkaca-kaca. Mantelnya sedikit basah entah karena salju atau karena
keringat.
“apa dia sudah
lama menungguku?” suaranya terdengar sedikit serak mencoba menahan tangis. Ia
menatap wajahku sejenak lalu beralih ke tanda pengenalku. “apa dia sudah sejak
lama menungguku.. Jin?”
Aku
mengangguk. Kemudian aku menyaksikannya menangis, pria dengan rambut hijau itu
terduduk lesu dilantai cafe sambil berderai air mata. Aku terpana, baru kali
ini aku melihat seorang pria menangis seperti itu. Ia tidak bersuara, tapi
tangisnya terdengar begitu dalam dan menyayat hati. Ia menangis seolah baru
saja ditinggal mati oleh orang yang sangat berharga dihidupnya.
Aku memang tidak
mengerti apa yang terjadi diantara mereka. Namun satu yang ku ketahui, mereka
saling mencintai. Gadis yang rela menunggu hingga setahun lamanya, dan pria
berambut hijau yang tengah menangis dilantai cafe, mereka saling merindukan
satu sama lain. Mereka tengah dipermainkan oleh nasib, mereka tengah tenggelam
dalam lautan penyesalan yang dalam. Malam ini, dengan salju yang masih turun
diluar sana aku menyaksikan sisi lain dari cinta. Begitu menyakitkan, begitu
menyiksa.
The end.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar