Senin, 14 Desember 2015

That Guy With The Green Hair (BTS Funfiction-SUGA)



"I believe you, but you're not. I love you and that's all you need"


Espresso Macchiato dihadapanku sudah dari tadi tidak lagi mengeluarkan uap panas. Sepertinya suhunya telah turun seiring berjalannya waktu. Memang sudah lama sih sejak kopi ini disajikan, wajar saja jika sudah dingin. Aku mengamati cairan kental berwarna coklat itu, menggoyangkannya sebentar dan terpaku ketika riak kopi perlahan melemah. Aku sudah menunggu sejak tadi, mungkin jika aku diibiratkan kopi, beginilah wujudku sekarang. Meski penghangat ruangan menyela, namun rasanya aku kedinginan. Bukan secara fisik tapi lebih kepada psikologi, rasanya badai salju yang tengah berlangsung diluar sana juga tengah meraung-raung dalam hatiku.

Aku mengamati badai itu dari balik jendela cafe disampingku. Tak banyak yang bisa dilihat, hanya salju  yang bergerak-gerak bebas disertai angin kencang. Kota layaknya tidak berpenghuni, sunyi dan mencekam. Aku berani bertaruh, hanya orang bodoh yang keluar rumah pada saat ini. mereka tidak akan mau berjalan melewati badai salju yang berbahaya ini. siapa juga yang mau?

Tapi, aku berharap ada satu orang bodoh yang berdiri disebrang jalan sana dan menatapku lekat. Aku berharap ada satu orang bodoh yang nekat berlari menerjang badai dan membuka pintu cafe lalu menyerbu kearahku. Aku berharap orang paling bodoh didunia itu datang dan mengatakan bahwa ia masih mencintaku. Aku ingin ia datang agar aku tidak sia-sia menunggunya sejak 3 jam lalu. Aku ingin ia datang dan merasakan pelukannya sekali lagi.

Aku merindukannya. Sangat. Orang bodoh itu, bagaimana kabarnya? Apa dia juga merindukanku? Apa dia juga tengah menatap badai dan memikirkanku? Atau ia sudah melupakanku?
 
Hari ini, aku menunggunya lagi. Entah sudah berapa puluh pesan yang ku kirimkan padanya. Entah sudah berapa kali aku mencoba meneleponnya. Sejak hari itu, aku menyadari bahwa yang sebenarnya pantas dikatakan sebagai orang paling bodoh adalah aku. Sejak hari itu, aku sadar bahwa tidak seharusnya aku melepaskannya, tidak seharusnya aku berbalik dan melangkah meninggalkannya. Aku yang dulu begitu naif dan bodoh, yang berpikir bahwa hubungan kami tidak akan pernah berhasil. Aku yang terlalu pengecut untuk memulai kembali kisah asmara, yang menyia-nyiakan pria berambut hijau itu. aku yang bodoh.

Alunan lembut musik yang berasal dari speaker disudut ruangan begitu kontras dengan gemuruh badai diluarsana. Sekali lagi aku menatap keluar jendela, tapi sama saja.  Tak ada seorangpun yang berdiri disana, dia tidak ada disana, dan sepertinya tidak akan pernah datang. Aku tidak akan pernah melihatnya lagi berdiri disebrang sana dengan rambut hijau dan mantel  navynya. Hatiku sesak, aku tidak mampu lagi berpura-pura kuat. Biarkan! Mengalirlah! Mengalirlah sesuka hati! aku sudah lelah menahan tangis.

“kau tak apa?” lalu aku mendengar sebuah suara. Suaranya? Yah sepertinya itu suara miliknya. Tapi apakah benar dia ada disampingku sekarang? Aku memejamkan mata dan membiarkan wajahku tenggelam dalam kedua lenganku yang  terlipat diatas meja. Mungkin aku hanya berhalusinasi.

“hei, kau tak apa?”

Aku mendengarnya lagi, dan kini aku merasakan seseorang menyentuh pundakku. Aku tidak sedang berhalusinasi. Dia ada disini sekarang. Disampingku. Aku mengangkat wajahku dengan cepat dan bersiap berhambur kepelukannya, namun ternyata aku harus menahan pelukanku. Itu bukan dia. Bukan pria yang sedang aku tunggu.

“kenapa kau menangis nona?”

Ternyata dia salah satu pegawai cafe. Wajahnya tampak heran melihat keadaanku. Aku memaksa tersenyum dan menggeleng pelan.

“aku tak apa” suaraku terdengar agak serak, lalu aku berdehem dan mengulangnya agar terdengar lebih jelas. “aku tak apa”

Pegawai itu terdiam, ia mengamatiku sebentar lalu menyerahkan beberapa lembar tissu padaku. Aku menerimanya sambil berterimakasih.

“badai masih berlangsung, sebaiknya anda menunggu disini”

“iya, tentu”

“apa kau butuh susatu? Mau tambah kopi?” aku tau ia tidak bermaksud apa-apa, ia hanya ingin membuatku merasa nyaman ditempat ini. lalu aku menggeleng.

“tidak, terimakasih”

Pegawai itu mengangguk mengerti dan melangkah pergi. Ah, aku mungkin sudah gila.. bagaimana mungkin aku mengira pegawai itu adalah dia. Apakah ini karena aku terlalu merindukannya? Tidak ada jawaban yang cocok untuk itu. kembali, tatapanku jatuh keluar jendela. Badai sepertinya masih enggan meninggal kota kecil ini. malah terlihat semakin ganas saja. Lampu-lampu digedung seberang jalan sudah mulai dinyalakan. Aku melirik jam tangan, ternyata sudah pukul 6 petang. Rupanya aku sudah disini selama hampir 4 jam, sebuah rekor baru.

Lalu lagu itu mulai mengalun lembut, meski diluar sana badai salju tengah meraung tapi lagu itu terdengar jelas ditelingaku. Lagu yang kini semakin mengingatkanku padamu. Sial! Benar-benar waktu yang pas, aku semakin merindukanmu ,bodoh!

I can’t believe it’s over

Yah, aku masih tidak percaya bahwa kita tidak lagi bersama.

I watched the whole thing fall

Benar, kau benar! Seolah semua dihadapanku tak lagi berarti. Hampa, hancur!

and i never saw the writing that was on the wall

Dan aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi.

Oh! Lagu ini seolah menamparku dengan keras. Well done Michael Buble! Lagumu sungguh ampuh mengorek kembali kenanganku bersamanya. Lagumu kini menjadi tiket masuk bagiku untuk terjatuh dalam lubang besar yang penuh dengan memori tentang dia. Waktu seolah berputar kebeberapa bulan lalu. Ketika penyesalan dan kehilangan menggerogoti hatiku. Membuatku terperangkap dalam rasa sakit yang tak tau harus ku apakan. Yang membuatku setiap hari datang ke tempat ini untuk menunggumu. Yang membuatku berharap kau akan datang dan aku bisa mengatakan bahwa aku salah, aku bodoh, dan aku mohon agar kau memaafkanku. Hari dimana aku sadar, bahwa aku benar-benar menyesal menyuruhmu pergi.

***

“ini tidak akan berhasil!” aku berteriak tepat didepan wajah Suga dengan nafas memburu. Tubuhku gemetar menahan gejolak emosi yang memuncah. Tatapanku agak kabur karena air mata yang sejak tadi mengalir. Suga sendiri hanya diam dan menatapku dengan ekspresi yang tak bisa aku artikan. Rambutnya yang dicat warna hijau muda sedikit basah terkena lelehan salju yang turun. Matanya berkaca-kaca.

“aku minta maaf” suaraku kini berubah layaknya bisikan. Emosiku turun dengan cepat ketika aku melihat air mata pertama jatuh membasahi pipinya. Disaat yang bersamaan aku merasa menjadi gadis brengsek yang tega menghancurkan hati seorang pria sebaik Suga, dan seorang gadis lemah yang tidak ingin lagi jatuh pada lubang yang sama. Aku terlalu takut untuk mengakui bahwa aku memiliki perasaan yang sama pada Suga. Aku terlalu pengecut untuk mengatakan bahwa aku mencintainya dan ingin menerima lamarannya saat ini juga. Aku terlalu takut.

“kau menghancurkan segalanya” suaraku terdengar begitu pelan. Mataku tak lagi mampu menatap wajah Suga. Aku merasa bersalah tapi tak mampu melakukan apa-apa.

“kau hanya perlu percaya padaku” Suga berkata dengan nada memelas. Sejenak aku berpikir bahwa benar, mungkin aku hanya perlu mempercayainya, mungkin sudah saatnya aku menerimanya. Tapi seketika pikiran itu buyar dan digantikan perasaan takut yang tak ingin aku rasakan lagi.

Suga baru saja melemarku. Ia mengatakan bahwa ia mencintaiku dan ingin menjadikanku sebagai istrinya. Ia berlutut dengan satu kaki dan mengeluarkan kotak cincin tepat dihadapanku. Ia lalu membukanya dan sebuah cincin berawarna perak terpajang indah. Hatiku rasanya mencelos melihat Suga melakukan itu. bukannya senang atau terharuh, aku malah berdiri mematung layaknya orang idiot yang tidak bisa berkata apapun.

“aku mencintaimu, mungkin kita belum berpacaran terlalu lama. Namun entah mengapa, hatiku mengatakan bahwa kau adalah takdirku” suara Suga terdengar bergema ditelingaku. Aku kehilangan kata-kata.

“jadi, aku mohon.. menikahlah denganku”

Oh! Jantungku rasaya ingin copot ketika kata-kata itu keluar dari mulut pria yang telah menjadi kekasihku selama 6 bulan ini. pria yang bertemu denganku secara tidak sengaja dikerata bawah tanah yang penuh sesak saat jam pulang kerja. Lelaki yang menjagaku agar penumpang yang kebanyakan pria itu tidak mendorongku dengan kasar. Dia yang rela kakinya terinjak-injak hanya demi memberiku tempat yang aman. Dia yang sama sekali tidak mengenalku tapi rela melakukan hal itu. hal sederhana yang mampu membuat jantungku berdegup dua kali lebih kencang ketika tubuhku dan tubuhnya saling bersentuhan akibat dorongan beberapa penumpang. Lelaki yang menatap mataku dan memintaku menemaninya nonton keesokan harinya. Dan lelaki yang membuatku berkata “iya” tanpa pikir panjang saat itu juga.

Tidak! Aku tidak bisa!

Aku tidak bisa menerimanya. Aku pernah mengalami ini, dan Suga tau dengan jelas. aku pernah dicampakkan oleh mantan kekasiku. Dia memintaku untuk menikah dengannya, namun tak lama aku menemukannya berselingkuh dengan temanku sendiri diapartemennya. Aku tau, itu terdengar begitu klise. Tapi begitulah kenyataannya. Dia bermain api dibelakangku. Dia berselingkuh dan menghancukan hatiku.

“kau hanya perlu mempercayaiku”

Dia mengatakan hal yang sama ketika melamarku dulu. Pria brengsek itu juga mengatakan hal demikian. Tapi apa yang aku dapat? Rasa sakit hati dan trauma mendalam yang membuatku menjadi gadis aneh yang takut untuk dinikahi! Sialan! Dia mengubahku menjadi gadis gila!

“Amy?”

Suga melangkah mendekatiku. Aku yakin, dia tau apa yang tengah ku pikirkan. Aku tau, dia sadar bahwa ia telah mengorek trauma masa laluku. Suga mengulurkan tangannya hendak memelukku, tapi kakiku refleks melangkah mundur. Dia terkejut dan terpaku menatapku. Aku menggeleng pelan dengan air mata yang entah sejak kapan membanjiri pipiku.

“kau, mengapa kau melakukannya?” suaraku terdengar serak ditengah tangis yang tidak bisa lagi ku bendung. Aku tak tau mengapa aku menangis, tapi rasanya hatiku sakit. Amy, apa kau sadar bahwa dia tengah memintamu untuk menikah dengannya! Bukan putus dengannya! Apa aku benar-benar sudah gila?

“aku tau ini terlalu cepat, tapi aku ingin kau percaya padaku. Aku ingin kau menjadi milikku”

Bagaimana bisa Suga mengeluarkan kata-kata itu dengan mudah? bagaimana bisa ia begitu percaya bahwa aku adalah gadis yang tepat untuknya? Bagaimana bisa dirinya begitu yakin akan langkah yang ia ambil? Sementara aku? Aku sama sekali tidak bisa memikirkan apa-apa. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Rasa takut seolah mengurungku dalam ruang sempit yang gelap. aku takut, terlalu takut.

Jadi aku memutuskan untuk berbalik dan pergi. Aku tidak menjawab lamaran Suga dan pergi begitu saja. Aku berlari meninggalkannya sediri, ia mengejarku tapi aku berlari memasuki mobil dan langsung pergi. Aku meninggalkannya di taman itu sembari masih menggenggam cincin perak itu. Suga menatapku dengan tatapan nanar dan kecewa. Hari itu, aku menorehkan luka dihatinya yang murni. Aku menyakitinya dan menghancurkannya. Menghancurkan diriku.

Selanjutnya aku mengurung diri di dalam kamar. Aku tidak keluar bahkan untuk makan. Ibuku memandanganku dengan wajah prihatin tiap kali masuk kamar dan meletakkan makanan. Aku meringkuk dibalik selimut tebalku. Menyembunyikan diriku dari dunia yang sama sekali tidak bisa ku mengerti. Bersembunyi dari kenyataan bahwa aku bukanlah diriku yang dulu. Aku hanya seorang wanita pengecut, kejam dan tidak berperasaan, yang tega menghancurkan hati seorang kekasih yang begitu mencintainya.

Dering telepon berbunyi, entah untuk keberapa puluh kali. Aku tau itu dari siapa, aku tau apa maksud telepon itu. Aku merindukan Suga, aku ingin mendengar suaranya sekali lagi, tapi aku tidak bisa. Aku tidak pantas untuknya, dia begitu percaya padaku namun aku malah tidak percaya pada diriku sendiri. Alhasil aku hanya bisa memejamkan mata dan menangis, aku hancur karena masa lalu yang terus membayangiku.

Lalu ketika hari berganti dan perasaanku menjadi lebih stabil, aku menemukan Suga tak lagi menghubungiku. Ponselku tak lagi berdering seperti dulu. Aku mengecek ponsel dan menemukan banyak pesan dan email dari Suga. Aku membuka pesan itu dan menemukan sebaris kalimat sederhana yang mampu menohok hatiku.

“aku percaya padamu, tapi kau tidak. Aku mencintaimu dan hanya itu yang kau butuhkan”

Suga begitu mencintaiku. Suga begitu percaya padaku. Lalu pesan selanjutnya berbunyi

“aku menunggumu ditempat yang sama, tapi kau tak datang. Apa kau benar-benar tidak mempercayaiku?”

Oh damn! Aku tau bahwa jauh didalam lubuk hatiku, aku mempercayai Suga lebih dari apapun. Aku percaya tapi rasa takutku seolah membentuk tembok besar dan mengurungku. Lalu pesan terakhir darinya membuatku mati rasa, hatiku sakit dan penuh dengan penyesalan. Salahku memang, aku yang bodoh.

“aku percaya padamu Amy, tapi hari ini hatiku hancur dan kepercayaan itu mulai runtuh. Aku menyerah. Semoga suatu saat kau bisa mempercayai seseorang lagi”

Suga menyerah. Itu artinya dia bena-benar telah pergi. Saat itu rasanya aku ingin berlari sekencang kencangnya ke tempat ia menungguku dan mengatakan bahwa satu-satunya orang yang bisa ku percaya hanya dirinya. Aku ingin mengatakan bahwa dia tidak boleh menyerah padaku, meski itu sama saja dengan menjadikanku gadis paling egois didunia. Mengatakan kalau aku begitu mencintainya dan, yah.. yah! Aku ingin menikah dengannya!

Tapi aku berakhir dengan jatuh terduduk dilantai kamarku sambil menangis sesenggukan. Aku menangis layaknya anak kecil yang kehilangan ibunya, aku menangis lebih keras dari pada saat mantan kekasihku yang brengsek itu mencampakkanku. Aku menangis hingga ibuku berlari memasuki kamarku lalu menarikku dalam dekapannya. Aku menjadi gadis kecilnya lagi, aku menjadi gadis yang tak berdaya.

***

Setahun berlalu sejak kejadian itu, empat musim terlah berganti dan kali ini salju kembali datang mengisi bulan Desember. Empat musim telah berlalu dan aku masih setia menunggunya hingga hari ini.  sejak hari dimana Suga mengatakan bahwa ia menyerah padaku, hatiku seketika menyadari betapa aku tak ingin kehilangannya. Aku menghubunginya setiap hari, meneleponnya, mengiriminya pesan bahwan mendatangi rumahnya. Namun aku tak bisa menemukan Suga. Ia tak menjawab telepon atau membalas pesan, bahkan ia tak lagi tinggal diapartemennya. ia telah pergi.

Penyesalan yang begitu dalam kini memenuhi relung hatiku. Setiap hari aku datang di cafe tempat kami sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Aku menunggunya dan berharap ia akan berdiri diseberang jalan sambil melambai padaku. Tapi hingga detik ini, Suga tak pernah muncul.

Aku melirik jam dinding yang tepasang didekat speaker, ternyata sudah pukul 8 malam. Sudah hampir 5 jam aku menunggunya disini. Badai diluar sana tampak sudah reda meski salju masih turun agak lebat. Lagu milik Michael Buble kini telah berganti dengan alunan lembut dari alat musik biola. Aku mendesah dan menatap cangkir kopi di hadapanku. Espresso Macchiato milikku masih tersisa setengah gelas, tapi aku sudah tidak berselera meneguk kopi yang telah dingin itu.

Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku harus pulang dan segera berkemas. Malam ini aku akan terbang ke London. Aku dipindah tugaskan oleh perusahaan dan  tidak punya pilihan selian menerimanya. Sebenarnya bisa saja aku menolak, tapi ini satu-satunya kesempatanku untuk menyelamatkan hidup adik perempuanku yang buta. Aku harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan biaya operasi dan donor mata miliknya. Aku tidak bisa melihatnya menangis setiap hari sambil mengutuk hidupnya. Jika saja bukan karena Suga, mungkin aku tidak akan begitu berat meninggalkan kota ini.

Desahan nafas berat terdengar dari mulutku ketika beranjak dari tempat duduk. Aku melangkah pelan menuju kasir untuk membayar kopi dan cemilan yang tadi ku pesan.

“salju masih turun diluar sana, apa nona tidak ingin menunggu lebih lama lagi?” pelayan pria yang tadi mendatangiku berkata dengan nada bersahabat. Aku hanya tersenyum dan menggeleng.

“kalau begitu apa nona ingin meminjam payung kami? Sepertinya anda tidak membawa payung. Nona bisa mengembalikannya jika datang lagi besok”

Aku terdiam.

Mengembalikannya besok?

Tapi aku tidak akan ada disini lagi besok atau hari selanjutnya. Aku akan meninggalkan kota ini dan tak tau kapan tepatnya aku kembali.

“tidak, terima kasih. Mungkin aku tidak akan kesini besok, aku akan rindu dengan Espresso Macchiato buatanmu. Kau sangat baik” jawabku. Pelayan itu mengangkat alisnya bingung, namun tidak lama kemudian ia kembali tersenyum hangat dan mengangguk. selanjutnya dia menyerahkan bon yang harus aku bayar. Lalu ketika selesai membayar dan hendak keluar, pelayan pria itu berkata

“apa nona baru saja mengucapkan salam perpisahan?”

Ah, aku baru menyadari bahwa kata-kata ku barusan memang terdengar seperti salam perpisahan. “hm, seperti itulah”

Pelayan itu diam sejenak lalu melanjutkan

“apa nona sudah menyerah menunggunya?”

Menyerah? Entahlah. Tapi bagaimana ia bisa tau kalau aku datang ke tempat ini setiap hari hanya untuk menunggu seseorang?. “ada sesuatu yang membuatku harus pergi. Bukan karena aku telah menyerah menunggunya. Jujur saja bahkan jika harus menunggu hingga empat musim lagi, aku akan rela”

“lalu jika boleh aku tau, siapa pria yang sedang nona tunggu?”

Aku terdiam. Haruskah aku memberitahunya? Hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Aku menatap wajahnya yang bersahabat. Jika diingat-ingat, selama ini dia yang selalu membawakan pesananku. Segelas Espresso Macchiato dan beberapa buah macaron, aku selalu memesan itu.  aku mengakui bahwa kopi buatannya terasa pas dimulutku. Dia juga sering memutar lagu-lagu yang entah bagaimana merupakan lagu favorit ku.

“siapa namamu?” tanyaku penasaran.

“nona bisa memanggilku Jin” ia memegang tanda pengenal yang terpasang didadan kanannya. Aku juga baru menyadari hal itu. rasanya sedikit malu menyadari betapa terlambatnya aku menanyakan namanya.

“terimakasih Jin, kau baik sekali” Pelayan itu tersenyum lagi. Aku balas tersenyum sambil memperbaiki letak syalku. “namanya Suga. Pria yang aku tunggu selama ini bernama Suga. Dia pria yang aku cintai. Seorang pria dengan rambut berwarna hijau muda”

Kemudian tanpa menunggu balasan darinya aku segera melangkah keluar. Langsung saja aku disambut dengan hembusan angin musim salju yang dingin. Aku sedikit gemetar karena suhu yang begitu berbeda ketika masih di dalam cafe. Lalu aku menengadah, langit gelap terhampar luas tanpa cahaya. Hanya butiran-butiran kecil salju yang turun hingga mengenai wajahku. kemudian aku beralih menatap jalanan sekitar. begitu sepi dan tenang. Hanya ada satu dua orang yang berjalan menyusuri trotoar dengan langkah cepat. Tiba-tiba saja, aku merasa menjadi orang yang paling kesepian di dunia ini.

Kembali, aku menangis. Rasanya tenggorokanku jadi sakit tiap kali aku mencoba menahan tangisku. Oleh karena itu, didepan cafe yang setiap hari ku datangi aku mengeluarkan semuanya. Aku menangis sesenggukan, toh tidak ada seorangpun yang memperhatikan. Namun meski marasa begitu sedih, ada perasaan lain yang menguap seiring tangisku yang pecah. Perasaan yang membuatku bisa mengontrol tangisku. Aku tidak lagi menangis seperti saat aku menerima pesan terakhir dari Suga. Tidak, tidak  begitu. Perasaan lega itu muncul entah dari mana. Perasaan yang membuatku berpikir bahwa, sudah saatnya aku menyerahkan semuanya pada Tuhan. Aku tidak perlu lagi memaksa diriku atau bahkan dunia sekelilingku untuk kembali pada masa lalu.

Dan aku memilih melangkahkan kakiku menuju rumah. Aku ingin pulang dan memeluk mereka yang tengah menungguku dengan cemas. Aku ingin merasakan kehangatan ibu dan adikku. Dua orang yang tidak akan pernah menyerah untukku. Tapi ini bukan berarti aku menyerah untuk Suga. Sama sekali tidak. Aku akan tetap menunggunya. Meski tidak lagi duduk dicafe itu.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 11 ketika pintu tiba-tiba terbuka. Aku yang tengah sibuk membersihkan meja sedikit terperanjat oleh bunyi lonceng yang nyaring.

“siapa sih yang datang jam segini? Sebentar lagi kan cafe ini tutup” aku menggerutu. Bos dan yang lainnya sudah pulang sejak 15 menit yang lalu. Tinggal aku seorang diri yang harus berjibaku dengan meja-meja dan daftar persediaan bahan makanan. Mengapa juga aku harus mendapat giliran dimalam bersalju seperti ini. Aku seharusnya sudah sampai di rumah dan meringkuk dibalik selimut hangat.

“permisi apa ada orang?”

Aku medengar suara dari pelanggan tersebut. sepertinya ia tidak melihatku yang tengah menyusun meja tak jauh dari posisinya berdiri. aku kemudian melangkah mendekatinya dengan masih memegang serbet.

“maaf tapi cafe akan segera tutup” ucapku setelah berdiri tepat dihapannya. Aku mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala. Aku berusaha melakukannya senormal mungkin agar ia tidak tersinggung. Pria dihadapanku ini seperti baru saja berlari dari tempat yang jauh, ia berusaha mengatur nafasnya secara perlahan.

“aku, aku mencari seseorang” ucapnya agak terbata.

Ha? Mencari seseorang? Lalu apa hubungannya orang yang tengah ia cari dengan cafe tempatku bekerja? atau bisa saja ia adalah temannya bos?

“apa yang kau maksud manager disini? Tapi, dia sudah..”

“bukan, bukan manager tapi seorang gadis”

Pria dihadapanku memotong ucapanku dengan terburu-buru. Seorang gadis katanya? Aku semakin tidak mengerti. Lalu aku baru menyadarinya, pria dengan rambut berwarna hijau! Yah tidak salah lagi. Pria dengan rambut berwarna hijau dihadapakku adalah pria yang dimaksud oleh nona yang sejak tadi menunggu.

“dia sudah pergi” ucapku. Entah kenapa nada suaraku terdengar begitu dingin. Tiba-tiba saja aku merasa jengkel melihat pria dihadapanku itu. Mengapa ia baru datang sekarang?! Mengapa tidak sejak tadi?! Mengapa ia membiarkan gadis itu menunggunya sejak berjam-jam lalu?! Tidak! Mengapa ia membiarkan gadis yang begitu mencintainya itu rela menunggu hingga setahun lebih?!

“dia sudah pergi dan sepertinya dia tidak akan datang lagi besok” aku sudah berusaha mengubah nada bicaraku, tapi tetap saja terdengar begitu dingin. Aku menggenggam serbet ditanganku secara berlebihan. Memang ini bukanlah urusanku, namun rasanya pria ini harus mendapat pelajaran dari apa yang telah ia lakukan.

“mengapa kau baru datang sekarang?” tanyaku. Lalu aku melihat pria itu mengangkat wajahnya. Ia menatapku dengan eskpresi datar, tapi walaupun begitu aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. Mantelnya sedikit basah entah karena salju atau karena keringat.

“apa dia sudah lama menungguku?” suaranya terdengar sedikit serak mencoba menahan tangis. Ia menatap wajahku sejenak lalu beralih ke tanda pengenalku. “apa dia sudah sejak lama menungguku.. Jin?”

Aku mengangguk. Kemudian aku menyaksikannya menangis, pria dengan rambut hijau itu terduduk lesu dilantai cafe sambil berderai air mata. Aku terpana, baru kali ini aku melihat seorang pria menangis seperti itu. Ia tidak bersuara, tapi tangisnya terdengar begitu dalam dan menyayat hati. Ia menangis seolah baru saja ditinggal mati oleh orang yang sangat berharga dihidupnya.

Aku memang tidak mengerti apa yang terjadi diantara mereka. Namun satu yang ku ketahui, mereka saling mencintai. Gadis yang rela menunggu hingga setahun lamanya, dan pria berambut hijau yang tengah menangis dilantai cafe, mereka saling merindukan satu sama lain. Mereka tengah dipermainkan oleh nasib, mereka tengah tenggelam dalam lautan penyesalan yang dalam. Malam ini, dengan salju yang masih turun diluar sana aku menyaksikan sisi lain dari cinta. Begitu menyakitkan, begitu menyiksa.


The end.