Senin, 14 Desember 2015

That Guy With The Green Hair (BTS Funfiction-SUGA)



"I believe you, but you're not. I love you and that's all you need"


Espresso Macchiato dihadapanku sudah dari tadi tidak lagi mengeluarkan uap panas. Sepertinya suhunya telah turun seiring berjalannya waktu. Memang sudah lama sih sejak kopi ini disajikan, wajar saja jika sudah dingin. Aku mengamati cairan kental berwarna coklat itu, menggoyangkannya sebentar dan terpaku ketika riak kopi perlahan melemah. Aku sudah menunggu sejak tadi, mungkin jika aku diibiratkan kopi, beginilah wujudku sekarang. Meski penghangat ruangan menyela, namun rasanya aku kedinginan. Bukan secara fisik tapi lebih kepada psikologi, rasanya badai salju yang tengah berlangsung diluar sana juga tengah meraung-raung dalam hatiku.

Aku mengamati badai itu dari balik jendela cafe disampingku. Tak banyak yang bisa dilihat, hanya salju  yang bergerak-gerak bebas disertai angin kencang. Kota layaknya tidak berpenghuni, sunyi dan mencekam. Aku berani bertaruh, hanya orang bodoh yang keluar rumah pada saat ini. mereka tidak akan mau berjalan melewati badai salju yang berbahaya ini. siapa juga yang mau?

Tapi, aku berharap ada satu orang bodoh yang berdiri disebrang jalan sana dan menatapku lekat. Aku berharap ada satu orang bodoh yang nekat berlari menerjang badai dan membuka pintu cafe lalu menyerbu kearahku. Aku berharap orang paling bodoh didunia itu datang dan mengatakan bahwa ia masih mencintaku. Aku ingin ia datang agar aku tidak sia-sia menunggunya sejak 3 jam lalu. Aku ingin ia datang dan merasakan pelukannya sekali lagi.

Aku merindukannya. Sangat. Orang bodoh itu, bagaimana kabarnya? Apa dia juga merindukanku? Apa dia juga tengah menatap badai dan memikirkanku? Atau ia sudah melupakanku?
 
Hari ini, aku menunggunya lagi. Entah sudah berapa puluh pesan yang ku kirimkan padanya. Entah sudah berapa kali aku mencoba meneleponnya. Sejak hari itu, aku menyadari bahwa yang sebenarnya pantas dikatakan sebagai orang paling bodoh adalah aku. Sejak hari itu, aku sadar bahwa tidak seharusnya aku melepaskannya, tidak seharusnya aku berbalik dan melangkah meninggalkannya. Aku yang dulu begitu naif dan bodoh, yang berpikir bahwa hubungan kami tidak akan pernah berhasil. Aku yang terlalu pengecut untuk memulai kembali kisah asmara, yang menyia-nyiakan pria berambut hijau itu. aku yang bodoh.

Alunan lembut musik yang berasal dari speaker disudut ruangan begitu kontras dengan gemuruh badai diluarsana. Sekali lagi aku menatap keluar jendela, tapi sama saja.  Tak ada seorangpun yang berdiri disana, dia tidak ada disana, dan sepertinya tidak akan pernah datang. Aku tidak akan pernah melihatnya lagi berdiri disebrang sana dengan rambut hijau dan mantel  navynya. Hatiku sesak, aku tidak mampu lagi berpura-pura kuat. Biarkan! Mengalirlah! Mengalirlah sesuka hati! aku sudah lelah menahan tangis.

“kau tak apa?” lalu aku mendengar sebuah suara. Suaranya? Yah sepertinya itu suara miliknya. Tapi apakah benar dia ada disampingku sekarang? Aku memejamkan mata dan membiarkan wajahku tenggelam dalam kedua lenganku yang  terlipat diatas meja. Mungkin aku hanya berhalusinasi.

“hei, kau tak apa?”

Aku mendengarnya lagi, dan kini aku merasakan seseorang menyentuh pundakku. Aku tidak sedang berhalusinasi. Dia ada disini sekarang. Disampingku. Aku mengangkat wajahku dengan cepat dan bersiap berhambur kepelukannya, namun ternyata aku harus menahan pelukanku. Itu bukan dia. Bukan pria yang sedang aku tunggu.

“kenapa kau menangis nona?”

Ternyata dia salah satu pegawai cafe. Wajahnya tampak heran melihat keadaanku. Aku memaksa tersenyum dan menggeleng pelan.

“aku tak apa” suaraku terdengar agak serak, lalu aku berdehem dan mengulangnya agar terdengar lebih jelas. “aku tak apa”

Pegawai itu terdiam, ia mengamatiku sebentar lalu menyerahkan beberapa lembar tissu padaku. Aku menerimanya sambil berterimakasih.

“badai masih berlangsung, sebaiknya anda menunggu disini”

“iya, tentu”

“apa kau butuh susatu? Mau tambah kopi?” aku tau ia tidak bermaksud apa-apa, ia hanya ingin membuatku merasa nyaman ditempat ini. lalu aku menggeleng.

“tidak, terimakasih”

Pegawai itu mengangguk mengerti dan melangkah pergi. Ah, aku mungkin sudah gila.. bagaimana mungkin aku mengira pegawai itu adalah dia. Apakah ini karena aku terlalu merindukannya? Tidak ada jawaban yang cocok untuk itu. kembali, tatapanku jatuh keluar jendela. Badai sepertinya masih enggan meninggal kota kecil ini. malah terlihat semakin ganas saja. Lampu-lampu digedung seberang jalan sudah mulai dinyalakan. Aku melirik jam tangan, ternyata sudah pukul 6 petang. Rupanya aku sudah disini selama hampir 4 jam, sebuah rekor baru.

Lalu lagu itu mulai mengalun lembut, meski diluar sana badai salju tengah meraung tapi lagu itu terdengar jelas ditelingaku. Lagu yang kini semakin mengingatkanku padamu. Sial! Benar-benar waktu yang pas, aku semakin merindukanmu ,bodoh!

I can’t believe it’s over

Yah, aku masih tidak percaya bahwa kita tidak lagi bersama.

I watched the whole thing fall

Benar, kau benar! Seolah semua dihadapanku tak lagi berarti. Hampa, hancur!

and i never saw the writing that was on the wall

Dan aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi.

Oh! Lagu ini seolah menamparku dengan keras. Well done Michael Buble! Lagumu sungguh ampuh mengorek kembali kenanganku bersamanya. Lagumu kini menjadi tiket masuk bagiku untuk terjatuh dalam lubang besar yang penuh dengan memori tentang dia. Waktu seolah berputar kebeberapa bulan lalu. Ketika penyesalan dan kehilangan menggerogoti hatiku. Membuatku terperangkap dalam rasa sakit yang tak tau harus ku apakan. Yang membuatku setiap hari datang ke tempat ini untuk menunggumu. Yang membuatku berharap kau akan datang dan aku bisa mengatakan bahwa aku salah, aku bodoh, dan aku mohon agar kau memaafkanku. Hari dimana aku sadar, bahwa aku benar-benar menyesal menyuruhmu pergi.

***

“ini tidak akan berhasil!” aku berteriak tepat didepan wajah Suga dengan nafas memburu. Tubuhku gemetar menahan gejolak emosi yang memuncah. Tatapanku agak kabur karena air mata yang sejak tadi mengalir. Suga sendiri hanya diam dan menatapku dengan ekspresi yang tak bisa aku artikan. Rambutnya yang dicat warna hijau muda sedikit basah terkena lelehan salju yang turun. Matanya berkaca-kaca.

“aku minta maaf” suaraku kini berubah layaknya bisikan. Emosiku turun dengan cepat ketika aku melihat air mata pertama jatuh membasahi pipinya. Disaat yang bersamaan aku merasa menjadi gadis brengsek yang tega menghancurkan hati seorang pria sebaik Suga, dan seorang gadis lemah yang tidak ingin lagi jatuh pada lubang yang sama. Aku terlalu takut untuk mengakui bahwa aku memiliki perasaan yang sama pada Suga. Aku terlalu pengecut untuk mengatakan bahwa aku mencintainya dan ingin menerima lamarannya saat ini juga. Aku terlalu takut.

“kau menghancurkan segalanya” suaraku terdengar begitu pelan. Mataku tak lagi mampu menatap wajah Suga. Aku merasa bersalah tapi tak mampu melakukan apa-apa.

“kau hanya perlu percaya padaku” Suga berkata dengan nada memelas. Sejenak aku berpikir bahwa benar, mungkin aku hanya perlu mempercayainya, mungkin sudah saatnya aku menerimanya. Tapi seketika pikiran itu buyar dan digantikan perasaan takut yang tak ingin aku rasakan lagi.

Suga baru saja melemarku. Ia mengatakan bahwa ia mencintaiku dan ingin menjadikanku sebagai istrinya. Ia berlutut dengan satu kaki dan mengeluarkan kotak cincin tepat dihadapanku. Ia lalu membukanya dan sebuah cincin berawarna perak terpajang indah. Hatiku rasanya mencelos melihat Suga melakukan itu. bukannya senang atau terharuh, aku malah berdiri mematung layaknya orang idiot yang tidak bisa berkata apapun.

“aku mencintaimu, mungkin kita belum berpacaran terlalu lama. Namun entah mengapa, hatiku mengatakan bahwa kau adalah takdirku” suara Suga terdengar bergema ditelingaku. Aku kehilangan kata-kata.

“jadi, aku mohon.. menikahlah denganku”

Oh! Jantungku rasaya ingin copot ketika kata-kata itu keluar dari mulut pria yang telah menjadi kekasihku selama 6 bulan ini. pria yang bertemu denganku secara tidak sengaja dikerata bawah tanah yang penuh sesak saat jam pulang kerja. Lelaki yang menjagaku agar penumpang yang kebanyakan pria itu tidak mendorongku dengan kasar. Dia yang rela kakinya terinjak-injak hanya demi memberiku tempat yang aman. Dia yang sama sekali tidak mengenalku tapi rela melakukan hal itu. hal sederhana yang mampu membuat jantungku berdegup dua kali lebih kencang ketika tubuhku dan tubuhnya saling bersentuhan akibat dorongan beberapa penumpang. Lelaki yang menatap mataku dan memintaku menemaninya nonton keesokan harinya. Dan lelaki yang membuatku berkata “iya” tanpa pikir panjang saat itu juga.

Tidak! Aku tidak bisa!

Aku tidak bisa menerimanya. Aku pernah mengalami ini, dan Suga tau dengan jelas. aku pernah dicampakkan oleh mantan kekasiku. Dia memintaku untuk menikah dengannya, namun tak lama aku menemukannya berselingkuh dengan temanku sendiri diapartemennya. Aku tau, itu terdengar begitu klise. Tapi begitulah kenyataannya. Dia bermain api dibelakangku. Dia berselingkuh dan menghancukan hatiku.

“kau hanya perlu mempercayaiku”

Dia mengatakan hal yang sama ketika melamarku dulu. Pria brengsek itu juga mengatakan hal demikian. Tapi apa yang aku dapat? Rasa sakit hati dan trauma mendalam yang membuatku menjadi gadis aneh yang takut untuk dinikahi! Sialan! Dia mengubahku menjadi gadis gila!

“Amy?”

Suga melangkah mendekatiku. Aku yakin, dia tau apa yang tengah ku pikirkan. Aku tau, dia sadar bahwa ia telah mengorek trauma masa laluku. Suga mengulurkan tangannya hendak memelukku, tapi kakiku refleks melangkah mundur. Dia terkejut dan terpaku menatapku. Aku menggeleng pelan dengan air mata yang entah sejak kapan membanjiri pipiku.

“kau, mengapa kau melakukannya?” suaraku terdengar serak ditengah tangis yang tidak bisa lagi ku bendung. Aku tak tau mengapa aku menangis, tapi rasanya hatiku sakit. Amy, apa kau sadar bahwa dia tengah memintamu untuk menikah dengannya! Bukan putus dengannya! Apa aku benar-benar sudah gila?

“aku tau ini terlalu cepat, tapi aku ingin kau percaya padaku. Aku ingin kau menjadi milikku”

Bagaimana bisa Suga mengeluarkan kata-kata itu dengan mudah? bagaimana bisa ia begitu percaya bahwa aku adalah gadis yang tepat untuknya? Bagaimana bisa dirinya begitu yakin akan langkah yang ia ambil? Sementara aku? Aku sama sekali tidak bisa memikirkan apa-apa. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Rasa takut seolah mengurungku dalam ruang sempit yang gelap. aku takut, terlalu takut.

Jadi aku memutuskan untuk berbalik dan pergi. Aku tidak menjawab lamaran Suga dan pergi begitu saja. Aku berlari meninggalkannya sediri, ia mengejarku tapi aku berlari memasuki mobil dan langsung pergi. Aku meninggalkannya di taman itu sembari masih menggenggam cincin perak itu. Suga menatapku dengan tatapan nanar dan kecewa. Hari itu, aku menorehkan luka dihatinya yang murni. Aku menyakitinya dan menghancurkannya. Menghancurkan diriku.

Selanjutnya aku mengurung diri di dalam kamar. Aku tidak keluar bahkan untuk makan. Ibuku memandanganku dengan wajah prihatin tiap kali masuk kamar dan meletakkan makanan. Aku meringkuk dibalik selimut tebalku. Menyembunyikan diriku dari dunia yang sama sekali tidak bisa ku mengerti. Bersembunyi dari kenyataan bahwa aku bukanlah diriku yang dulu. Aku hanya seorang wanita pengecut, kejam dan tidak berperasaan, yang tega menghancurkan hati seorang kekasih yang begitu mencintainya.

Dering telepon berbunyi, entah untuk keberapa puluh kali. Aku tau itu dari siapa, aku tau apa maksud telepon itu. Aku merindukan Suga, aku ingin mendengar suaranya sekali lagi, tapi aku tidak bisa. Aku tidak pantas untuknya, dia begitu percaya padaku namun aku malah tidak percaya pada diriku sendiri. Alhasil aku hanya bisa memejamkan mata dan menangis, aku hancur karena masa lalu yang terus membayangiku.

Lalu ketika hari berganti dan perasaanku menjadi lebih stabil, aku menemukan Suga tak lagi menghubungiku. Ponselku tak lagi berdering seperti dulu. Aku mengecek ponsel dan menemukan banyak pesan dan email dari Suga. Aku membuka pesan itu dan menemukan sebaris kalimat sederhana yang mampu menohok hatiku.

“aku percaya padamu, tapi kau tidak. Aku mencintaimu dan hanya itu yang kau butuhkan”

Suga begitu mencintaiku. Suga begitu percaya padaku. Lalu pesan selanjutnya berbunyi

“aku menunggumu ditempat yang sama, tapi kau tak datang. Apa kau benar-benar tidak mempercayaiku?”

Oh damn! Aku tau bahwa jauh didalam lubuk hatiku, aku mempercayai Suga lebih dari apapun. Aku percaya tapi rasa takutku seolah membentuk tembok besar dan mengurungku. Lalu pesan terakhir darinya membuatku mati rasa, hatiku sakit dan penuh dengan penyesalan. Salahku memang, aku yang bodoh.

“aku percaya padamu Amy, tapi hari ini hatiku hancur dan kepercayaan itu mulai runtuh. Aku menyerah. Semoga suatu saat kau bisa mempercayai seseorang lagi”

Suga menyerah. Itu artinya dia bena-benar telah pergi. Saat itu rasanya aku ingin berlari sekencang kencangnya ke tempat ia menungguku dan mengatakan bahwa satu-satunya orang yang bisa ku percaya hanya dirinya. Aku ingin mengatakan bahwa dia tidak boleh menyerah padaku, meski itu sama saja dengan menjadikanku gadis paling egois didunia. Mengatakan kalau aku begitu mencintainya dan, yah.. yah! Aku ingin menikah dengannya!

Tapi aku berakhir dengan jatuh terduduk dilantai kamarku sambil menangis sesenggukan. Aku menangis layaknya anak kecil yang kehilangan ibunya, aku menangis lebih keras dari pada saat mantan kekasihku yang brengsek itu mencampakkanku. Aku menangis hingga ibuku berlari memasuki kamarku lalu menarikku dalam dekapannya. Aku menjadi gadis kecilnya lagi, aku menjadi gadis yang tak berdaya.

***

Setahun berlalu sejak kejadian itu, empat musim terlah berganti dan kali ini salju kembali datang mengisi bulan Desember. Empat musim telah berlalu dan aku masih setia menunggunya hingga hari ini.  sejak hari dimana Suga mengatakan bahwa ia menyerah padaku, hatiku seketika menyadari betapa aku tak ingin kehilangannya. Aku menghubunginya setiap hari, meneleponnya, mengiriminya pesan bahwan mendatangi rumahnya. Namun aku tak bisa menemukan Suga. Ia tak menjawab telepon atau membalas pesan, bahkan ia tak lagi tinggal diapartemennya. ia telah pergi.

Penyesalan yang begitu dalam kini memenuhi relung hatiku. Setiap hari aku datang di cafe tempat kami sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Aku menunggunya dan berharap ia akan berdiri diseberang jalan sambil melambai padaku. Tapi hingga detik ini, Suga tak pernah muncul.

Aku melirik jam dinding yang tepasang didekat speaker, ternyata sudah pukul 8 malam. Sudah hampir 5 jam aku menunggunya disini. Badai diluar sana tampak sudah reda meski salju masih turun agak lebat. Lagu milik Michael Buble kini telah berganti dengan alunan lembut dari alat musik biola. Aku mendesah dan menatap cangkir kopi di hadapanku. Espresso Macchiato milikku masih tersisa setengah gelas, tapi aku sudah tidak berselera meneguk kopi yang telah dingin itu.

Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku harus pulang dan segera berkemas. Malam ini aku akan terbang ke London. Aku dipindah tugaskan oleh perusahaan dan  tidak punya pilihan selian menerimanya. Sebenarnya bisa saja aku menolak, tapi ini satu-satunya kesempatanku untuk menyelamatkan hidup adik perempuanku yang buta. Aku harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan biaya operasi dan donor mata miliknya. Aku tidak bisa melihatnya menangis setiap hari sambil mengutuk hidupnya. Jika saja bukan karena Suga, mungkin aku tidak akan begitu berat meninggalkan kota ini.

Desahan nafas berat terdengar dari mulutku ketika beranjak dari tempat duduk. Aku melangkah pelan menuju kasir untuk membayar kopi dan cemilan yang tadi ku pesan.

“salju masih turun diluar sana, apa nona tidak ingin menunggu lebih lama lagi?” pelayan pria yang tadi mendatangiku berkata dengan nada bersahabat. Aku hanya tersenyum dan menggeleng.

“kalau begitu apa nona ingin meminjam payung kami? Sepertinya anda tidak membawa payung. Nona bisa mengembalikannya jika datang lagi besok”

Aku terdiam.

Mengembalikannya besok?

Tapi aku tidak akan ada disini lagi besok atau hari selanjutnya. Aku akan meninggalkan kota ini dan tak tau kapan tepatnya aku kembali.

“tidak, terima kasih. Mungkin aku tidak akan kesini besok, aku akan rindu dengan Espresso Macchiato buatanmu. Kau sangat baik” jawabku. Pelayan itu mengangkat alisnya bingung, namun tidak lama kemudian ia kembali tersenyum hangat dan mengangguk. selanjutnya dia menyerahkan bon yang harus aku bayar. Lalu ketika selesai membayar dan hendak keluar, pelayan pria itu berkata

“apa nona baru saja mengucapkan salam perpisahan?”

Ah, aku baru menyadari bahwa kata-kata ku barusan memang terdengar seperti salam perpisahan. “hm, seperti itulah”

Pelayan itu diam sejenak lalu melanjutkan

“apa nona sudah menyerah menunggunya?”

Menyerah? Entahlah. Tapi bagaimana ia bisa tau kalau aku datang ke tempat ini setiap hari hanya untuk menunggu seseorang?. “ada sesuatu yang membuatku harus pergi. Bukan karena aku telah menyerah menunggunya. Jujur saja bahkan jika harus menunggu hingga empat musim lagi, aku akan rela”

“lalu jika boleh aku tau, siapa pria yang sedang nona tunggu?”

Aku terdiam. Haruskah aku memberitahunya? Hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Aku menatap wajahnya yang bersahabat. Jika diingat-ingat, selama ini dia yang selalu membawakan pesananku. Segelas Espresso Macchiato dan beberapa buah macaron, aku selalu memesan itu.  aku mengakui bahwa kopi buatannya terasa pas dimulutku. Dia juga sering memutar lagu-lagu yang entah bagaimana merupakan lagu favorit ku.

“siapa namamu?” tanyaku penasaran.

“nona bisa memanggilku Jin” ia memegang tanda pengenal yang terpasang didadan kanannya. Aku juga baru menyadari hal itu. rasanya sedikit malu menyadari betapa terlambatnya aku menanyakan namanya.

“terimakasih Jin, kau baik sekali” Pelayan itu tersenyum lagi. Aku balas tersenyum sambil memperbaiki letak syalku. “namanya Suga. Pria yang aku tunggu selama ini bernama Suga. Dia pria yang aku cintai. Seorang pria dengan rambut berwarna hijau muda”

Kemudian tanpa menunggu balasan darinya aku segera melangkah keluar. Langsung saja aku disambut dengan hembusan angin musim salju yang dingin. Aku sedikit gemetar karena suhu yang begitu berbeda ketika masih di dalam cafe. Lalu aku menengadah, langit gelap terhampar luas tanpa cahaya. Hanya butiran-butiran kecil salju yang turun hingga mengenai wajahku. kemudian aku beralih menatap jalanan sekitar. begitu sepi dan tenang. Hanya ada satu dua orang yang berjalan menyusuri trotoar dengan langkah cepat. Tiba-tiba saja, aku merasa menjadi orang yang paling kesepian di dunia ini.

Kembali, aku menangis. Rasanya tenggorokanku jadi sakit tiap kali aku mencoba menahan tangisku. Oleh karena itu, didepan cafe yang setiap hari ku datangi aku mengeluarkan semuanya. Aku menangis sesenggukan, toh tidak ada seorangpun yang memperhatikan. Namun meski marasa begitu sedih, ada perasaan lain yang menguap seiring tangisku yang pecah. Perasaan yang membuatku bisa mengontrol tangisku. Aku tidak lagi menangis seperti saat aku menerima pesan terakhir dari Suga. Tidak, tidak  begitu. Perasaan lega itu muncul entah dari mana. Perasaan yang membuatku berpikir bahwa, sudah saatnya aku menyerahkan semuanya pada Tuhan. Aku tidak perlu lagi memaksa diriku atau bahkan dunia sekelilingku untuk kembali pada masa lalu.

Dan aku memilih melangkahkan kakiku menuju rumah. Aku ingin pulang dan memeluk mereka yang tengah menungguku dengan cemas. Aku ingin merasakan kehangatan ibu dan adikku. Dua orang yang tidak akan pernah menyerah untukku. Tapi ini bukan berarti aku menyerah untuk Suga. Sama sekali tidak. Aku akan tetap menunggunya. Meski tidak lagi duduk dicafe itu.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 11 ketika pintu tiba-tiba terbuka. Aku yang tengah sibuk membersihkan meja sedikit terperanjat oleh bunyi lonceng yang nyaring.

“siapa sih yang datang jam segini? Sebentar lagi kan cafe ini tutup” aku menggerutu. Bos dan yang lainnya sudah pulang sejak 15 menit yang lalu. Tinggal aku seorang diri yang harus berjibaku dengan meja-meja dan daftar persediaan bahan makanan. Mengapa juga aku harus mendapat giliran dimalam bersalju seperti ini. Aku seharusnya sudah sampai di rumah dan meringkuk dibalik selimut hangat.

“permisi apa ada orang?”

Aku medengar suara dari pelanggan tersebut. sepertinya ia tidak melihatku yang tengah menyusun meja tak jauh dari posisinya berdiri. aku kemudian melangkah mendekatinya dengan masih memegang serbet.

“maaf tapi cafe akan segera tutup” ucapku setelah berdiri tepat dihapannya. Aku mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala. Aku berusaha melakukannya senormal mungkin agar ia tidak tersinggung. Pria dihadapanku ini seperti baru saja berlari dari tempat yang jauh, ia berusaha mengatur nafasnya secara perlahan.

“aku, aku mencari seseorang” ucapnya agak terbata.

Ha? Mencari seseorang? Lalu apa hubungannya orang yang tengah ia cari dengan cafe tempatku bekerja? atau bisa saja ia adalah temannya bos?

“apa yang kau maksud manager disini? Tapi, dia sudah..”

“bukan, bukan manager tapi seorang gadis”

Pria dihadapanku memotong ucapanku dengan terburu-buru. Seorang gadis katanya? Aku semakin tidak mengerti. Lalu aku baru menyadarinya, pria dengan rambut berwarna hijau! Yah tidak salah lagi. Pria dengan rambut berwarna hijau dihadapakku adalah pria yang dimaksud oleh nona yang sejak tadi menunggu.

“dia sudah pergi” ucapku. Entah kenapa nada suaraku terdengar begitu dingin. Tiba-tiba saja aku merasa jengkel melihat pria dihadapanku itu. Mengapa ia baru datang sekarang?! Mengapa tidak sejak tadi?! Mengapa ia membiarkan gadis itu menunggunya sejak berjam-jam lalu?! Tidak! Mengapa ia membiarkan gadis yang begitu mencintainya itu rela menunggu hingga setahun lebih?!

“dia sudah pergi dan sepertinya dia tidak akan datang lagi besok” aku sudah berusaha mengubah nada bicaraku, tapi tetap saja terdengar begitu dingin. Aku menggenggam serbet ditanganku secara berlebihan. Memang ini bukanlah urusanku, namun rasanya pria ini harus mendapat pelajaran dari apa yang telah ia lakukan.

“mengapa kau baru datang sekarang?” tanyaku. Lalu aku melihat pria itu mengangkat wajahnya. Ia menatapku dengan eskpresi datar, tapi walaupun begitu aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. Mantelnya sedikit basah entah karena salju atau karena keringat.

“apa dia sudah lama menungguku?” suaranya terdengar sedikit serak mencoba menahan tangis. Ia menatap wajahku sejenak lalu beralih ke tanda pengenalku. “apa dia sudah sejak lama menungguku.. Jin?”

Aku mengangguk. Kemudian aku menyaksikannya menangis, pria dengan rambut hijau itu terduduk lesu dilantai cafe sambil berderai air mata. Aku terpana, baru kali ini aku melihat seorang pria menangis seperti itu. Ia tidak bersuara, tapi tangisnya terdengar begitu dalam dan menyayat hati. Ia menangis seolah baru saja ditinggal mati oleh orang yang sangat berharga dihidupnya.

Aku memang tidak mengerti apa yang terjadi diantara mereka. Namun satu yang ku ketahui, mereka saling mencintai. Gadis yang rela menunggu hingga setahun lamanya, dan pria berambut hijau yang tengah menangis dilantai cafe, mereka saling merindukan satu sama lain. Mereka tengah dipermainkan oleh nasib, mereka tengah tenggelam dalam lautan penyesalan yang dalam. Malam ini, dengan salju yang masih turun diluar sana aku menyaksikan sisi lain dari cinta. Begitu menyakitkan, begitu menyiksa.


The end.


  

Kamis, 12 Maret 2015

Down To Earth (Infinite's Fanfiction)


Tittle : Down To Earth 
Cast : 
  • Lee Sungyeol 'INFINITE'
  • Jeong Ye In 'LOVELYZ'
Other Cast : Infinite Members
Genre : Fiksi, romance
Leght :  Chaptered
Author : Di
Cover by : [Genevra Design]



Chapter 1: Hukuman Percobaan


Ketika seorang malaikat dianggap telah menyalahi kodratnya sebagai golongan makhluk yang suci, maka tidak lama lagi ia akan segera dijatuhi hukuman. Seorang malaikat jika ketahuan tidak menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang ada, maka segeralah ia dihadapkan oleh peradilan tertinggi para malaikat. Ia akan duduk didepan semua malaikat yang dianggap memiliki kedudukan tertinggi dan segera diadili. Malaikat itu akan segera mengetahui hukuman yang akan diberikan padanya, apakah hukuman percobaan atau hukuman kekal.

Sejak dulu sistem ini telah menjadi aturan mutlak di dunia para malaikat. Mereka yang dianggap tak mampu mengontrol hawa nafsunya akan segera di buang ke Bumi. Apakah mereka menjalani hukuman percobaan, yaitu menjalani kehidupan manusia bumi selama beberapa bulan dan bila waktunya habis bisa kembali kedunia para malaikat. Atau hukuman kekal, yang artinya mereka sepenuhnya berubah menjadi manusia dan menghabiskan sisa umur mereka di bumi. Mereka yang dijatuhi hukuman kekal sebelum dijatuhkan ke bumi sebelumnya harus menjalani proses dimana sayap mereka di potong, dan semua kekuatan mereka dihilangkan. Dan yang tersisa hanya tubuh lemah tak berdaya, dengan semua ketamakan serta hawa nafsu yang menjadi sifat dasar para manusia.

Mengapa malaikat menganggap manusia sebagai simbol dari penghukuman. Alasannya, karena manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki tempat lebih tinggi di sisi Tuhan. Namun karena kesalahan yang mereka buat ketika masih berada di surga, membuat Tuhan menurunkan derajat mereka dan membuang mereka di tempat yang bernama bumi. Kalian tentu pernah dengar tentang sepasang manusia pertama yang memakan buah larangan dari Tuhan. Akibat dari hawa nafsu mereka serta sifat lemah yang gampang di hasut oleh setan, mereka akhirnya terpedaya dan memakan buah itu, lalu berakhirlah mereka di bumi hingga saat ini. Oleh karena itulah, malaikat yang dianggap tak mampu menahan godaan akan disejajarkan dengan manusia bumi, di buang ke bumi sebagai penghukuman atas kesalahan mereka.

Sudah banyak dari malaikat yang dibuang ke bumi. Ada yang sadar dan di kembalikan ke langit, namun tak sedikit pula yang bernasib sial hingga menjadi manusia sepenuhnya. Menjalani hidup sebagai manusia, merasakan apa yang namanya perasaan sakit, lelah, putus asa, hingga kematian. Tapi, dibalik semua itu ada satu perasaan yang benar-benar mampu membuat para malaikat iri. Perasaan yang mampu membuat banyak dari malaikat yang dibuang ke bumi malah ingin menjadi manusia sepenuhnya. Perasaan yang tak di miliki para malaikat. Perasaan yang begitu murni dan suci yang berasal dari hati para manusia. Perasaan yang bernama cinta.

***

Sejak diciptakan dari serpihan cahaya bintang sirius 500.000 tahun lalu, Lee Sungyeol malaikat yang tergolong masih muda itu telah manaruh hasrat tentang dunia para manusia. Entah apa yang membuatnya begitu tertarik tentang makhluk tak kekal yang memiliki bentuk fisik hampir mirip dengan kaumnya itu. Namun yang pasti, sejak kejadian tak terduga subuh itu, membuatnya semakin menaruh keingintahuan besar terhadap manusia.

Sungyeol masih ingat ketika ia ditugaskan untuk menemui seorang pria paruh bayah yang terbaring lemah disebuah ranjang rumah sakit. Subuh itu, Ia datang untuk memberi tahu bahwa sudah saatnya pria itu kembali ke tempat asalnya, keribahan Tuhan. Yah, Sungyeol adalah malaikat yang ditugaskan untuk menjemput mereka yang telah mencapai batas akhir kehidupan di bumi. Atau yang lebih sering kita dengar sebagai malaikat kematian. Terkadang Sungyeol bingun dengan julukan yang diterima malaikat sejenisnya. Menurutnya julukan itu salah besar, Tuhan lah yang menciptakan kematian sebagaimana Ia menciptakan kehidupan. Ia hanya perantara, menjemput roh seseorang yang akan terpisah dengan jasadnya. Jadi tidak benar jika ia disebuat malaikat kematian. Mungkin julukan yang tepat baginya adalah, malaikat penjemput. Itu terdengar lebih masuk akal.Setidaknya itu yang ia pikirkan.

Subuh itu, saat ia tengah berdiri dihadapan pria paruh bayah yang terbaring tak berdaya tersebut. Tiba-tiba saja ia mendengar suara isakan seorang gadis. Sungyeol memang bukan baru pertama kali mendengar suara tangisan. Jujur saja, hampir setiap kali mendatangi mereka yang akan ‘pulang’ ia akan selalu mendengar suara tangisan. Dan Sungyeol sudah mengerti bahwa itu bentuk perasaan lain dari manusia, perasaan yang dinamakan kesedihan. Biasanya orang-orang terdekat yang dinamakan keluarga, akan menangis disaat detik-detik terakhir ia memanggil roh seseorang agar keluar dari jasadnya. Dan itu tak mengganggunya sama sekali.

Namun, entah mengapa suara tangisan kali ini terdengar berbeda. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba membuat Sungyeol merasa perlu untuk mencari tahu. Ia melangkah pelan menuju sebuah ruangan yang agak redup. Ruangan itu hanya dibatasi oleh sebuah rak buku panjang dan besar. Saat itu, Sungyeol bisa melihat seorang wanita tengah bersimpuh didepan dinding yang disitu terdapat patung Tuhan. Sungyeol bisa melihat kedua tangan gadis itu terkepal satu sama lain. Dan hal selanjutnya yang dapat ia lihat adalah, di wajah gadis itu tampak bulir-bulir air mata yang mengalir di pipinya.

Sungyeol bisa mendengar suara lirih gadis muda itu. Disela-sela isakannya, terdengar rapalan doa yang ia tujukan pada Tuhan.

“Tuhan, tolong selamatkan ayahku”

“Tuhan, aku mohon. Aku mohon padaMu, jangan ambil dia. Dia satu-satunya keluargaku. Dia satu-satunya orang yang aku cintai. Tuhan, belum cukupkah Engkau mengambil ibuku?”

“Tuhan, aku mohon. Aku belum siap berpisah dengannya. Aku tak ingin menjadi anak yatim piatu”

“aku tak ingin. Aku mencintai ayahku..hiks”

Pada saat itu, Sungyeol merasa ada yang aneh pada dirinya. Ia merasa, ada perasaan berbeda yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya dadanya sulit untuk bernafas, berat dan terasa sakit. Apa ini? Sungyeol tak mengerti apa yang terjadi. Ingin rasanya ia mengelus puncak kepala gadis itu. Mendengar doanya barusan, membuatnya berat untuk melangkah kembali menuju ruangan tempat pria paruh bayah yang ternyata ayah gadis itu .
Namun, waktunya tak banyak lagi. Dengan terpaksa ia melangkah keruangan sebelah. Ditatapnya wajah pria yang terbaring lemah didepannya. Lalu..

“bangaunlah, sudah waktunya kau pulang” suara Sungyeol terdengar lebih pelan dari biasanya.

Tak lama, segaris cahaya keluar dari tubuh didepannya. Itulah roh pria tua itu. Seiring dengan keluarnya cahaya putih keemasan itu, terdengar bunyi nyaring kecil dari sebuah alat yang terletak disamping ranjang si pria. Alat yang sejak tadi menunjukkan garis-garis bergelombang yang tak beraturan itu kini telah berubah menjadi garis lurus. Pria paruh baya itu telah meninggal.

Sejenak Sungyeol mengamati wajah roh yang berdiri dihadapannya. Bercahaya. Ia tampak damai dengan senyum kecil dibibirnya. Roh itu balas menatap Sungyeol, ia sedikit mengangguk. Ia telah siap untuk kembali ke asalnya, akhirat. Tak lama terdengar langkah cepat dari belakang. Ternyata langkah itu milik gadis muda tadi, wajahnya terlihat pias. Dengan cepat ia mendekati ranjang sang ayah, tatapannya nanar saat mendapati alat yang berbunyi nyaring tadi menampakkan garis lurus tampa gelombang. Sontak saja ia menjerit, menangis dengan suara yang cukup keras. Dipeluknya sang ayah yang sudah tak bernyawa.

“ayahh....!”

Suara jeritannya memecah keheningan subuh itu.

Sungyeol terpaku melihat pemandanga didepannya. Memang bukan yang pertama kalinya, sungguh! Ia bahkan sudah menganggap hal ini biasa. Namun entah karena apa, kali ini ia merasa berbeda. Didepannya roh dari ayah gadis itu berjalan mendekati putrinya yang masih menangis sambil memeluk jasadnya. Ia mengelus puncak kepala gadis itu, untuk terakhir kalinya sebelum roh itu memudar dan pergi untuk selama-lamanya. Gadis itu tak merasakannya. Ia hanya terus saja memanggil ayahnya yang sudah tak bernyawa.

Melihat wajah sedih gadis didepannya membuat Sungyeol berat untuk pergi. Ditatapnya lekat wajah sang gadis, ia seolah bisa merasakan kesedihannya. Sungyeol merasa bersalah. Yah, mungkin ini yang membuatnya berat untuk pergi. Hingga tanpa di duga, gadis itu berjalan kearahnya. Sungyeol hampir saja bersentuhan dengan gadis itu jika saja ia tidak mundur selangkah. Untuk sepersekian detik Sungyeol merasa, mereka saling bertatapan satu sama lain. Sungyeol dengan jelas bisa menatap manik mata yang penuh kesedihan itu. Apakah gadis itu sadar akan kehadiran Sungyeol?

tapi ternyata gadis itu malah mendekati dinding dibelakang Sungyeol. Sebuah tombol yang terpasang didinding itu ia pencet dengan tergesa-gesa. Gadis itu terus saja memencet tombol yang berada tepat diatas kepala sang ayah. tak lama beberapa orang berbaju putih berjalan masuk. Gadis itu menghampiri salah satu diantaranya, ia menarik-narik bajunya sembari terus terisak.

“ayahku..”

“tolong ayahku..”

Itu yang Sungyeol dengar. Sungyeol semakin merasa bersalah. Diantara banyaknya kasus yang ditugaskan padanya, entah mengapa kali inilah yang ia rasa paling berat. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul didalam dirinya. Perasaan sedih, bersalah, serta satu lagi, perasaan ingin memeluk tubuh rapuh gadis itu. Apa nama perasaan ini? Apakah ini yang namanya cinta? Entahlah...

***

Seminggu sudah sejak kejadian hari itu, Sungyeol diam-diam memiliki kegiatan baru. Setiap malam, ketika dirinya sedang tak bertugas ia akan turun ke bumi. Ia akan mengintip dari balik awan yang bergantung rendah dilangit dan mengamati sesosok manusia. Yah, siapa lagi kalau bukan gadis itu. Gadis yang telah membuatnya merasakan 3 jenis perasaan aneh yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.Yang membuatnya selalu mengingat wajah sedih gadis itu. Yang membuatnya terus teringat akan rapalan doa gadis itu. Ini aneh, benar-benar aneh!

Dan malam ini, setelah ia baru saja menjemput roh seorang ibu yang melahirkan Sungyeol segera pergi. Malaikat dengan paras tampan itu terbang rendah hingga langit pertama dan segera menuju tempat gadis itu. Sayapnya yang menawan terbuka lebar lalu menukik dan bersembunyi dibalik awan. Dari situ, ia bisa melihat gadis berwajah sendu tersebut. Gadis itu tengah bertopang dagu dikusen jendala kamarnya, menatap hamparan langit malam yang penuh bintang.

Sungyeol memang malaikat yang berbeda. Ia seolah sudah hapal tempat-tempat persembunyian yang aman dari penglihatan manusia tiap kali dirinya turun ke bumi. Alasannya, karena sejak dulu malaikat yang satu ini suka sekali terbang ke bumi dan mengamati keindahan alam ciptaan Tuhan. Ia selalu suka menghabiskan malam dengan berbaring dihamparan awan sembari menatap bulan serta bintang sirius, bintang yang menjadi sebagian dari dirinya. Dan tempat favoritnya adalah, awan comolunimbus yang berada tepat ditengah samudra fasifik. Dari situ ia bisa mendengar suara paling merdu di bumi, suara laut. Dari situ pula ia bisa meraskan sejuknya angin melewati setiap lembar bulu disayapnya. Sejatinya, ia benar-benar takjup dengan bumi dan segela isinya.

Namun malam ini, ada yang lebih menakjupkan baginya ketimbang suara laut serta hembusan angin samudra pasifik. Gadis itu. Gadis itu seolah menyedot semua perhatiannya. Setiap kali menatap wajah sendu itu, Sungyeol bisa merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Terlebih saat mata coklat yang indah itu mengalirkan bulir air mata, Sungyeol merasakan dirinya ingin terbang lebih rendah dan segera menarik tubuh gadis itu kedalam dekapannya. Dada Sungyeol merasa sesak tiap kali gadis itu menangis.

Oh Gadis berwajah sendu, siapakah gerangan dirimu?
Engkau jelas bukan dari kelangan bidadari,namun pesonamu lebih dari pada mereka.
Oh Gadis berwajah sendu, telah kau apakan diriku ini?
Bahkan hanya melihat wajahmu saja, diriku lupa siapa diriku sebenarnya.

***

Baiklah, ini sudah kali ke 3 Sungyeol mendapat teguran. Yang berarti sudah saatnya ia duduk dikursi peradilan malaikat. Sudah cukup kesalahan yang ia lakukan untuk membuatnya duduk dikusi pesakitan kaumnya sendiri. Kini ia sudah dihadapkan dengan semua malaikat-malaikat yang dianggap memiliki kedudukan tertinggi. Salah satunya, malaikat bernama Gabriel menatap Sungyeol dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Wajahnya yang penuh kharisma, sama sekali tak menunjukkan kalau ia telah hidup bahkan sebelum bumi diciptakan.

“Baiklah malaikat Sungyeol, silahkan duduk”

Terdengar suara berat Gabriel yang sontak membuat semua malaikat yang hadir pada persidangan itu terdiam. Sungyeol sendiri dengan wajah tenang menuruti perintah malaikat tersebut.

“beberapa kali lalai dalam menjalankan tugas, 2 kali absen dalam penugasan, dan beberapa kali kedapatan turun ke bumi dengan alasan yang tidak jelas. Serta terakhir kali terlihat dalam jarak yang sangat dekat dengan manusia diluar objek penugasan” terdengar suara seorang malaikat bernama Balem yang duduk disebelah malaikat Gabriel menguraikan semua kesalahan Sungyeol dalam beberapa minggu terakhir.

“ini sudah diluar batas toleransi Lee Sungyeol. Menurutmu apa yang sedang kau lakukan?” malaikat Gabriel berkata dengan tegas.

Sungyeol hanya bisa menunduk, namun raut wajahnya sama sekali tidak berubah. Ia sadar, ia sudah terlalu lalai belakangan ini. Tapi ia juga tidak bisa menahan dirinya. Entah mengapa, dirinya yang selalu mampu menahan godaan dan bersikap perfeksionis itu tiba-tiba saja berubah menjadi sosok malaikat yang sering mengabaikan tugas. Padahal ia adalah golongan malaikat yang memiliki tugas sangat krusial, yaitu mengurus tentang hidup dan mati seseorang. Ini semua karena satu alasan, gadis itu. Yah, gadis itulah yang sudah membuatnya seperti ini. Ada apa dengan dirinya?

“kami sudah sepakat untuk memberikan anda hukuman” suara berat Gabrial lagi-lagi terdengar. “anda kami kenai hukuman percobaan selama 3 bulan. Kami harap dengan hukuman ini, anda bisa kembali menjadi malaikat yang patuh”

Mendengar hukuman telah dijatuhkan, sayup-sayup terdengar suara kepakan sayap. Beberapa malaikat yang hadir saat itu telah pergi, meninggalkan tempat peradilan. Memang, kebanyakan dari mereka hanya datang untuk mendengarkan jenis hukuman apa yang akan diberikan. Dan mendengar hukuman percobaan telah ditetapkan, tak ada lagi urusan bagi mereka untuk menyaksikan lebih lanjut.

Sungyeol sendiri masih diam. Ia mengangkat kepalanya dan menatap malaikat Gabriel. Kini saatnya Sungyeol untuk menjalani masa hukumannya. Namun entahlah, apakah ia akan kembali menjadi malaikat yang patuh atau justru malah menjadi manusia selamanya. Ia tak yakin. Hukuman percobaan, artinya ia akan di turunkan ke bumi selama tiga bulan. Dan pada saat itu, ia malah akan semakin sering melihat gadis itu. Sungyeol tak tau, apakah ia harus sedih atau senang.

Malaikat dengan paras tampan itu kemudian berjalan menuju portal. Tempat dimana malaikat yang menjalani hukuman akan dibuang dan jatuh ke bumi. Tepat pada saat itu, setengah dari kekuatan malaikat mereka akan hilang, namun tidak dengan sayapnya. Sayap malaikat yang menjalani hukuman percobaan akan tetap ada, namun mereka dituntut untuk tidak menunjukkannya di depan umum. Begitulah mekanisme hukuman percobaan. Sejenak Sungyeol menengok kebelakang. Disana ia bisa melihat sesosok malaikat menatapnya dengan ekspersi datar. Nam Woohyun, malaikat yang bertugas mengatur mimpi. Malaikat yang dekat dengannya, temannya.

Sungyeol tau Woohyun kecewa pada dirinya. Woohyun sudah sering mengingatkan Sungyeol agar menjaga jarak dengan manusia. Namun, dia lengah dan akhirnya berakhir seperti ini.

“maafkan aku Nam Woohyun..”
Itulah kata-kata terakhir malaikat Sungyeol sebelum masuk kedalam portal.


***

Ye In menatap hamparan langit malam dari balik jendela kamarnya. Malam ini bulan tampak penuh meski terhalangan awan tipis yang berarak menuju ke utara. Gadis itu menghela nafas panjang. Lagi-lagi, ia teringat akan sang ayah. Sudah 1 bulan sejak kepergian ayahnya, tapi perasaan sakit itu masih membekas di hatinya. Ye In teringat wajah hangat ayahnya yang sangat ia cintai, kemudian wajah ibunya yang juga sangat ia cintai. Kini mereka berdua sudah tenang di alam sana, meinggalkan Ye In dalam duka yang tak tau kapan akan berakhir.

Setiap malam gadis itu selalu menatap langit. Melihat bintang-bintang yang berkelap kelip, sembari melantunkan doa. Doa untuk orang tuanya. Setiap malam, ia akan memejamkan mata dan berdoa pada Tuhan agar ayah dan ibunya tenang di sana. Ia ingin ketika ia beranjak tidur ia bisa bertemu dengan mereka, meski hanya dalam mimpi.

Seperti halnya malam ini, ketika dirinya baru saja selesai berdoa Ye In hendak beranjak ke tempat tidurnya. Tangannya sudah hampir menutup jendela saat matanya tiba-tiba menangkap sinar terang dilangit. Ye In memperhatikannya dengan seksama, dan semakin lama sinar itu semakin terang dan mendekat.

“bintang jatuh..” desah Ye In. Cepat cepat ia berlari keluar kamar dan menuruni tangga hingga ia sampai di halaman depan rumah. Bintang jatuh itu semakin bergerak dekat. Ye in yang malam itu mengenakan gaun tidur putih sebetis segera berlari tanpa alas kaki menuju bukit belakang rumahnya, tempat yang sepertinya akan dituju bintang jatuh itu.

Dan benar saja, ketika ia masih dikaki bukit Ye In tiba-tiba mendengar suara gemuruh mirip gempa bumi. Tanah yang dipijaknya sedikit bergetar. Sejenak ia berhenti berlari. Ia yakin, getaran dan suara gemuruh tadi berasal dari bintang jatuh itu. Tanpa pikir panjang ia kembali berlari menuju bukit yang tak seberapa tinggi itu. Ia menerobos semak belukar yang menghalangi, melompati pohon yang tumbang di depannya hingga sampai lah ia disebuah tanah datar yang ditengahnya tampak tanah cekung seperti kawah. Dari balik pohon ia masih bisa melihat kawah itu mengeluarkan asap dan debu.

Jantung Ye In berdetak lebih cepat, perlahan ia melangkah mendekati kawah itu. Ada perasaan takut yang tiba-tiba menyelimutinya,terlebih mengingat ia tengah berada di tengah hutan sendirian di malam hari dan hanya ditemani cahaya bulan yang redup. Tapi, rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia tak pernah melihat fenomena bintang jatuh sampai sedekat ini. Ia ingin melihat benda luar angkasa itu dari dekat, kalau perlu menyentuhnya.

Tapi, alangkah terkejutnya ia saat mendapati kawah didepannya itu kosong. Tak ada apa-apa di dalamnya. Ini mustahil, melihat ukuran kawah dan suara yang dihasilkan cukup besar seharusnya ada batu luar angkasa yang tergeletak di tengah kawah itu. Namun yang dilihat Ye In hanya kawah kosong yang sedikit retak, tanpa batu ataupun kerikil ditengahnya. Lalu jika benda itu habis tergerus atmosfe bumi, bagaimana kawah ini bisa terbentuk.

Gadis itu tak habis pikir, kemudian ia memberanikan diri melompat ke dalam kawah itu. Ia ingin memeriksanya lebih teliti. Tapi tetap saja, tidak ada apa-apa di dalam kawah ini.

“bagaimana bisa..” ucap Ye In bingung. Akhirnya, setelah lama tidak menemukan apapun ia memutuskan untuk naik kembali. Tetapi, matanya tiba-tiba menangkap sebuah benda kecil yang terselip disela-sela retakan tanah itu. Ye In berjongkok dan memungutnya.
“bulu..?”

Ya, di tangan Ye In kini terdapat sehelai bulu berarna putih yang cukup besar. Bulu itu seperti bulu angsan, tetapi ukurannya lebih besar.
“kenapa bisa ada bulu disini?”

Belum selesai keterkejutan atas benda yang ia temukan didalam kawah itu, tiba-tiba saja Ye In kembali dikejutkan dengan suara aneh yang muncul entah dari mana. Suara itu seperti suara benda yang diseret.

Sret.. srett...

Dan seketika, bulu roma Ye In berdiri. Entah mengapa suasan berubah menjadi mencekam. Gadis itu merasa ia sedang tidak sendirian. Perlahan ia menaiki bibir kawah hingga berhasil naik, dilihatnya ke sekeliling semak yang rimbun.

“siapa di sana..” suara gadis itu sedikit bergetar. Tidak ada jawaban. Tapi suara aneh itu masih jelas terdengar. Ye In menelan ludah dengan susah payah.

“si.. siapa di sana.?”

Ye In memutar pandangannya kesegala arah, tapi yang ia lihat hanya pohon-pohon yang berdiri kokoh dan juga semak belukar. Tak ada siapapun disana. Dan saat suara aneh itu terdengar semakin jelas. Ye In mengumpulkan keberaniannya untuk melangkah mundur. Ia ingin kembali kerumah, ia takut. Ia menggenggam erat bulu ditangannya, lalu kemudian berbalik. Dan....

“aaaahhhhhh...”

Gadis itu menjerit ketakutan saat didepannya berdiri sesosok tubuh. Tepat dihadapan gadis itu ia bisa melihat ada seseorang yang berjalan kearahnya. Ye In tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu karena terhalang oleh bayangan pepohonan serta akibat sinar bulan yang redup.

“si..siapa kau..?!” jelas sekali nada ketakutan dalam suara Ye In. Gadis itu berjalan mundur dan secepat kilat berlari menerobos orang tersebut. Tapi tiba-tiba langkahnya berhenti saat ia mendengar suara orang tersebut meminta tolong.

“to..tolong aku” meski terdengar lemah, tapi Ye In bisa mendengarnya dengan jelas. Gadis itu perlahan berbalik, dan tepat pada saat itu ia bisa melihat wajah orang tersebut. Wajah seorang pria yang begitu tampan, meski terdapat beberapa luka disana. Ye In kemudian berjalan mendekati pria tersebut. Ye In terkejut saat melihat kondisi pria yang mengenaskan itu. Baju yang dikenakan pria tersebut telihat sobek dibeberapa bagian, kening pria itu juga mengeluarkan darah.

“kau.. tak apa?” Ye In memberanikan diri menyentuh pundak si pria dan bertanya.
“tolong..aah” namun belum sempat pria itu menyelesaikan kata-katanya, ia sudah limbung dan mendarat tepat ditubuh Ye In. Karena gadis itu tak mampu menopang beban pria yang tiba-tiba pingsan kearahnya, Ye In akhirnya kehilangan keseimbangan.

“hwaa...”

Ye In memekik sebelum akhirnya mereka berdua jatuh kedalam kawah disamping mereka. Yang terakhir Ye In lihat adalah benda putih panjang yang tiba-tiba muncul dari balik punggung pria itu dan menyelimuti tubuhnya, setelah itu semuanya menjadi gelap.


to be continue..

Rabu, 04 Maret 2015

My Mistake (Fanfiction Lee Kiseop 'UKISS' & Lee Soo Jeong 'LOVELYZ')


Tittle               : My Mistake
Cast                : Lee Kiseop ‘Ukiss’, Lee Soo Jeong ‘Lovelyz’, Kevin ‘Ukiss’
Support cast  : Lee Sungyeol ‘Infinite’
Author            : Ddeokbokkie a.k.a Widi
Lenght            : one shoot
Genre              : sad, romance
Backsound     : Ukiss- Playground-
Cover by         : K.RSYeo ART



Kiseop masih bisa mengingat dengan jelas wangi citrus yang tercium tiap kali ia mengecup lembut puncak kepala Soo Jeong. Wangi yang begitu menyegarkan sekaligus menenangkan bagi Kiseop, membuatnya selalu ingin mendekap gadis itu dan tak ingin melepaskannya. Masih jelas dalam ingatan Kiseop tantang betapa indahnya senyum Soo Jeong dipagi hari saat ia membuka mata. Mendapati gadis itu menatapnya  dengan sebuah senyuman dan tanpa berkata-kata, membuat pagi Kiseop selalu hangat meski musim dingin masih enggan meninggalkan kota Seoul.

Hangat dan bahagia, setidaknya begitulah yang Kiseop rasakan beberapa tahun lalu sebelum badai itu datang dan merenggut semua kehangatan yang ia rasakan. Membawa serta Soo Jeong dan wangi citrusnya, membawa pargi gadis itu beserta senyumnya yang indah. Badai yang seharunya tak pernah datang jika saja Kiseop tidak dengan sengaja memanggilnya.

Dan sekarang di sinilah ia berada, di sebuah bar yang tak begitu ramai dengan hanya ada segelas bir yang setia menemaninya. Pria itu menatap lekat gelas kecil berisi cairan kuning kecoklatan itu. Menatap es batu yang semakin lama semakin kecil, meleleh seiring berjalannya waktu. Kiseop kemudian mendesah berat, merasakan dadanya sedikit sesak entah karena alasan apa.

“kau masih belum pulang dude?” suara seseorang membuyarkan lamunan Kiseop. Di depannya telah berdiri Soohyun, bartender sekaligus temannya. Soohyun menatap Kiseop dengan ekspresi prihatin. “masih belum bisa melupakannya, huh?” Soohyun maju selangkah dan meletakkan gelas serta serbet ditangannya.

Kiseop tak menjawab dan masih setia menatap gelas bir didepannya. Bibirnya sedikit terangkat, membuat segaris senyum tipis. Senyum tanda mengiyakan. Melupakan huh? Entahlah, Kiseop bahkan tak ingat lagi dengan kata-kata itu. Seolah kata itu tak pernah ada dalam kamusnya. Seolah kata itu bukan untuknya. Yah, seberapa keras usahanya untuk melupakan Soo Jeong, Kiseop tidak pernah berhasil. Jangankan melupakan, bahkan semakin ia berusaha kenangan akan gadis itu malah semakin jelas berputar dikepalanya. Seolah menghantuinya seumur hidup.

Dan tanpa sadar, air mata pria itu mulai jatuh membasahi meja bar didepannya. Jatuh begitu saja tanpa bisa Kiseop bendung. Membuatnya merasa menjadi pria lemah, pria pengecut yang hanya bisa melukai hati seorang gadis yang begitu mencintainya. Pria lemah yang bahkan tak bisa mempertahankan gadis yang begitu ia cintai. Pria tak berguna yang pantas mendapatkan apa yang ia rasakan sekarang. Penyesalan yang tak ada ujungnya.


***

Malam itu, suhu udara cukup untuk membekukan sekaleng sarden bila kau letakkan dihalaman depan rumahmu. Kiseop dengan nafas yang memburu menarik kasar lengan Soo Jeong keluar dari sebuah bangunan. Ia berjalan dengan langkah cepat tanpa memperdulikan Soo Jeong yang sejak tadi merintih karena tangannya yang terasa perih akibat dicengkram terlalu keras.

“lepaskan aku Kiseop!” Soo Jeong memekik, masih berusaha melepaskan tangannya dari Kiseop. “aku mohon, ini menyakitkan!”

Tapi seolah suara Soo Jeong tertelan badai salju, Kiseop tak menggubris sedikitpun dan terus melangkah.

“Kiesop!”

“Lee Kiseop, lepaskan aku auu!”

“kau mau membawaku kemana?!”

“tolong dengarkan penjelasanku dulu”

Dan tiba-tiba Kiseop menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan dengan kasar melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Soo Jeong. Ia menatap gadis didepannya dengan penuh amarah, dadanya naik turun menahan emosi yang memuncah.

“penjelasan? Kau mau menjelaskan apa huh?!” suara Kiseop terdengar lantang. Tatapannya mulai kabur akibat air mata yang entah sejak kapan mulai memenuhi pelupuk matanya. Perasaan yang begitu aneh memenuhi relung dadanya, perasaan marah, kecewa, dan tak percaya seolah bercampur menjadi satu dan membuat perutnya terasa mual. Ia ingin menendang sesuatu, menghancurkan sesuatu sekarang juga.

Soo Jeong sendiri hanya bisa menunduk, menggigit bibir bawahnya dan tak berani menatap Kiseop. Air matanya pun sudah mengalir, jatuh dan menghilang begitu cepat diantara salju yang tengah ia pijak.

“aku mohon jangan seperti ini” suara Soo Jeong terdengar lirih disela-sela tangisnya.

“arggghhh...” Kiseop mengerang frustasi, ia menjambak rambutnya sendiri lalu menendang sebuah tong sampah besi didekatnya hingga benda itu terhempas dan menimbulkan bunyi yang cukup memekikkan telinga. Soo Jeong tersentak kaget dan semakin memperdalam tangisannya.

“aku mencintaimu Soo Jeong! Aku mencintaimu” Kiseop berkata masih dengan nada suara yang tinggi. “aku mencintaimu, memberikanmu segalanya dan hanya ini yang kuterima darimu?” suaranya sedikit melemah.

“ini tak seperti yang kau pikirkan Kiseop” Soo Jeong maju selangkah hendak menyentuh pundak Kiseop. Namun, dengan cepat Kiseop melangkah mundur, ia tak ingin satu sentuhan dari Soo Jeong membuatnya luluh dan melupakan amarahnya. Soo Jeong sendiri terpana dengan sikap Kiseop.

“aku bisa menjelaskannya sayang, aku mohon dengarkan aku”

“penjelasan apa lagi?! Penjelasan bahwa, bahwa aku mendapatimu tengah berduaan dengan Kevin huh! Penjelasan bahwa kau membatalkan makan malam kita karena kau ingin menemui Kevin diapartemannya huh! Kau ingin menjelaskan bahwa kau berselingkuh dengan Kevin. Dengan sahabatku sendiri?!”  Kiseop tercekat menahan tangis. Hatinya hancur berkeping-keping bak gelas kaca yang jatuh menghujam lantai. Hancur menjadi serpihan kecil yang terasa begitu menyakitkan.

Mendapati kekasihnya tengah berduaan dengan sahabatnya sendiri, saling melempar tawa tanpa beban sedikitpun membuat Kiseop merasa dihianati. Betapa tidak, ia sudah menunggu Soo Jeong sejak 1 setengah jam lalu untuk janji makan malam tapi gadis itu tak kunjung datang. Ia meneleponnya tapi ia sama sekali tak menjawabnya. Mengiriminya sms tapi tak satupun yang ia balas.

Saat itu Kiseop merasa khawatir, takut terjadi apa-apa dengannya. Ia sudah menelepon adik Soo Jeong dan berkata bahwa kakaknya sudah berangkat sejak tadi. Tapi mengapa gadis itu tak datang juga. Hati Kiseop mulai resah, hingga ia memutuskan untuk mencarinya. Lalu, ia teringat Kevin sahabatnya. Pria yang telah mengenalkannya pada Soo Jeong. Kiseop  hendak menemui Kevin, siapa tau ia bisa membantunya mencari Soo Jeong. Atau sekedar memberi tahukan tempat yang sering Soo Jeong kunjungi, mengingat Kevin lebih lama mengenal Soo Jeong daripada dirinya.

Namun seolah ada seseorang yang menikamnya dengan belatih, sakit yang ia rasakan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seolah tiba-tiba kakinya lumpuh dan tak mampu menopang berat badanya, lututnya terasa begitu lemah. Beginikah rasanya? Rupanya begini rasanya dihianati oleh orang yang kita sayangi, yang kita percaya bahkan melebihi saudara kandung sendiri. Beginikah rasa sakit saat melihat kekasihmu lebih memilih bersama orang lain. Bukan, jangan katakan orang lain! Dia sahabatmu sendiri. Dihinati begitu saja, seolah dirimu tak pernah ada didunia ini.

Hanya hitungan detik, namun Kiseop merasa waktu berjalan begitu lambat. Tanpa sadar ia mencengkram dadanya sendiri. Meremasnya untuk menahan rasa sakit yang teramat sangat. Lalu, dengan langkah berat ia berjalan maju. Menemui mereka yang tengah duduk berdua ditempat tidur. Kiseop tak ingin membayangkan apa yang akan atau apa yang telah mereka berdua lakukan. Terlalu menakutkan, terlalu menyakitkan.

“Soo Jeong-ah” suara Kiseop tercekat ditenggorokan. Ia menelan ludah dengan susah payah.

Mendengar seseorang memanggil namanya, Soo Jeong segera menoleh dan tersentak saat mendapati kekasihnya Kiseop sudah berdiri dihadapanya. Kevin pun melempar pandangannya kearah mata Soo Jeong. raut wajahnya segera berubah, senyum yang sejak tadi melekat dibibirnya seolah hilang terbawa angin musim dingin yang berhembus dari arah jendela.

“Kiseop-ah” desah Soo Jeong seolah tak percaya.

Lalu tiba-tiba, kesunyian datang menyelubungi mereka. Ketiganya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak ada yang bersuara untuk waktu yang cukup lama. Tapi dibalik diam yang menyelimuti, ada bulir-bulir air mata yang mampu menjelaskan kepedihan dihati Kiseop. Ada desahan berat yang menandakan perasaan bersalah dihati Kevin. Serta, langkah pelan yang Soo Jeong ambil untuk mencoba meraih jemari Kiseop. Gadis itu menggeleng pelan, seolah mengerti arah pikiran Kiseop. Dan dengan hati-hati ia meraba pipi kekasihnya itu, menghapus air mata yang mengalir dari mata coklat pria yang ia cintai itu.

Soo Jeong bisa merasakan air mata yang dingin, pipi yang bak es itu. Nafas Kiseop yang berhembus  tak beraturan. Soo Jeong tau, betapa Kiseop tengah bersusah payah meredam emosinya.

“ini tak seperti yang kau fikirkan Kiseop” Soo Jeong akhirnya memecah kesunyian yang ada, lalu dengan cepat memeluk pria yang berdiri kaku dihadapannya. “tolong jangan berpikir seperti itu” gadis itu mendesah didada bidang Kiseop.

Kevin yang juga sejak tadi diam, akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia melangkah perlahan kearah Kiseop dan Soo Jeong. tatapan matanya tak sedikitpun lepas dari mata pria yang berdiri dihadapannya sekarang.

“aku bisa jelaskan padamu” suara Kevin terdengar sedikit bergetar.

“menjelaskan apa?” Kiseop pun akhirnya membuka mulut. Tubuhnya yang sejak tadi dirangkul oleh Soo Jeong perlahan melangkah maju. Ia melepaskan Soo Jeong, membuat gadis itu semakin terisak. Kiseop menatap Kevin tajam lalu dengan cepat menarik kerah baju sahabatnya itu. Kevin tak berusaha menepis, ia hanya memilih diam.

“menjelaskan apa huh?!” Kiseop berteriak tepat diwajah Kevin. “kau ingin menjelaskan bahwa kau telah menghianati sahabatmu sendiri! Kau ingin menjelaskan bahwa kau sudah tidur dengan pacar sahabatmu sendiri huh?! Kau ingin menjelaskan bahwa kau ingin merebut gadis ini dariku? Iya, benar begitu?” Kiseop meneriakkan kata-kata yangsejak tadi ia tahan tepat dihadapan Kevin, dengan kasar ia meraih lengan Soo Jeong lalu menghempaskan gadis itu kearah Kevin. Soo Jeong hanya bisa pasrah sembari terus menahan tangis meskipun ia hampir saja terjatuh jika saja Kevin tak menahan tubuhnya. Tubuh kecilnya bergetar hebat, tak pernah sekalipun ia melihat Kiseop semarah itu.

Kevin menatap nanar Kiseop, tatapannya memelas seolah mengisyaratkan agar Kiseop tenang dan ingin mendengarkan penjelasan darinya. Namun tetap saja pria dihadapannya itu sama sekali tak ingin tahu, ia memalingkan muka dari Kevin, memejamkan matanya sejenak untuk menghentikan air mata yang sejak tadi membanjiri pipinya. Kiseop tak pernah menangis didepan orang lain, bahkan didepan sahabatnya sekalipun. Baginya menangis hanya untuk didirnya sendiri, tak usah ada orang lain yang melihat. Baginya air mata untuk seorang pria adalah pertanda bahwa ia tengah berada dititik terlemah dirinya. Yah, seperti saat ini. Kiseop merasa ia begitu lemah dihadapan dua orang itu.

Lalu tak berapa lama, Kiseop dengan gerakan cepat menghujam pipi kiri Kevin dengan sebuah pukulan. Melihat hal itu, Soo Jeong menjerit dan segera menarik lengan Kiseop mundur. Gadis itu tak ingin melihat Kiseop memukuli Kevin. Ia tak ingin melihat Kiseop berubah menjadi orang lain.

“hentikan, aku mohon” ucap Soo Jeong lemah. Namun Kiseop tak peduli, ia hendak melangkah maju untuk memukuli Kevin lagi. Soo Jeong terisak, tangannya semakin kuat mencengkram lengan Kiseop. “jangan! Aku mohon, bawa aku pergi. Bawa aku pergi dari sini” gadis itu hampir kehilangan suaranya.

Dan malam itu seolah menjadi malam terburuk didalam hidup Kiseop, penghinatan yang ia terima begitu membuat dirinya terpuruk. Dimalam itu pula, ia memilih pergi. Menjauh dari kenyataan yang menyakitkan ini. Kiseop berlari meninggalkan Soo Jeong yang berdiri seorang diri ditrotoar dan terus saja meneriakkan namanya. Berlari meninggalkan kekasihnya agar ia tak lagi bisa menatap manik mata gadis itu, mata yang Kiseop pikir hanya untuk menatap kearah dirinya, bukan yang lain. Malam itu, hubungannya dengan gadis itu telah ia tanggalkan. Tak ada lagi Soo Jeong dalam hatinya, tak ada lagi  mimpi itu dalam pikirannya. Mimpi bahwa Soo Jeong akan menangis haru melihatnya bertekuk lutut sembari menyematkan cicin yang telah ia persiapkan untuk melamarnya malam ini juga. Lupakan semuanya! Lupakan tentang mimpi menjadikannya mempelai wanitamu.

***

Tokyo, sebuah kota yang sibuk dengan segala hiruk pikuk penduduknya. Kota yang Kiseop pilih menjadi tempat pelariannya. Yah, sejak malam itu Kiseop memilih naik penerbangan terakhir menuju Tokyo. Entah apa yang merasukinya, pria berambut coklat itu seolah tak perduli lagi dengan segala hal yang ia tinggalkan. Apartemennya, pekerjaannya, keluarganya, sahabatnya, dan Soo Jeong. ia pergi begitu saja seolah tak perlu ada basa-basi tentang salam perpisahan. Kiseop berangkat hanya dengan luka menganga didadanya, ingin rasanya ia pergi jauh dari Seoul dan melupakan semua kejadian malam itu. Memilih memulai hidup barunya sendirian, tanpa ada lagi cinta di hatinya.

3 tahun sudah ia menetap di Tokyo, dan sejak itupula tak pernah sekalipun ia menginjakkan kakinya di kampung halamannya, Seoul. Dirinya mulai terbiasa tinggal disini, mendapatkan pekerjaan baru, apartemen sederhana yang cukup nyaman, hingga beberapa teman yang cukup untuk menemaninya minum jika dirinya tengah merasa kesepian. Dan sejak saat itupula, luka dihati Kiseop sedikit demi sedikit mulai membaik, namun jika harus jujur ingatan akan gadis itu masih jelas dikepalanya.

Terlebih saat Kiseop menerima sebuah telepon beberapa hari lalu. Telepon dari seseorang yang telah lama mencari dirinya. Bukan, bukan Soo Jeong melainkan Kevin sahabatnya, dulu. Kiseop sebenarnya ingin langsung menutup telepon dari Kevin jika saja ia tidak mendengar kabar itu. Kabar yang begitu membuatnya terpukul, yang membuatnya kini semakin dirundung pilu dan dihantui penyesalan besar.

Kevin akan menikah bulan depan. Tidak dengan Soo Jeong, bukan. Kevin akan menikah dengan kekasihnya sendiri. Kevin memohon agar Kiseop mendengar penjelasannya kali ini saja. Tentang betapa sulitnya ia mencari alamat Kiseop, mencari nomor teleponnya yang baru, tentang mencoba memberanikan diri untuk menghubunginya setelah sekian tahun Kiseop menghilang bak ditelan bumi. Tentang menyampaikan kebenaran yang selama ini tak sempat Kiseop dengar.


“malam itu seharusnya aku menarikmu atau bahkan menyeretmu jika perlu. Seharusnya aku tak membiarkanmu melarikan diri. Sungguh, kau benar-benar seperti pengecut. Namun, setelah ku sadari, akulah yang lebih pengecut ketimbang dirimu Kiseop.” Suara Kevin terdengar sedikit parau, jelas sekali kalau ia tengah menahan tangisnya.

“aku minta maaf Kiseop, maaf telah membiarkan mu pergi dan tak menjelaskan semuanya. Maaf karena malam itu aku hanya diam seperti orang bisu. Maaf karena membiarkan kesalahpahaman ini tak pernah terluruskan. Soo Jeong tidak bersalah Kiseop, tidak sama sekali. Apa kau tau betapa ia mencintaimu? Ia bahkan begitu antusias malam itu untuk menemuimu”

Kevin mengambil jeda sejenak. Ia menghirup nafas dalam, sementara Kiseop hanya diam mendengarkan.

“Soo Jeong tau kau akan melamarnya malam itu. Aku.. minta maaf, aku yang memberitahunya. Kiseop dengarkan aku, malam itu kami tak melakukan apapun. Ia hanya datang untuk meminta saran. Apa kau tau? Ia bahkan memintaku untuk memilihkannya gaun yang menurutnya akan kau sukai. Apa kau tau betapa bahagianya gadis itu?”
Kiseop sedikit terkesiap, namun tetap diam tak menyela. Ia ingat akan gaun-gaun yang berserakan di tempat tidur Kevin malam itu. Kevin lalu melanjutkan

“aku berani bersumpah kalau kami berdua sama sekali tak melakukan apapun malam itu. Ia hanya datang dan meminta saran, Soo Jeong telah lama menunggu moment ini. Momen bahwa kau akan melamarnya. Namun kemudian kau datang dan tak memnberikannya kesempatan untuk menjelaskan. Kau salah faham Kiseop, salah besar. Dan ya, sebenarnya aku menyukai Soo Jeong. aku mencintai gadis itu bahkan sebelum kau mengenalnya. Tapi, dimata Soo Jeong hanya ada kau, ia menganggapku sebagai  teman. Hanya sebatas itu.”
Kembali desahan nafas panjang terdengar dari mulut Kevin. Sementara itu, jari jemari Kiseop bergetar, tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.

“Kiseop, malam itu aku juga dibutakan oleh emosi. Aku pikir, jika kesalahpahaman ini dilanjutkan maka kau dan Soo Jeong akan putus hingga aku bisa memiliki kesempatan untuk mengutarakan perasaanku padanya. Namun ternyata aku salah besar. Tak ada sedikitpun cela bagiku untuk bisa menggantikan posisimu dihatinya. Hingga saat ini ia masih sangat mencintaimu, sudah 3 tahun Kiseop, 3 tahun sudah ia mencarimu kesana-kemari. Ia telah berubah, tak ada lagi senyum dibibirnya. Seolah senyum itu pergi bersama dirimu. Dan sungguh, ini sangat menyakitiku”

Kevin terdiam diseberang sana, hanya desahan nafas berat yang terdengar. Sementara Kiseop menggenggam pegangan balkon erat, tubuhnya terasa melemas.

“maafkan aku baru memberitahukanmu sekarang Kiseop. Aku mohon padamu, pulanglah. Temui gadis itu. Ia sangat membutuhkanmu sekarang” kini jelas terdengar isakan dari Kevin. Pria itu menangis.” Soo Jeong mengalami kecelakaan, ia tertabrak dan...” pria itu tak melanjutkan, ia tak tau apakah Kiseop bisa menerima kabar ini atau tidak.

“a-ada apa?” tanya Kiseop terbata-bata. Jantungnya kini berdetak 2 kali lebih kencang. Tangannya semakin erat mencengkram pembatas besi balkon disampingnya. “ada apa dengan Soo Jeong! ada apa?” desaknya.

“ia kecelakaan, sekarang ia lumpuh” suara Kevin nyaris tak terdengar.

Kini, kedua kaki Kiseop sudah benar-benar tak mampu menopang tubuhnya. Pria itu hanya bisa terduduk lesu disamping pagar besi pembatas. Ponsel ditangannya meluncur begitu saja kelantai. Meninggalkan Kevin disebrang sana yang sejak tadi memanggil namanya. Hati Kiseop hancur, lebih hancur dari pada malam itu. Malam dimana ia meninggalkan Soo Jeong begitu saja.

***

Taman dipusat kota pagi itu masih lengang, hanya beberapa orang saja yang tampak tengah berjalan-jalan sembari menghirup udara pagi yang dingin namun menyegarkan. Hari ini hari Minggu, hari yang tepat untuk menyingkirkan sejenak persoalan pelik tentang pekerjaan, hari yang tepat untuk bermalas-malasan dirumah atau dengan kata lain beristirahat.

Dan pagi itu, meski Januari telah berada dipenghujung bulan udara masih terlampau dingin bagi kebanyak orang untuk sekedar berjalan-jalan ditaman kota. Membuat mereka enggan meninggalkan rumah dengan penghangat ruangan yang sejak memasuki bulan Desember tahun lalu telah dinyalakan. Namun, tidak bagi seorang gadis cantik berambut coklat yang tengah duduk sembari memejamkan mata. Terlihat begitu syahdu dibawah langit kota Seoul yang seputih hamparan salju disekelilingnya. gadis itu mengenakan syal berwarna merah dengan mantel berwarna krem yang terihat sederhana namun tak mampu menutupi pesona gadis itu.

Lee Soo Jeong. gadis dengan syal merah itu masih betah duduk didepan sebuah danau yang beku, tidak terganggu sama sekali oleh suhu dingin yang menyengat. Tak lama gadis itu membuka mata, segaris senyum terukir dibibir mungilnya. Entah apa yang tengah ia pikirkan hingga membuatnya tersenyum. Tatapan matanya kini jatuh pada sebuah pohon disebrang danau yang tampak sedikit memutih tertutup salju. Pohon itu meski sudah tak memiliki daun sama sekali, masih terlihat kokoh berdiri ditengah hamparan salju yang kontras dengan warnanya yang coklat. Soo Jeong tiba-tiba teringat sesuatu, sesuatu yang kini membuatnya merasa memiliki nasib yang sama dengan pohon disebrang sana.

Pohon dengan batang berwarna coklat yang masih terlihat kokoh berdiri meski tak ada sehalai daunpun yang ia miliki. Pohon yang tampak sunyi ditengah hamparan salju yang dingin. Soo Jeong seolah bercermin, seolah melihat sosok dirinya disana. Gadis yang terlihat kokoh meski sebenarnya ia rapuh. Gadis yang hatinya telah lama beku ditinggal oleh cinta. Soo Jeong nyatanya begitu kesepian meski tengah berada ditengah lautan manusia. Menunggu sendirian, menunggu seseorang yang telah lama pergi. Menunggu meski tak tau sampai kapan. Kini tanpa sadar, bulir air mata telah jatuh membasahi punggung tangannya. Dingin, namun tak sebanding dengan hatinya yang beku.

***

Kiseop tak bergeming sejak matanya menangkap sosok yang sejak tadi membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Pria itu terlihat bersusah payah mengatur deru nafasnya yang tak beraturan. Dihari ia menerima telepon dari Kevin, ia segera berlari menuruni apartemennya dan menahan taksi pertama yang ia lihat. Dengan terburu-buru ia memaksa sang supir agar segera membawanya ke bandara. Sama sekai ia tak memperdulikan tatapan keheranan sang supir taksi. Lalu sesampainya ia di bandara, pria itu segera membeli tiket penerbangan menuju Seoul, Korea Selata. Tak perlu lagi ada yang ia pikirkan, ia akan segera menemui gadis itu. Gadis  yang sebenarnya masih sangat ia cintai.


Disaat seperti ini, ingin rasanya Kiseop berlari dan segera mendekap tubuh gadis yang semakin kurus itu. Ingin rasanya ia mengusap wajahnya, mulai dari alis, mata, hidung hingga bibir yang selalu mampu menyihirnya dengan segaris senyuman. Sungguh! Kiseop merindukannya setengah mati, merindukan wangi citrus yang menyegarkan itu, merindukan dekapan hangat wanitanya, wanitanya dulu.

Kemudian saat matanya jatuh pada kursi roda yang tengah diduduki gadis itu, hatinya semakin terenyuh. Apa yang dikatakan Kevin tempo hari ternyata benar. Soo Jeong lumpuh, lumpuh yang artinya ia tak akan bisa berjalan lagi. Oh, ini menyakitkan, sungguh! Kiseop merasa ada sesuatu ditenggorokannya yang membuatnya merasa sakit. Sesak didadanya semakin terasa.

Hanya bisa mengamati gadis itu dari balik pohon yang berada tak jauh dari tempat Soo Jeong duduk benar-benar terasa menyakitkan. Hanya bisa mendengar isakan kecil gadis itu tanpa melakukan apa-apa membuat Kiseop seperti seorang pengecut. Namun, jika ia muncul begitu saja didepan gadis itu setelah tiga tahun kepergiannya bukan cara yang tepat. Ada dilema besar yang menghinggapi rongga dada Kiseop, tapi jauh didalam relung hatinya ada perasaan lega yang sulit dijelaskan. Melihat gadis itu sekarang saja sudah membuat hatinya terasa hangat, meski penyesalan itu semakin besar layaknya bola salju yang bergulir melihat kondisi gadis itu sekarang.

Betapa kejamnya aku

Tanganya menggenggam erat benda yang seharusnya telah berada ditangan gadis itu sejak tiga tahun lalu. Sebuah cincin yang seharusnya telah menjadikan mereka pasangan suami istri. Kiseop mendesah, menatap cicin di telapak tangannya itu membuatnya semakin ingin menemui Soo Jeong. ia ingin meminta maaf atas semua yang telah dialami oleh gadis itu, ia ingin meminta maaf atas kesalahannya dulu. Kiseop ingin menatap manik mata indah itu sekali lagi, berlutut didepannya dan mengatakan bahwa cinta dihatinya sama sekali tak memudar meski ia telah coba menghapusnya. Dan jika boleh, memintanya menjadi pasangannya yang memang seharunya ia utarakan sejak tiga tahun lalu.

Semantara Soo Jeong masih belum bergeming dari tempatnya, masih setia duduk didepan danau yang beku itu. Entah apa yang tengah ia perhatikan, hingga membuatnya lupa akan dinginya udara pagi itu.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Kiseop mengukuhkan hati. Ia akan menemui gadis itu, menampakkan dirinya dihadapannya. Mengutarakan semua isi hatinya. Tak mengapa jika Soo Jeong tak ingin menerimanya kembali, Kiseop sadar betapa dirinya tak lagi pantas mengisi hati gadis itu. Tak apa, asalkan permintaan maafnya tersampaikan. Itu sudah cukup mengurangi sedikit beban dihatinya.

Dan saat langkah kakinya memijak hamparan salju menuju kearah Soo Jeong, Kiseop terkesiap saat matanya menangkap sosok pria telah berdiri tepat dihadapan Soo Jeong. Pria berpostur tubuh tinggi yang mengenakan mantel coklat itu tengah menatap Soo Jeong sambil tersenyum. Kiseop maju selangkah untuk melihat mereka lebih jelas. Dan disaat yang sama tampak segaris senyum dibibir gadis itu. Hati Kiseop seketika bergetar, senyum yang telah lama tak pernah ia lihat. Gadis itu kini tersenyum, namun bukan padanya melainkan pada pria didepannya. Pria lain.

“eoh, Sungyeol oppa?” terdengar suara lembut Soo Jeong.

Sungyeol? Oppa? Siapa dia?

Pria yang dipanggil dengan nama Sungyeol itu tersenyum lalu mengusap puncak kepala Soo Jeong dengan tatapan penuh kasih. Pria itu kemudian membenarkan letak syal Soo Jeong lalu berkata

“kau menangis lagi?” tangan pria itu kemudian mengelus pipi kiri Soo Jeong, ia menghapus air matanya.

“hanya teringat sesuatu yang seharusnya ku lupakan”

Suara lirih Soo Jeong terdengar sampai ketelinga Kiseop.

“Sesuatu yang seharusnya ku lupakan?”

Ah, benar. Untuk siapa lagi kalimat itu ditujukan kalau bukan untuk Kiseop. Mendengar kalimat itu ia benar-benar merasa dongkol sampai ke ubun-ubun. Kini nyalinya untuk menemui gadis itu seolah hilang bak salju yang mencari. Entah mengapa, Kiseop merasa kasihan pada dirinya sendiri. Seharusnya Kiseop sadar, tak akan ada lagi celah untuknya di hati Soo Jeong. gadis itu mungkin telah menemukan seseorang, yah orang yang menggantikan posisinya. Memang masuk akal sejak 3 tahun kepergiannya. Seharunya memang begitu adanya kan? Mungkinkan pria yang tengah berdiri dihadapan Soo Jeong sekarang? Pria bernama Sungyeol itu?

“kalau begitu, mengapa harus diingat lagi?” tanya Sungyeol yang lebih terdengar seperti sebuah saran. Soo Jeong sendiri tak menjawab dan hanya menyunggingkan senyum tipis.

“tak ada gunanya mengingat yang tak perlu, aku tak ingin kau terlalu banyak memikirkan sesuatu”

Kini pria itu semakin mendekatkan wajahnya kearah Soo Joeng. Ia mengamati gadis itu dengan seksama.

“kau pantas untuk bahagia Lee Soo Jeong” bisiknya tepat ditelinga gadis itu.

Tentu. Gadis itu pantas untuk bahagia.

Kiseop berguman. Matanya tak lepas menatap Soo Jeong dan pria disebelahnya. Sepertinya memang benar, mereka berdua memiliki hubungan yang khusus. Setahu Kiseop Soo Jeong adalah anak tunggal, ia tak memiliki saudara laki-laki. Selain itu, Kiseop tak pernah mendengar Soo Jeong memiliki teman bernama Sungyeol. Jadi, kalau mereka bukan saudara dan bukan juga teman apa lagi namanya selain hubungan khusus antara seorang pria dan wanita. Ditambah lagi jika melihat sikap pria itu, Kiseop semakin yakin jika memang hubungan mereka cukup serius.

Kini tak ada lagi kesempatan bagi Kiseop untuk menemui Soo Jeong. kiseop sadar, ia cukup tau diri. Ia kemudian berbalik, meski hatinya sakit Kiseop merasa pantas mendapatkannya. Tanpa sadar, air matanya meluncur mulus di pipinya lalu kemudian jatuh ke hamparan salju yang tengah ia pijak. Kiseop melangkah pergi, perlahan tapi pasti ia menjauh dari tempatnya tadi. Memilih pergi tanpa bersua terlebih dahulu dengan Soo Jeong membuatnya merasa menjadi pengecut untuk kedua kalinya. Namun ia pikir, ia tak punya pilihan lain. Jika sampai dirinya mendengar sendiri dari mulut Soo Jeong bahwa ia telah menemukan pria lain, Kiseop tak bisa membayangkan rasa sakit yang akan menyelimutinya. Mungkin lebih baik begini, tak perlu lagi ia mengusik hidup gadis itu. Selama ini ia sudah cukup menderita. Dan setidaknya apa yang ia lakukan sekarang, bisa jadi lebih berarti dari pada kata maaf yang bisa membangkitkan kenangan yang seharusnya telah gadis itu lupakan.

***

“mau ku belikan kopi?” Sungyeol bertanya pada Soo Jeong. gadis di sampingnya itu tak menjawab dan hanya mengangguk kecil.

“ayolah, aku tak suka melihat Soo Jeongku seperti ini. Aku lebih suka melihatnya tersenyum”

Gadis itu kemudian tersenyum, ia memalingkan wajahnya kearah Sungyeol.

“kau cerewet sekali dokter Lee Sungyeol”  Soo Jeong berkata dengan senyum yang semakin merekah. Sungyeol sendiri terkekeh mendengar celoteh Soo Jeong. melihat kondisi gadis itu yang kini mulai membaik membuat perasaan Sungyeol lega, berbeda dengan beberapa bulan lalu saat pertema kali gadis itu tau kalau  ia lumpuh. Soo Jeong benar-benar frustasi, butuh waktu lama untuk membuatnya ingin keluar dari rumah sakit. Sejak hari itu, yang ia lakukan hanya duduk menghadap jendela. Seharian penuh ia hanya diam sembari menitikan air mata.

Hari itu, Sungyeol masih ingat saat Soo Jeong sadar dari koma dan mengetahui kenyataan bahwa ia lumpuh. Soo Jeong menjerit, membuat siapapun yang mendengarnya akan memalingkan wajah karena tidak tega melihat kondisinya. Setiap hari, ia hanya bergumam kalau ia ingin dapat berjalan lagi. Ia ingin pergi mencari kekasihnya.

Kini, melihat senyuman di bibir gadis itu mulai kembali membuat hati Sungyeol tenang. Ia memang bukan orang yang spesial untuk gadis itu selain hanya sebagai sepupu sekaligus dokter yang merawatnya. sungyeol hanya bisa berharap agar senyum itu selalu hadir diwajah cantik Soo Jeong. tak perduli gadis itu masih mencintai kekasihnya dulu.

“baiklah, aku akan pergi untuk membeli kopi. Lalu setelahnya kita kembali ke rumah. Bibi bisa menendang bokongku jika melihat putri kesayangannya ini terlalu lama diluar rumah hingga flu menyerangnya” Sungyeol sedikit bergurau sambil mengacak-ngacak rambut Soo Jeong pelan sebelum akhirnya ia melangkah pergi.

Sekarang hanya tingga Soo Jeong duduk seorang diri. Gadis itu mendesah hingga terlihat uap putih yang keluar dari mulutnya. Memang sekarang cuaca sedikit lebih dingin, membuatnya semakin merapatkan mantel yang tengah ia kenakan.

Hingga tak lama, tiba-tiba saja ada seorang anak kecil berumur sekitar 6 tahun berambut blonde datang menghapirinya. Bocah laki-laki itu berdiri dihadapan Soo Jeong dan mengamatinya dengan seksama.

“ada apa dik?” Soo Jeong bertanya sambil mengelus puncak kepala bocah didepannya. “apa kau sendirian saja?”

Bocah itu menggeleng.

“kalau begitu, kau bersama seseorang? Ibumu? Apa kau terpisah dengan ibumu?”
Bocah itu kembali menggeleng
“lalu? Ada apa?”

Anak laki-laki itu masih terdiam, ia mengamati kursi roda yang tengah diduduki Soo Jeong lalu kembali menatap wajahnya. Tak lama ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna biru dari saku mantelnya kemudian menyerahkannya pada Soo Jeong.

“nunna, seseorang tadi menyuruhku untuk memberikan ini untukmu” kata bocah itu, kemudian tak lama ia berbalik dan berlari menjauh.

Soo Jeong hendak memanggilnya kembali tapi urung dilakukan, anak itu sudah menjauh dari tempatnya sekarang. Masih dengan perasaan heran, Soo Jeong beralih menatap amplop biru ditangannya. Ia mengamati benda itu dengan hati-hati. Hingga ia merasakan ada sebuah benda kecil didalamnya. Soo Jeong perlahan membuka amplop itu dan seketika terkejut ketika menemukan sebuah cincin berwarna perak meluncur mulus ditelapak tangannya. Cincin itu terlihat begitu cantik, dengan hiasan berlian ditengahnya. Sekilas saja, ia sudah bisa menebak bahwa itu adalah cincin kawin.

Tak cukup dengan cincin, Soo Jeong kembali menemukan hal lain didalam amplop itu. Sepucuk surat. Namun disurat itu tidak tertera nama pengirimnya, hanya tertuliskan “untuk Soo Jeong” yang berarti untuk dirinya. Sejenak Soo Jeong tampak ragu untuk membuka surat itu, namun rasa penasannya lebih besar dari pada perasaan takut maupun keraguannya.

Tak lama Soo Jeong telah larut dalam setiap kata yang ada didalam surat itu.


Dear Lee Soo Jeong...
Aku tak tau harus menulis apa, namun yang pasti aku ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukanmu. Maaf telah menjadi pengecut, maaf telah meninggalkanmu dan membuatmu menderita. aku minta maaf.

Aku harap kau bisa hidup bahagia. Kau pantas mendapatkan kebahagianmu. Hiduplah dengan seseorang yang pantas denganmu. Yang bisa membuatmu selalu tersenyum. Bukan pengecut seperti diriku.

Apa kau tau? Aku masih sangat mencintaimu. Cincin yang kini ditanganmu seharusnya telah melingkar dijari manismu sejak tiga tahun lalu.

Aku berterimakasih untuk cinta yang pernah kau berikan padaku. Kau adalah salah satu anugrah dalam hidupku. Trimakasih atas senyum manis yang selalu kau berikan dikala pagi, terimakasih juga untuk setiap pelukan hangat serta wangi citrus yang menyegarkan. Aku tak akan penah melupakan wangi itu. Aku tak akan pernah melupakanmu. Tidak akan pernah.

Saranghae Lee Soo Jeong...

Lee Kiseop”


Untuk sepersekian detik waktu seolah berhenti berputar. Entah sejak kapan air matanya telah mengalir membasahi pipinya. Hati Soo Jeong terasa perih. Membaca surat itu membuatnya ingin menjerit memanggil nama yang tertera diakhir surat itu. Kiseop, Lee Kiseop. Pria yang sejak tiga tahun itu ia rindukan.

Kini dibawah butiran salju yang perlahan turun, Soo Jeong hanya bisa menangis tersedu-sedu sembil memeluk erat surat beserta cincin dari Kiseop. Berharap kakinya sedikit saja bisa digerakkan agar ia bisa berlari mencari pria yang ia yakini berada tak jauh darinya. Suaranya seolah lenyap tergantikan dengan tangisan yang begitu dalam. Ia ingin berlari mencari Kiseop agar ia bisa mengatakan bahwa ia juga masih sangat mencintainya. Pria yang menjadi kebahagiannya sekaligus kesedihannya. Pria yang juga tak bisa ia lupakan selamanya.




The End