Kamis, 12 Maret 2015

Down To Earth (Infinite's Fanfiction)


Tittle : Down To Earth 
Cast : 
  • Lee Sungyeol 'INFINITE'
  • Jeong Ye In 'LOVELYZ'
Other Cast : Infinite Members
Genre : Fiksi, romance
Leght :  Chaptered
Author : Di
Cover by : [Genevra Design]



Chapter 1: Hukuman Percobaan


Ketika seorang malaikat dianggap telah menyalahi kodratnya sebagai golongan makhluk yang suci, maka tidak lama lagi ia akan segera dijatuhi hukuman. Seorang malaikat jika ketahuan tidak menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang ada, maka segeralah ia dihadapkan oleh peradilan tertinggi para malaikat. Ia akan duduk didepan semua malaikat yang dianggap memiliki kedudukan tertinggi dan segera diadili. Malaikat itu akan segera mengetahui hukuman yang akan diberikan padanya, apakah hukuman percobaan atau hukuman kekal.

Sejak dulu sistem ini telah menjadi aturan mutlak di dunia para malaikat. Mereka yang dianggap tak mampu mengontrol hawa nafsunya akan segera di buang ke Bumi. Apakah mereka menjalani hukuman percobaan, yaitu menjalani kehidupan manusia bumi selama beberapa bulan dan bila waktunya habis bisa kembali kedunia para malaikat. Atau hukuman kekal, yang artinya mereka sepenuhnya berubah menjadi manusia dan menghabiskan sisa umur mereka di bumi. Mereka yang dijatuhi hukuman kekal sebelum dijatuhkan ke bumi sebelumnya harus menjalani proses dimana sayap mereka di potong, dan semua kekuatan mereka dihilangkan. Dan yang tersisa hanya tubuh lemah tak berdaya, dengan semua ketamakan serta hawa nafsu yang menjadi sifat dasar para manusia.

Mengapa malaikat menganggap manusia sebagai simbol dari penghukuman. Alasannya, karena manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki tempat lebih tinggi di sisi Tuhan. Namun karena kesalahan yang mereka buat ketika masih berada di surga, membuat Tuhan menurunkan derajat mereka dan membuang mereka di tempat yang bernama bumi. Kalian tentu pernah dengar tentang sepasang manusia pertama yang memakan buah larangan dari Tuhan. Akibat dari hawa nafsu mereka serta sifat lemah yang gampang di hasut oleh setan, mereka akhirnya terpedaya dan memakan buah itu, lalu berakhirlah mereka di bumi hingga saat ini. Oleh karena itulah, malaikat yang dianggap tak mampu menahan godaan akan disejajarkan dengan manusia bumi, di buang ke bumi sebagai penghukuman atas kesalahan mereka.

Sudah banyak dari malaikat yang dibuang ke bumi. Ada yang sadar dan di kembalikan ke langit, namun tak sedikit pula yang bernasib sial hingga menjadi manusia sepenuhnya. Menjalani hidup sebagai manusia, merasakan apa yang namanya perasaan sakit, lelah, putus asa, hingga kematian. Tapi, dibalik semua itu ada satu perasaan yang benar-benar mampu membuat para malaikat iri. Perasaan yang mampu membuat banyak dari malaikat yang dibuang ke bumi malah ingin menjadi manusia sepenuhnya. Perasaan yang tak di miliki para malaikat. Perasaan yang begitu murni dan suci yang berasal dari hati para manusia. Perasaan yang bernama cinta.

***

Sejak diciptakan dari serpihan cahaya bintang sirius 500.000 tahun lalu, Lee Sungyeol malaikat yang tergolong masih muda itu telah manaruh hasrat tentang dunia para manusia. Entah apa yang membuatnya begitu tertarik tentang makhluk tak kekal yang memiliki bentuk fisik hampir mirip dengan kaumnya itu. Namun yang pasti, sejak kejadian tak terduga subuh itu, membuatnya semakin menaruh keingintahuan besar terhadap manusia.

Sungyeol masih ingat ketika ia ditugaskan untuk menemui seorang pria paruh bayah yang terbaring lemah disebuah ranjang rumah sakit. Subuh itu, Ia datang untuk memberi tahu bahwa sudah saatnya pria itu kembali ke tempat asalnya, keribahan Tuhan. Yah, Sungyeol adalah malaikat yang ditugaskan untuk menjemput mereka yang telah mencapai batas akhir kehidupan di bumi. Atau yang lebih sering kita dengar sebagai malaikat kematian. Terkadang Sungyeol bingun dengan julukan yang diterima malaikat sejenisnya. Menurutnya julukan itu salah besar, Tuhan lah yang menciptakan kematian sebagaimana Ia menciptakan kehidupan. Ia hanya perantara, menjemput roh seseorang yang akan terpisah dengan jasadnya. Jadi tidak benar jika ia disebuat malaikat kematian. Mungkin julukan yang tepat baginya adalah, malaikat penjemput. Itu terdengar lebih masuk akal.Setidaknya itu yang ia pikirkan.

Subuh itu, saat ia tengah berdiri dihadapan pria paruh bayah yang terbaring tak berdaya tersebut. Tiba-tiba saja ia mendengar suara isakan seorang gadis. Sungyeol memang bukan baru pertama kali mendengar suara tangisan. Jujur saja, hampir setiap kali mendatangi mereka yang akan ‘pulang’ ia akan selalu mendengar suara tangisan. Dan Sungyeol sudah mengerti bahwa itu bentuk perasaan lain dari manusia, perasaan yang dinamakan kesedihan. Biasanya orang-orang terdekat yang dinamakan keluarga, akan menangis disaat detik-detik terakhir ia memanggil roh seseorang agar keluar dari jasadnya. Dan itu tak mengganggunya sama sekali.

Namun, entah mengapa suara tangisan kali ini terdengar berbeda. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba membuat Sungyeol merasa perlu untuk mencari tahu. Ia melangkah pelan menuju sebuah ruangan yang agak redup. Ruangan itu hanya dibatasi oleh sebuah rak buku panjang dan besar. Saat itu, Sungyeol bisa melihat seorang wanita tengah bersimpuh didepan dinding yang disitu terdapat patung Tuhan. Sungyeol bisa melihat kedua tangan gadis itu terkepal satu sama lain. Dan hal selanjutnya yang dapat ia lihat adalah, di wajah gadis itu tampak bulir-bulir air mata yang mengalir di pipinya.

Sungyeol bisa mendengar suara lirih gadis muda itu. Disela-sela isakannya, terdengar rapalan doa yang ia tujukan pada Tuhan.

“Tuhan, tolong selamatkan ayahku”

“Tuhan, aku mohon. Aku mohon padaMu, jangan ambil dia. Dia satu-satunya keluargaku. Dia satu-satunya orang yang aku cintai. Tuhan, belum cukupkah Engkau mengambil ibuku?”

“Tuhan, aku mohon. Aku belum siap berpisah dengannya. Aku tak ingin menjadi anak yatim piatu”

“aku tak ingin. Aku mencintai ayahku..hiks”

Pada saat itu, Sungyeol merasa ada yang aneh pada dirinya. Ia merasa, ada perasaan berbeda yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya dadanya sulit untuk bernafas, berat dan terasa sakit. Apa ini? Sungyeol tak mengerti apa yang terjadi. Ingin rasanya ia mengelus puncak kepala gadis itu. Mendengar doanya barusan, membuatnya berat untuk melangkah kembali menuju ruangan tempat pria paruh bayah yang ternyata ayah gadis itu .
Namun, waktunya tak banyak lagi. Dengan terpaksa ia melangkah keruangan sebelah. Ditatapnya wajah pria yang terbaring lemah didepannya. Lalu..

“bangaunlah, sudah waktunya kau pulang” suara Sungyeol terdengar lebih pelan dari biasanya.

Tak lama, segaris cahaya keluar dari tubuh didepannya. Itulah roh pria tua itu. Seiring dengan keluarnya cahaya putih keemasan itu, terdengar bunyi nyaring kecil dari sebuah alat yang terletak disamping ranjang si pria. Alat yang sejak tadi menunjukkan garis-garis bergelombang yang tak beraturan itu kini telah berubah menjadi garis lurus. Pria paruh baya itu telah meninggal.

Sejenak Sungyeol mengamati wajah roh yang berdiri dihadapannya. Bercahaya. Ia tampak damai dengan senyum kecil dibibirnya. Roh itu balas menatap Sungyeol, ia sedikit mengangguk. Ia telah siap untuk kembali ke asalnya, akhirat. Tak lama terdengar langkah cepat dari belakang. Ternyata langkah itu milik gadis muda tadi, wajahnya terlihat pias. Dengan cepat ia mendekati ranjang sang ayah, tatapannya nanar saat mendapati alat yang berbunyi nyaring tadi menampakkan garis lurus tampa gelombang. Sontak saja ia menjerit, menangis dengan suara yang cukup keras. Dipeluknya sang ayah yang sudah tak bernyawa.

“ayahh....!”

Suara jeritannya memecah keheningan subuh itu.

Sungyeol terpaku melihat pemandanga didepannya. Memang bukan yang pertama kalinya, sungguh! Ia bahkan sudah menganggap hal ini biasa. Namun entah karena apa, kali ini ia merasa berbeda. Didepannya roh dari ayah gadis itu berjalan mendekati putrinya yang masih menangis sambil memeluk jasadnya. Ia mengelus puncak kepala gadis itu, untuk terakhir kalinya sebelum roh itu memudar dan pergi untuk selama-lamanya. Gadis itu tak merasakannya. Ia hanya terus saja memanggil ayahnya yang sudah tak bernyawa.

Melihat wajah sedih gadis didepannya membuat Sungyeol berat untuk pergi. Ditatapnya lekat wajah sang gadis, ia seolah bisa merasakan kesedihannya. Sungyeol merasa bersalah. Yah, mungkin ini yang membuatnya berat untuk pergi. Hingga tanpa di duga, gadis itu berjalan kearahnya. Sungyeol hampir saja bersentuhan dengan gadis itu jika saja ia tidak mundur selangkah. Untuk sepersekian detik Sungyeol merasa, mereka saling bertatapan satu sama lain. Sungyeol dengan jelas bisa menatap manik mata yang penuh kesedihan itu. Apakah gadis itu sadar akan kehadiran Sungyeol?

tapi ternyata gadis itu malah mendekati dinding dibelakang Sungyeol. Sebuah tombol yang terpasang didinding itu ia pencet dengan tergesa-gesa. Gadis itu terus saja memencet tombol yang berada tepat diatas kepala sang ayah. tak lama beberapa orang berbaju putih berjalan masuk. Gadis itu menghampiri salah satu diantaranya, ia menarik-narik bajunya sembari terus terisak.

“ayahku..”

“tolong ayahku..”

Itu yang Sungyeol dengar. Sungyeol semakin merasa bersalah. Diantara banyaknya kasus yang ditugaskan padanya, entah mengapa kali inilah yang ia rasa paling berat. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul didalam dirinya. Perasaan sedih, bersalah, serta satu lagi, perasaan ingin memeluk tubuh rapuh gadis itu. Apa nama perasaan ini? Apakah ini yang namanya cinta? Entahlah...

***

Seminggu sudah sejak kejadian hari itu, Sungyeol diam-diam memiliki kegiatan baru. Setiap malam, ketika dirinya sedang tak bertugas ia akan turun ke bumi. Ia akan mengintip dari balik awan yang bergantung rendah dilangit dan mengamati sesosok manusia. Yah, siapa lagi kalau bukan gadis itu. Gadis yang telah membuatnya merasakan 3 jenis perasaan aneh yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.Yang membuatnya selalu mengingat wajah sedih gadis itu. Yang membuatnya terus teringat akan rapalan doa gadis itu. Ini aneh, benar-benar aneh!

Dan malam ini, setelah ia baru saja menjemput roh seorang ibu yang melahirkan Sungyeol segera pergi. Malaikat dengan paras tampan itu terbang rendah hingga langit pertama dan segera menuju tempat gadis itu. Sayapnya yang menawan terbuka lebar lalu menukik dan bersembunyi dibalik awan. Dari situ, ia bisa melihat gadis berwajah sendu tersebut. Gadis itu tengah bertopang dagu dikusen jendala kamarnya, menatap hamparan langit malam yang penuh bintang.

Sungyeol memang malaikat yang berbeda. Ia seolah sudah hapal tempat-tempat persembunyian yang aman dari penglihatan manusia tiap kali dirinya turun ke bumi. Alasannya, karena sejak dulu malaikat yang satu ini suka sekali terbang ke bumi dan mengamati keindahan alam ciptaan Tuhan. Ia selalu suka menghabiskan malam dengan berbaring dihamparan awan sembari menatap bulan serta bintang sirius, bintang yang menjadi sebagian dari dirinya. Dan tempat favoritnya adalah, awan comolunimbus yang berada tepat ditengah samudra fasifik. Dari situ ia bisa mendengar suara paling merdu di bumi, suara laut. Dari situ pula ia bisa meraskan sejuknya angin melewati setiap lembar bulu disayapnya. Sejatinya, ia benar-benar takjup dengan bumi dan segela isinya.

Namun malam ini, ada yang lebih menakjupkan baginya ketimbang suara laut serta hembusan angin samudra pasifik. Gadis itu. Gadis itu seolah menyedot semua perhatiannya. Setiap kali menatap wajah sendu itu, Sungyeol bisa merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Terlebih saat mata coklat yang indah itu mengalirkan bulir air mata, Sungyeol merasakan dirinya ingin terbang lebih rendah dan segera menarik tubuh gadis itu kedalam dekapannya. Dada Sungyeol merasa sesak tiap kali gadis itu menangis.

Oh Gadis berwajah sendu, siapakah gerangan dirimu?
Engkau jelas bukan dari kelangan bidadari,namun pesonamu lebih dari pada mereka.
Oh Gadis berwajah sendu, telah kau apakan diriku ini?
Bahkan hanya melihat wajahmu saja, diriku lupa siapa diriku sebenarnya.

***

Baiklah, ini sudah kali ke 3 Sungyeol mendapat teguran. Yang berarti sudah saatnya ia duduk dikursi peradilan malaikat. Sudah cukup kesalahan yang ia lakukan untuk membuatnya duduk dikusi pesakitan kaumnya sendiri. Kini ia sudah dihadapkan dengan semua malaikat-malaikat yang dianggap memiliki kedudukan tertinggi. Salah satunya, malaikat bernama Gabriel menatap Sungyeol dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Wajahnya yang penuh kharisma, sama sekali tak menunjukkan kalau ia telah hidup bahkan sebelum bumi diciptakan.

“Baiklah malaikat Sungyeol, silahkan duduk”

Terdengar suara berat Gabriel yang sontak membuat semua malaikat yang hadir pada persidangan itu terdiam. Sungyeol sendiri dengan wajah tenang menuruti perintah malaikat tersebut.

“beberapa kali lalai dalam menjalankan tugas, 2 kali absen dalam penugasan, dan beberapa kali kedapatan turun ke bumi dengan alasan yang tidak jelas. Serta terakhir kali terlihat dalam jarak yang sangat dekat dengan manusia diluar objek penugasan” terdengar suara seorang malaikat bernama Balem yang duduk disebelah malaikat Gabriel menguraikan semua kesalahan Sungyeol dalam beberapa minggu terakhir.

“ini sudah diluar batas toleransi Lee Sungyeol. Menurutmu apa yang sedang kau lakukan?” malaikat Gabriel berkata dengan tegas.

Sungyeol hanya bisa menunduk, namun raut wajahnya sama sekali tidak berubah. Ia sadar, ia sudah terlalu lalai belakangan ini. Tapi ia juga tidak bisa menahan dirinya. Entah mengapa, dirinya yang selalu mampu menahan godaan dan bersikap perfeksionis itu tiba-tiba saja berubah menjadi sosok malaikat yang sering mengabaikan tugas. Padahal ia adalah golongan malaikat yang memiliki tugas sangat krusial, yaitu mengurus tentang hidup dan mati seseorang. Ini semua karena satu alasan, gadis itu. Yah, gadis itulah yang sudah membuatnya seperti ini. Ada apa dengan dirinya?

“kami sudah sepakat untuk memberikan anda hukuman” suara berat Gabrial lagi-lagi terdengar. “anda kami kenai hukuman percobaan selama 3 bulan. Kami harap dengan hukuman ini, anda bisa kembali menjadi malaikat yang patuh”

Mendengar hukuman telah dijatuhkan, sayup-sayup terdengar suara kepakan sayap. Beberapa malaikat yang hadir saat itu telah pergi, meninggalkan tempat peradilan. Memang, kebanyakan dari mereka hanya datang untuk mendengarkan jenis hukuman apa yang akan diberikan. Dan mendengar hukuman percobaan telah ditetapkan, tak ada lagi urusan bagi mereka untuk menyaksikan lebih lanjut.

Sungyeol sendiri masih diam. Ia mengangkat kepalanya dan menatap malaikat Gabriel. Kini saatnya Sungyeol untuk menjalani masa hukumannya. Namun entahlah, apakah ia akan kembali menjadi malaikat yang patuh atau justru malah menjadi manusia selamanya. Ia tak yakin. Hukuman percobaan, artinya ia akan di turunkan ke bumi selama tiga bulan. Dan pada saat itu, ia malah akan semakin sering melihat gadis itu. Sungyeol tak tau, apakah ia harus sedih atau senang.

Malaikat dengan paras tampan itu kemudian berjalan menuju portal. Tempat dimana malaikat yang menjalani hukuman akan dibuang dan jatuh ke bumi. Tepat pada saat itu, setengah dari kekuatan malaikat mereka akan hilang, namun tidak dengan sayapnya. Sayap malaikat yang menjalani hukuman percobaan akan tetap ada, namun mereka dituntut untuk tidak menunjukkannya di depan umum. Begitulah mekanisme hukuman percobaan. Sejenak Sungyeol menengok kebelakang. Disana ia bisa melihat sesosok malaikat menatapnya dengan ekspersi datar. Nam Woohyun, malaikat yang bertugas mengatur mimpi. Malaikat yang dekat dengannya, temannya.

Sungyeol tau Woohyun kecewa pada dirinya. Woohyun sudah sering mengingatkan Sungyeol agar menjaga jarak dengan manusia. Namun, dia lengah dan akhirnya berakhir seperti ini.

“maafkan aku Nam Woohyun..”
Itulah kata-kata terakhir malaikat Sungyeol sebelum masuk kedalam portal.


***

Ye In menatap hamparan langit malam dari balik jendela kamarnya. Malam ini bulan tampak penuh meski terhalangan awan tipis yang berarak menuju ke utara. Gadis itu menghela nafas panjang. Lagi-lagi, ia teringat akan sang ayah. Sudah 1 bulan sejak kepergian ayahnya, tapi perasaan sakit itu masih membekas di hatinya. Ye In teringat wajah hangat ayahnya yang sangat ia cintai, kemudian wajah ibunya yang juga sangat ia cintai. Kini mereka berdua sudah tenang di alam sana, meinggalkan Ye In dalam duka yang tak tau kapan akan berakhir.

Setiap malam gadis itu selalu menatap langit. Melihat bintang-bintang yang berkelap kelip, sembari melantunkan doa. Doa untuk orang tuanya. Setiap malam, ia akan memejamkan mata dan berdoa pada Tuhan agar ayah dan ibunya tenang di sana. Ia ingin ketika ia beranjak tidur ia bisa bertemu dengan mereka, meski hanya dalam mimpi.

Seperti halnya malam ini, ketika dirinya baru saja selesai berdoa Ye In hendak beranjak ke tempat tidurnya. Tangannya sudah hampir menutup jendela saat matanya tiba-tiba menangkap sinar terang dilangit. Ye In memperhatikannya dengan seksama, dan semakin lama sinar itu semakin terang dan mendekat.

“bintang jatuh..” desah Ye In. Cepat cepat ia berlari keluar kamar dan menuruni tangga hingga ia sampai di halaman depan rumah. Bintang jatuh itu semakin bergerak dekat. Ye in yang malam itu mengenakan gaun tidur putih sebetis segera berlari tanpa alas kaki menuju bukit belakang rumahnya, tempat yang sepertinya akan dituju bintang jatuh itu.

Dan benar saja, ketika ia masih dikaki bukit Ye In tiba-tiba mendengar suara gemuruh mirip gempa bumi. Tanah yang dipijaknya sedikit bergetar. Sejenak ia berhenti berlari. Ia yakin, getaran dan suara gemuruh tadi berasal dari bintang jatuh itu. Tanpa pikir panjang ia kembali berlari menuju bukit yang tak seberapa tinggi itu. Ia menerobos semak belukar yang menghalangi, melompati pohon yang tumbang di depannya hingga sampai lah ia disebuah tanah datar yang ditengahnya tampak tanah cekung seperti kawah. Dari balik pohon ia masih bisa melihat kawah itu mengeluarkan asap dan debu.

Jantung Ye In berdetak lebih cepat, perlahan ia melangkah mendekati kawah itu. Ada perasaan takut yang tiba-tiba menyelimutinya,terlebih mengingat ia tengah berada di tengah hutan sendirian di malam hari dan hanya ditemani cahaya bulan yang redup. Tapi, rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia tak pernah melihat fenomena bintang jatuh sampai sedekat ini. Ia ingin melihat benda luar angkasa itu dari dekat, kalau perlu menyentuhnya.

Tapi, alangkah terkejutnya ia saat mendapati kawah didepannya itu kosong. Tak ada apa-apa di dalamnya. Ini mustahil, melihat ukuran kawah dan suara yang dihasilkan cukup besar seharusnya ada batu luar angkasa yang tergeletak di tengah kawah itu. Namun yang dilihat Ye In hanya kawah kosong yang sedikit retak, tanpa batu ataupun kerikil ditengahnya. Lalu jika benda itu habis tergerus atmosfe bumi, bagaimana kawah ini bisa terbentuk.

Gadis itu tak habis pikir, kemudian ia memberanikan diri melompat ke dalam kawah itu. Ia ingin memeriksanya lebih teliti. Tapi tetap saja, tidak ada apa-apa di dalam kawah ini.

“bagaimana bisa..” ucap Ye In bingung. Akhirnya, setelah lama tidak menemukan apapun ia memutuskan untuk naik kembali. Tetapi, matanya tiba-tiba menangkap sebuah benda kecil yang terselip disela-sela retakan tanah itu. Ye In berjongkok dan memungutnya.
“bulu..?”

Ya, di tangan Ye In kini terdapat sehelai bulu berarna putih yang cukup besar. Bulu itu seperti bulu angsan, tetapi ukurannya lebih besar.
“kenapa bisa ada bulu disini?”

Belum selesai keterkejutan atas benda yang ia temukan didalam kawah itu, tiba-tiba saja Ye In kembali dikejutkan dengan suara aneh yang muncul entah dari mana. Suara itu seperti suara benda yang diseret.

Sret.. srett...

Dan seketika, bulu roma Ye In berdiri. Entah mengapa suasan berubah menjadi mencekam. Gadis itu merasa ia sedang tidak sendirian. Perlahan ia menaiki bibir kawah hingga berhasil naik, dilihatnya ke sekeliling semak yang rimbun.

“siapa di sana..” suara gadis itu sedikit bergetar. Tidak ada jawaban. Tapi suara aneh itu masih jelas terdengar. Ye In menelan ludah dengan susah payah.

“si.. siapa di sana.?”

Ye In memutar pandangannya kesegala arah, tapi yang ia lihat hanya pohon-pohon yang berdiri kokoh dan juga semak belukar. Tak ada siapapun disana. Dan saat suara aneh itu terdengar semakin jelas. Ye In mengumpulkan keberaniannya untuk melangkah mundur. Ia ingin kembali kerumah, ia takut. Ia menggenggam erat bulu ditangannya, lalu kemudian berbalik. Dan....

“aaaahhhhhh...”

Gadis itu menjerit ketakutan saat didepannya berdiri sesosok tubuh. Tepat dihadapan gadis itu ia bisa melihat ada seseorang yang berjalan kearahnya. Ye In tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu karena terhalang oleh bayangan pepohonan serta akibat sinar bulan yang redup.

“si..siapa kau..?!” jelas sekali nada ketakutan dalam suara Ye In. Gadis itu berjalan mundur dan secepat kilat berlari menerobos orang tersebut. Tapi tiba-tiba langkahnya berhenti saat ia mendengar suara orang tersebut meminta tolong.

“to..tolong aku” meski terdengar lemah, tapi Ye In bisa mendengarnya dengan jelas. Gadis itu perlahan berbalik, dan tepat pada saat itu ia bisa melihat wajah orang tersebut. Wajah seorang pria yang begitu tampan, meski terdapat beberapa luka disana. Ye In kemudian berjalan mendekati pria tersebut. Ye In terkejut saat melihat kondisi pria yang mengenaskan itu. Baju yang dikenakan pria tersebut telihat sobek dibeberapa bagian, kening pria itu juga mengeluarkan darah.

“kau.. tak apa?” Ye In memberanikan diri menyentuh pundak si pria dan bertanya.
“tolong..aah” namun belum sempat pria itu menyelesaikan kata-katanya, ia sudah limbung dan mendarat tepat ditubuh Ye In. Karena gadis itu tak mampu menopang beban pria yang tiba-tiba pingsan kearahnya, Ye In akhirnya kehilangan keseimbangan.

“hwaa...”

Ye In memekik sebelum akhirnya mereka berdua jatuh kedalam kawah disamping mereka. Yang terakhir Ye In lihat adalah benda putih panjang yang tiba-tiba muncul dari balik punggung pria itu dan menyelimuti tubuhnya, setelah itu semuanya menjadi gelap.


to be continue..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar