Tittle : Down
To Earth
Cast :
- Lee Sungyeol 'INFINITE'
- Jeong Ye In 'LOVELYZ'
Other Cast : Infinite Members
Genre : Fiksi, romance
Leght : Chaptered
Author : Di
Cover by : [Genevra Design]
Chapter 1: Hukuman Percobaan
Ketika
seorang malaikat dianggap telah menyalahi kodratnya sebagai golongan makhluk
yang suci, maka tidak lama lagi ia akan segera dijatuhi hukuman. Seorang
malaikat jika ketahuan tidak menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang ada,
maka segeralah ia dihadapkan oleh peradilan tertinggi para malaikat. Ia akan
duduk didepan semua malaikat yang dianggap memiliki kedudukan tertinggi dan
segera diadili. Malaikat itu akan segera mengetahui hukuman yang akan diberikan
padanya, apakah hukuman percobaan atau hukuman kekal.
Sejak
dulu sistem ini telah menjadi aturan mutlak di dunia para malaikat. Mereka yang
dianggap tak mampu mengontrol hawa nafsunya akan segera di buang ke Bumi.
Apakah mereka menjalani hukuman percobaan, yaitu menjalani kehidupan manusia
bumi selama beberapa bulan dan bila waktunya habis bisa kembali kedunia para
malaikat. Atau hukuman kekal, yang artinya mereka sepenuhnya berubah menjadi
manusia dan menghabiskan sisa umur mereka di bumi. Mereka yang dijatuhi hukuman
kekal sebelum dijatuhkan ke bumi sebelumnya harus menjalani proses dimana sayap
mereka di potong, dan semua kekuatan mereka dihilangkan. Dan yang tersisa hanya
tubuh lemah tak berdaya, dengan semua ketamakan serta hawa nafsu yang menjadi
sifat dasar para manusia.
Mengapa
malaikat menganggap manusia sebagai simbol dari penghukuman. Alasannya, karena
manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki tempat lebih tinggi di sisi
Tuhan. Namun karena kesalahan yang mereka buat ketika masih berada di surga,
membuat Tuhan menurunkan derajat mereka dan membuang mereka di tempat yang
bernama bumi. Kalian tentu pernah dengar tentang sepasang manusia pertama yang
memakan buah larangan dari Tuhan. Akibat dari hawa nafsu mereka serta sifat
lemah yang gampang di hasut oleh setan, mereka akhirnya terpedaya dan memakan
buah itu, lalu berakhirlah mereka di bumi hingga saat ini. Oleh karena itulah,
malaikat yang dianggap tak mampu menahan godaan akan disejajarkan dengan
manusia bumi, di buang ke bumi sebagai penghukuman atas kesalahan mereka.
Sudah
banyak dari malaikat yang dibuang ke bumi. Ada yang sadar dan di kembalikan ke
langit, namun tak sedikit pula yang bernasib sial hingga menjadi manusia
sepenuhnya. Menjalani hidup sebagai manusia, merasakan apa yang namanya
perasaan sakit, lelah, putus asa, hingga kematian. Tapi, dibalik semua itu ada
satu perasaan yang benar-benar mampu membuat para malaikat iri. Perasaan yang
mampu membuat banyak dari malaikat yang dibuang ke bumi malah ingin menjadi
manusia sepenuhnya. Perasaan yang tak di miliki para malaikat. Perasaan yang
begitu murni dan suci yang berasal dari hati para manusia. Perasaan yang
bernama cinta.
***
Sejak
diciptakan dari serpihan cahaya bintang sirius 500.000 tahun lalu, Lee Sungyeol
malaikat yang tergolong masih muda itu telah manaruh hasrat tentang dunia para
manusia. Entah apa yang membuatnya begitu tertarik tentang makhluk tak kekal
yang memiliki bentuk fisik hampir mirip dengan kaumnya itu. Namun yang pasti,
sejak kejadian tak terduga subuh itu, membuatnya semakin menaruh keingintahuan
besar terhadap manusia.
Sungyeol
masih ingat ketika ia ditugaskan untuk menemui seorang pria paruh bayah yang
terbaring lemah disebuah ranjang rumah sakit. Subuh itu, Ia datang untuk
memberi tahu bahwa sudah saatnya pria itu kembali ke tempat asalnya, keribahan
Tuhan. Yah, Sungyeol adalah malaikat yang ditugaskan untuk menjemput mereka
yang telah mencapai batas akhir kehidupan di bumi. Atau yang lebih sering kita
dengar sebagai malaikat kematian. Terkadang Sungyeol bingun dengan julukan yang
diterima malaikat sejenisnya. Menurutnya julukan itu salah besar, Tuhan lah
yang menciptakan kematian sebagaimana Ia menciptakan kehidupan. Ia hanya
perantara, menjemput roh seseorang yang akan terpisah dengan jasadnya. Jadi
tidak benar jika ia disebuat malaikat kematian. Mungkin julukan yang tepat
baginya adalah, malaikat penjemput. Itu terdengar lebih masuk akal.Setidaknya
itu yang ia pikirkan.
Subuh
itu, saat ia tengah berdiri dihadapan pria paruh bayah yang terbaring tak
berdaya tersebut. Tiba-tiba saja ia mendengar suara isakan seorang gadis.
Sungyeol memang bukan baru pertama kali mendengar suara tangisan. Jujur saja,
hampir setiap kali mendatangi mereka yang akan ‘pulang’ ia akan selalu
mendengar suara tangisan. Dan Sungyeol sudah mengerti bahwa itu bentuk perasaan
lain dari manusia, perasaan yang dinamakan kesedihan. Biasanya orang-orang
terdekat yang dinamakan keluarga, akan menangis disaat detik-detik terakhir ia
memanggil roh seseorang agar keluar dari jasadnya. Dan itu tak mengganggunya
sama sekali.
Namun,
entah mengapa suara tangisan kali ini terdengar berbeda. Ada perasaan aneh yang
tiba-tiba membuat Sungyeol merasa perlu untuk mencari tahu. Ia melangkah pelan
menuju sebuah ruangan yang agak redup. Ruangan itu hanya dibatasi oleh sebuah
rak buku panjang dan besar. Saat itu, Sungyeol bisa melihat seorang wanita
tengah bersimpuh didepan dinding yang disitu terdapat patung Tuhan. Sungyeol
bisa melihat kedua tangan gadis itu terkepal satu sama lain. Dan hal
selanjutnya yang dapat ia lihat adalah, di wajah gadis itu tampak bulir-bulir
air mata yang mengalir di pipinya.
Sungyeol
bisa mendengar suara lirih gadis muda itu. Disela-sela isakannya, terdengar
rapalan doa yang ia tujukan pada Tuhan.
“Tuhan, tolong
selamatkan ayahku”
“Tuhan, aku mohon. Aku
mohon padaMu, jangan ambil dia. Dia satu-satunya keluargaku. Dia satu-satunya
orang yang aku cintai. Tuhan, belum cukupkah Engkau mengambil ibuku?”
“Tuhan, aku mohon. Aku
belum siap berpisah dengannya. Aku tak ingin menjadi anak yatim piatu”
“aku tak ingin. Aku
mencintai ayahku..hiks”
Pada
saat itu, Sungyeol merasa ada yang aneh pada dirinya. Ia merasa, ada perasaan
berbeda yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya dadanya sulit untuk
bernafas, berat dan terasa sakit. Apa ini? Sungyeol tak mengerti apa yang
terjadi. Ingin rasanya ia mengelus puncak kepala gadis itu. Mendengar doanya
barusan, membuatnya berat untuk melangkah kembali menuju ruangan tempat pria
paruh bayah yang ternyata ayah gadis itu .
Namun,
waktunya tak banyak lagi. Dengan terpaksa ia melangkah keruangan sebelah.
Ditatapnya wajah pria yang terbaring lemah didepannya. Lalu..
“bangaunlah,
sudah waktunya kau pulang” suara Sungyeol terdengar lebih pelan dari biasanya.
Tak
lama, segaris cahaya keluar dari tubuh didepannya. Itulah roh pria tua itu.
Seiring dengan keluarnya cahaya putih keemasan itu, terdengar bunyi nyaring
kecil dari sebuah alat yang terletak disamping ranjang si pria. Alat yang sejak
tadi menunjukkan garis-garis bergelombang yang tak beraturan itu kini telah
berubah menjadi garis lurus. Pria paruh baya itu telah meninggal.
Sejenak
Sungyeol mengamati wajah roh yang berdiri dihadapannya. Bercahaya. Ia tampak
damai dengan senyum kecil dibibirnya. Roh itu balas menatap Sungyeol, ia
sedikit mengangguk. Ia telah siap untuk kembali ke asalnya, akhirat. Tak lama
terdengar langkah cepat dari belakang. Ternyata langkah itu milik gadis muda
tadi, wajahnya terlihat pias. Dengan cepat ia mendekati ranjang sang ayah,
tatapannya nanar saat mendapati alat yang berbunyi nyaring tadi menampakkan
garis lurus tampa gelombang. Sontak saja ia menjerit, menangis dengan suara
yang cukup keras. Dipeluknya sang ayah yang sudah tak bernyawa.
“ayahh....!”
Suara
jeritannya memecah keheningan subuh itu.
Sungyeol
terpaku melihat pemandanga didepannya. Memang bukan yang pertama kalinya,
sungguh! Ia bahkan sudah menganggap hal ini biasa. Namun entah karena apa, kali
ini ia merasa berbeda. Didepannya roh dari ayah gadis itu berjalan mendekati
putrinya yang masih menangis sambil memeluk jasadnya. Ia mengelus puncak kepala
gadis itu, untuk terakhir kalinya sebelum roh itu memudar dan pergi untuk
selama-lamanya. Gadis itu tak merasakannya. Ia hanya terus saja memanggil
ayahnya yang sudah tak bernyawa.
Melihat
wajah sedih gadis didepannya membuat Sungyeol berat untuk pergi. Ditatapnya
lekat wajah sang gadis, ia seolah bisa merasakan kesedihannya. Sungyeol merasa
bersalah. Yah, mungkin ini yang membuatnya berat untuk pergi. Hingga tanpa di
duga, gadis itu berjalan kearahnya. Sungyeol hampir saja bersentuhan dengan
gadis itu jika saja ia tidak mundur selangkah. Untuk sepersekian detik Sungyeol
merasa, mereka saling bertatapan satu sama lain. Sungyeol dengan jelas bisa
menatap manik mata yang penuh kesedihan itu. Apakah gadis itu sadar akan
kehadiran Sungyeol?
tapi
ternyata gadis itu malah mendekati dinding dibelakang Sungyeol. Sebuah tombol
yang terpasang didinding itu ia pencet dengan tergesa-gesa. Gadis itu terus
saja memencet tombol yang berada tepat diatas kepala sang ayah. tak lama
beberapa orang berbaju putih berjalan masuk. Gadis itu menghampiri salah satu
diantaranya, ia menarik-narik bajunya sembari terus terisak.
“ayahku..”
“tolong
ayahku..”
Itu
yang Sungyeol dengar. Sungyeol semakin merasa bersalah. Diantara banyaknya kasus
yang ditugaskan padanya, entah mengapa kali inilah yang ia rasa paling berat.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul didalam dirinya. Perasaan sedih,
bersalah, serta satu lagi, perasaan ingin memeluk tubuh rapuh gadis itu. Apa
nama perasaan ini? Apakah ini yang namanya cinta? Entahlah...
***
Seminggu
sudah sejak kejadian hari itu, Sungyeol diam-diam memiliki kegiatan baru.
Setiap malam, ketika dirinya sedang tak bertugas ia akan turun ke bumi. Ia akan
mengintip dari balik awan yang bergantung rendah dilangit dan mengamati sesosok
manusia. Yah, siapa lagi kalau bukan gadis itu. Gadis yang telah membuatnya
merasakan 3 jenis perasaan aneh yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.Yang
membuatnya selalu mengingat wajah sedih gadis itu. Yang membuatnya terus
teringat akan rapalan doa gadis itu. Ini aneh, benar-benar aneh!
Dan
malam ini, setelah ia baru saja menjemput roh seorang ibu yang melahirkan
Sungyeol segera pergi. Malaikat dengan paras tampan itu terbang rendah hingga
langit pertama dan segera menuju tempat gadis itu. Sayapnya yang menawan
terbuka lebar lalu menukik dan bersembunyi dibalik awan. Dari situ, ia bisa
melihat gadis berwajah sendu tersebut. Gadis itu tengah bertopang dagu dikusen
jendala kamarnya, menatap hamparan langit malam yang penuh bintang.
Sungyeol
memang malaikat yang berbeda. Ia seolah sudah hapal tempat-tempat persembunyian
yang aman dari penglihatan manusia tiap kali dirinya turun ke bumi. Alasannya,
karena sejak dulu malaikat yang satu ini suka sekali terbang ke bumi dan
mengamati keindahan alam ciptaan Tuhan. Ia selalu suka menghabiskan malam
dengan berbaring dihamparan awan sembari menatap bulan serta bintang sirius,
bintang yang menjadi sebagian dari dirinya. Dan tempat favoritnya adalah, awan
comolunimbus yang berada tepat ditengah samudra fasifik. Dari situ ia bisa
mendengar suara paling merdu di bumi, suara laut. Dari situ pula ia bisa
meraskan sejuknya angin melewati setiap lembar bulu disayapnya. Sejatinya, ia
benar-benar takjup dengan bumi dan segela isinya.
Namun
malam ini, ada yang lebih menakjupkan baginya ketimbang suara laut serta
hembusan angin samudra pasifik. Gadis itu. Gadis itu seolah menyedot semua
perhatiannya. Setiap kali menatap wajah sendu itu, Sungyeol bisa merasakan
jantungnya berdetak lebih kencang. Terlebih saat mata coklat yang indah itu
mengalirkan bulir air mata, Sungyeol merasakan dirinya ingin terbang lebih
rendah dan segera menarik tubuh gadis itu kedalam dekapannya. Dada Sungyeol
merasa sesak tiap kali gadis itu menangis.
Oh Gadis berwajah sendu,
siapakah gerangan dirimu?
Engkau jelas bukan dari
kelangan bidadari,namun pesonamu lebih dari pada mereka.
Oh Gadis berwajah sendu,
telah kau apakan diriku ini?
Bahkan hanya melihat
wajahmu saja, diriku lupa siapa diriku sebenarnya.
***
Baiklah,
ini sudah kali ke 3 Sungyeol mendapat teguran. Yang berarti sudah saatnya ia
duduk dikursi peradilan malaikat. Sudah cukup kesalahan yang ia lakukan untuk
membuatnya duduk dikusi pesakitan kaumnya sendiri. Kini ia sudah dihadapkan
dengan semua malaikat-malaikat yang dianggap memiliki kedudukan tertinggi.
Salah satunya, malaikat bernama Gabriel menatap Sungyeol dari ujung kaki sampai
ke ujung kepala. Wajahnya yang penuh kharisma, sama sekali tak menunjukkan
kalau ia telah hidup bahkan sebelum bumi diciptakan.
“Baiklah
malaikat Sungyeol, silahkan duduk”
Terdengar
suara berat Gabriel yang sontak membuat semua malaikat yang hadir pada
persidangan itu terdiam. Sungyeol sendiri dengan wajah tenang menuruti perintah
malaikat tersebut.
“beberapa
kali lalai dalam menjalankan tugas, 2 kali absen dalam penugasan, dan beberapa
kali kedapatan turun ke bumi dengan alasan yang tidak jelas. Serta terakhir
kali terlihat dalam jarak yang sangat dekat dengan manusia diluar objek
penugasan” terdengar suara seorang malaikat bernama Balem yang duduk disebelah
malaikat Gabriel menguraikan semua kesalahan Sungyeol dalam beberapa minggu
terakhir.
“ini
sudah diluar batas toleransi Lee Sungyeol. Menurutmu apa yang sedang kau lakukan?”
malaikat Gabriel berkata dengan tegas.
Sungyeol
hanya bisa menunduk, namun raut wajahnya sama sekali tidak berubah. Ia sadar,
ia sudah terlalu lalai belakangan ini. Tapi ia juga tidak bisa menahan dirinya.
Entah mengapa, dirinya yang selalu mampu menahan godaan dan bersikap
perfeksionis itu tiba-tiba saja berubah menjadi sosok malaikat yang sering
mengabaikan tugas. Padahal ia adalah golongan malaikat yang memiliki tugas
sangat krusial, yaitu mengurus tentang hidup dan mati seseorang. Ini semua
karena satu alasan, gadis itu. Yah, gadis itulah yang sudah membuatnya seperti
ini. Ada apa dengan dirinya?
“kami
sudah sepakat untuk memberikan anda hukuman” suara berat Gabrial lagi-lagi
terdengar. “anda kami kenai hukuman percobaan selama 3 bulan. Kami harap dengan
hukuman ini, anda bisa kembali menjadi malaikat yang patuh”
Mendengar
hukuman telah dijatuhkan, sayup-sayup terdengar suara kepakan sayap. Beberapa
malaikat yang hadir saat itu telah pergi, meninggalkan tempat peradilan.
Memang, kebanyakan dari mereka hanya datang untuk mendengarkan jenis hukuman
apa yang akan diberikan. Dan mendengar hukuman percobaan telah ditetapkan, tak
ada lagi urusan bagi mereka untuk menyaksikan lebih lanjut.
Sungyeol
sendiri masih diam. Ia mengangkat kepalanya dan menatap malaikat Gabriel. Kini
saatnya Sungyeol untuk menjalani masa hukumannya. Namun entahlah, apakah ia
akan kembali menjadi malaikat yang patuh atau justru malah menjadi manusia
selamanya. Ia tak yakin. Hukuman percobaan, artinya ia akan di turunkan ke bumi
selama tiga bulan. Dan pada saat itu, ia malah akan semakin sering melihat
gadis itu. Sungyeol tak tau, apakah ia harus sedih atau senang.
Malaikat
dengan paras tampan itu kemudian berjalan menuju portal. Tempat dimana malaikat
yang menjalani hukuman akan dibuang dan jatuh ke bumi. Tepat pada saat itu,
setengah dari kekuatan malaikat mereka akan hilang, namun tidak dengan
sayapnya. Sayap malaikat yang menjalani hukuman percobaan akan tetap ada, namun
mereka dituntut untuk tidak menunjukkannya di depan umum. Begitulah mekanisme
hukuman percobaan. Sejenak Sungyeol menengok kebelakang. Disana ia bisa melihat
sesosok malaikat menatapnya dengan ekspersi datar. Nam Woohyun, malaikat yang
bertugas mengatur mimpi. Malaikat yang dekat dengannya, temannya.
Sungyeol
tau Woohyun kecewa pada dirinya. Woohyun sudah sering mengingatkan Sungyeol
agar menjaga jarak dengan manusia. Namun, dia lengah dan akhirnya berakhir
seperti ini.
“maafkan aku Nam
Woohyun..”
Itulah
kata-kata terakhir malaikat Sungyeol sebelum masuk kedalam portal.
***
Ye
In menatap hamparan langit malam dari balik jendela kamarnya. Malam ini bulan
tampak penuh meski terhalangan awan tipis yang berarak menuju ke utara. Gadis
itu menghela nafas panjang. Lagi-lagi, ia teringat akan sang ayah. Sudah 1
bulan sejak kepergian ayahnya, tapi perasaan sakit itu masih membekas di
hatinya. Ye In teringat wajah hangat ayahnya yang sangat ia cintai, kemudian
wajah ibunya yang juga sangat ia cintai. Kini mereka berdua sudah tenang di
alam sana, meinggalkan Ye In dalam duka yang tak tau kapan akan berakhir.
Setiap
malam gadis itu selalu menatap langit. Melihat bintang-bintang yang berkelap
kelip, sembari melantunkan doa. Doa untuk orang tuanya. Setiap malam, ia akan
memejamkan mata dan berdoa pada Tuhan agar ayah dan ibunya tenang di sana. Ia
ingin ketika ia beranjak tidur ia bisa bertemu dengan mereka, meski hanya dalam
mimpi.
Seperti
halnya malam ini, ketika dirinya baru saja selesai berdoa Ye In hendak beranjak
ke tempat tidurnya. Tangannya sudah hampir menutup jendela saat matanya
tiba-tiba menangkap sinar terang dilangit. Ye In memperhatikannya dengan
seksama, dan semakin lama sinar itu semakin terang dan mendekat.
“bintang
jatuh..” desah Ye In. Cepat cepat ia berlari keluar kamar dan menuruni tangga
hingga ia sampai di halaman depan rumah. Bintang jatuh itu semakin bergerak
dekat. Ye in yang malam itu mengenakan gaun tidur putih sebetis segera berlari
tanpa alas kaki menuju bukit belakang rumahnya, tempat yang sepertinya akan
dituju bintang jatuh itu.
Dan
benar saja, ketika ia masih dikaki bukit Ye In tiba-tiba mendengar suara
gemuruh mirip gempa bumi. Tanah yang dipijaknya sedikit bergetar. Sejenak ia
berhenti berlari. Ia yakin, getaran dan suara gemuruh tadi berasal dari bintang
jatuh itu. Tanpa pikir panjang ia kembali berlari menuju bukit yang tak
seberapa tinggi itu. Ia menerobos semak belukar yang menghalangi, melompati
pohon yang tumbang di depannya hingga sampai lah ia disebuah tanah datar yang
ditengahnya tampak tanah cekung seperti kawah. Dari balik pohon ia masih bisa
melihat kawah itu mengeluarkan asap dan debu.
Jantung
Ye In berdetak lebih cepat, perlahan ia melangkah mendekati kawah itu. Ada
perasaan takut yang tiba-tiba menyelimutinya,terlebih mengingat ia tengah
berada di tengah hutan sendirian di malam hari dan hanya ditemani cahaya bulan
yang redup. Tapi, rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia tak pernah melihat
fenomena bintang jatuh sampai sedekat ini. Ia ingin melihat benda luar angkasa
itu dari dekat, kalau perlu menyentuhnya.
Tapi,
alangkah terkejutnya ia saat mendapati kawah didepannya itu kosong. Tak ada
apa-apa di dalamnya. Ini mustahil, melihat ukuran kawah dan suara yang
dihasilkan cukup besar seharusnya ada batu luar angkasa yang tergeletak di
tengah kawah itu. Namun yang dilihat Ye In hanya kawah kosong yang sedikit
retak, tanpa batu ataupun kerikil ditengahnya. Lalu jika benda itu habis
tergerus atmosfe bumi, bagaimana kawah ini bisa terbentuk.
Gadis
itu tak habis pikir, kemudian ia memberanikan diri melompat ke dalam kawah itu.
Ia ingin memeriksanya lebih teliti. Tapi tetap saja, tidak ada apa-apa di dalam
kawah ini.
“bagaimana
bisa..” ucap Ye In bingung. Akhirnya, setelah lama tidak menemukan apapun ia
memutuskan untuk naik kembali. Tetapi, matanya tiba-tiba menangkap sebuah benda
kecil yang terselip disela-sela retakan tanah itu. Ye In berjongkok dan
memungutnya.
“bulu..?”
Ya,
di tangan Ye In kini terdapat sehelai bulu berarna putih yang cukup besar. Bulu
itu seperti bulu angsan, tetapi ukurannya lebih besar.
“kenapa
bisa ada bulu disini?”
Belum
selesai keterkejutan atas benda yang ia temukan didalam kawah itu, tiba-tiba
saja Ye In kembali dikejutkan dengan suara aneh yang muncul entah dari mana.
Suara itu seperti suara benda yang diseret.
Sret..
srett...
Dan
seketika, bulu roma Ye In berdiri. Entah mengapa suasan berubah menjadi
mencekam. Gadis itu merasa ia sedang tidak sendirian. Perlahan ia menaiki bibir
kawah hingga berhasil naik, dilihatnya ke sekeliling semak yang rimbun.
“siapa
di sana..” suara gadis itu sedikit bergetar. Tidak ada jawaban. Tapi suara aneh
itu masih jelas terdengar. Ye In menelan ludah dengan susah payah.
“si..
siapa di sana.?”
Ye
In memutar pandangannya kesegala arah, tapi yang ia lihat hanya pohon-pohon
yang berdiri kokoh dan juga semak belukar. Tak ada siapapun disana. Dan saat
suara aneh itu terdengar semakin jelas. Ye In mengumpulkan keberaniannya untuk
melangkah mundur. Ia ingin kembali kerumah, ia takut. Ia menggenggam erat bulu
ditangannya, lalu kemudian berbalik. Dan....
“aaaahhhhhh...”
Gadis
itu menjerit ketakutan saat didepannya berdiri sesosok tubuh. Tepat dihadapan
gadis itu ia bisa melihat ada seseorang yang berjalan kearahnya. Ye In tidak
bisa melihat dengan jelas wajah orang itu karena terhalang oleh bayangan
pepohonan serta akibat sinar bulan yang redup.
“si..siapa
kau..?!” jelas sekali nada ketakutan dalam suara Ye In. Gadis itu berjalan
mundur dan secepat kilat berlari menerobos orang tersebut. Tapi tiba-tiba
langkahnya berhenti saat ia mendengar suara orang tersebut meminta tolong.
“to..tolong
aku” meski terdengar lemah, tapi Ye In bisa mendengarnya dengan jelas. Gadis
itu perlahan berbalik, dan tepat pada saat itu ia bisa melihat wajah orang
tersebut. Wajah seorang pria yang begitu tampan, meski terdapat beberapa luka
disana. Ye In kemudian berjalan mendekati pria tersebut. Ye In terkejut saat
melihat kondisi pria yang mengenaskan itu. Baju yang dikenakan pria tersebut
telihat sobek dibeberapa bagian, kening pria itu juga mengeluarkan darah.
“kau..
tak apa?” Ye In memberanikan diri menyentuh pundak si pria dan bertanya.
“tolong..aah”
namun belum sempat pria itu menyelesaikan kata-katanya, ia sudah limbung dan
mendarat tepat ditubuh Ye In. Karena gadis itu tak mampu menopang beban pria
yang tiba-tiba pingsan kearahnya, Ye In akhirnya kehilangan keseimbangan.
“hwaa...”
Ye
In memekik sebelum akhirnya mereka berdua jatuh kedalam kawah disamping mereka.
Yang terakhir Ye In lihat adalah benda putih panjang yang tiba-tiba muncul dari
balik punggung pria itu dan menyelimuti tubuhnya, setelah itu semuanya menjadi
gelap.
to be continue..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar