Rabu, 04 Maret 2015

My Mistake (Fanfiction Lee Kiseop 'UKISS' & Lee Soo Jeong 'LOVELYZ')


Tittle               : My Mistake
Cast                : Lee Kiseop ‘Ukiss’, Lee Soo Jeong ‘Lovelyz’, Kevin ‘Ukiss’
Support cast  : Lee Sungyeol ‘Infinite’
Author            : Ddeokbokkie a.k.a Widi
Lenght            : one shoot
Genre              : sad, romance
Backsound     : Ukiss- Playground-
Cover by         : K.RSYeo ART



Kiseop masih bisa mengingat dengan jelas wangi citrus yang tercium tiap kali ia mengecup lembut puncak kepala Soo Jeong. Wangi yang begitu menyegarkan sekaligus menenangkan bagi Kiseop, membuatnya selalu ingin mendekap gadis itu dan tak ingin melepaskannya. Masih jelas dalam ingatan Kiseop tantang betapa indahnya senyum Soo Jeong dipagi hari saat ia membuka mata. Mendapati gadis itu menatapnya  dengan sebuah senyuman dan tanpa berkata-kata, membuat pagi Kiseop selalu hangat meski musim dingin masih enggan meninggalkan kota Seoul.

Hangat dan bahagia, setidaknya begitulah yang Kiseop rasakan beberapa tahun lalu sebelum badai itu datang dan merenggut semua kehangatan yang ia rasakan. Membawa serta Soo Jeong dan wangi citrusnya, membawa pargi gadis itu beserta senyumnya yang indah. Badai yang seharunya tak pernah datang jika saja Kiseop tidak dengan sengaja memanggilnya.

Dan sekarang di sinilah ia berada, di sebuah bar yang tak begitu ramai dengan hanya ada segelas bir yang setia menemaninya. Pria itu menatap lekat gelas kecil berisi cairan kuning kecoklatan itu. Menatap es batu yang semakin lama semakin kecil, meleleh seiring berjalannya waktu. Kiseop kemudian mendesah berat, merasakan dadanya sedikit sesak entah karena alasan apa.

“kau masih belum pulang dude?” suara seseorang membuyarkan lamunan Kiseop. Di depannya telah berdiri Soohyun, bartender sekaligus temannya. Soohyun menatap Kiseop dengan ekspresi prihatin. “masih belum bisa melupakannya, huh?” Soohyun maju selangkah dan meletakkan gelas serta serbet ditangannya.

Kiseop tak menjawab dan masih setia menatap gelas bir didepannya. Bibirnya sedikit terangkat, membuat segaris senyum tipis. Senyum tanda mengiyakan. Melupakan huh? Entahlah, Kiseop bahkan tak ingat lagi dengan kata-kata itu. Seolah kata itu tak pernah ada dalam kamusnya. Seolah kata itu bukan untuknya. Yah, seberapa keras usahanya untuk melupakan Soo Jeong, Kiseop tidak pernah berhasil. Jangankan melupakan, bahkan semakin ia berusaha kenangan akan gadis itu malah semakin jelas berputar dikepalanya. Seolah menghantuinya seumur hidup.

Dan tanpa sadar, air mata pria itu mulai jatuh membasahi meja bar didepannya. Jatuh begitu saja tanpa bisa Kiseop bendung. Membuatnya merasa menjadi pria lemah, pria pengecut yang hanya bisa melukai hati seorang gadis yang begitu mencintainya. Pria lemah yang bahkan tak bisa mempertahankan gadis yang begitu ia cintai. Pria tak berguna yang pantas mendapatkan apa yang ia rasakan sekarang. Penyesalan yang tak ada ujungnya.


***

Malam itu, suhu udara cukup untuk membekukan sekaleng sarden bila kau letakkan dihalaman depan rumahmu. Kiseop dengan nafas yang memburu menarik kasar lengan Soo Jeong keluar dari sebuah bangunan. Ia berjalan dengan langkah cepat tanpa memperdulikan Soo Jeong yang sejak tadi merintih karena tangannya yang terasa perih akibat dicengkram terlalu keras.

“lepaskan aku Kiseop!” Soo Jeong memekik, masih berusaha melepaskan tangannya dari Kiseop. “aku mohon, ini menyakitkan!”

Tapi seolah suara Soo Jeong tertelan badai salju, Kiseop tak menggubris sedikitpun dan terus melangkah.

“Kiesop!”

“Lee Kiseop, lepaskan aku auu!”

“kau mau membawaku kemana?!”

“tolong dengarkan penjelasanku dulu”

Dan tiba-tiba Kiseop menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan dengan kasar melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Soo Jeong. Ia menatap gadis didepannya dengan penuh amarah, dadanya naik turun menahan emosi yang memuncah.

“penjelasan? Kau mau menjelaskan apa huh?!” suara Kiseop terdengar lantang. Tatapannya mulai kabur akibat air mata yang entah sejak kapan mulai memenuhi pelupuk matanya. Perasaan yang begitu aneh memenuhi relung dadanya, perasaan marah, kecewa, dan tak percaya seolah bercampur menjadi satu dan membuat perutnya terasa mual. Ia ingin menendang sesuatu, menghancurkan sesuatu sekarang juga.

Soo Jeong sendiri hanya bisa menunduk, menggigit bibir bawahnya dan tak berani menatap Kiseop. Air matanya pun sudah mengalir, jatuh dan menghilang begitu cepat diantara salju yang tengah ia pijak.

“aku mohon jangan seperti ini” suara Soo Jeong terdengar lirih disela-sela tangisnya.

“arggghhh...” Kiseop mengerang frustasi, ia menjambak rambutnya sendiri lalu menendang sebuah tong sampah besi didekatnya hingga benda itu terhempas dan menimbulkan bunyi yang cukup memekikkan telinga. Soo Jeong tersentak kaget dan semakin memperdalam tangisannya.

“aku mencintaimu Soo Jeong! Aku mencintaimu” Kiseop berkata masih dengan nada suara yang tinggi. “aku mencintaimu, memberikanmu segalanya dan hanya ini yang kuterima darimu?” suaranya sedikit melemah.

“ini tak seperti yang kau pikirkan Kiseop” Soo Jeong maju selangkah hendak menyentuh pundak Kiseop. Namun, dengan cepat Kiseop melangkah mundur, ia tak ingin satu sentuhan dari Soo Jeong membuatnya luluh dan melupakan amarahnya. Soo Jeong sendiri terpana dengan sikap Kiseop.

“aku bisa menjelaskannya sayang, aku mohon dengarkan aku”

“penjelasan apa lagi?! Penjelasan bahwa, bahwa aku mendapatimu tengah berduaan dengan Kevin huh! Penjelasan bahwa kau membatalkan makan malam kita karena kau ingin menemui Kevin diapartemannya huh! Kau ingin menjelaskan bahwa kau berselingkuh dengan Kevin. Dengan sahabatku sendiri?!”  Kiseop tercekat menahan tangis. Hatinya hancur berkeping-keping bak gelas kaca yang jatuh menghujam lantai. Hancur menjadi serpihan kecil yang terasa begitu menyakitkan.

Mendapati kekasihnya tengah berduaan dengan sahabatnya sendiri, saling melempar tawa tanpa beban sedikitpun membuat Kiseop merasa dihianati. Betapa tidak, ia sudah menunggu Soo Jeong sejak 1 setengah jam lalu untuk janji makan malam tapi gadis itu tak kunjung datang. Ia meneleponnya tapi ia sama sekali tak menjawabnya. Mengiriminya sms tapi tak satupun yang ia balas.

Saat itu Kiseop merasa khawatir, takut terjadi apa-apa dengannya. Ia sudah menelepon adik Soo Jeong dan berkata bahwa kakaknya sudah berangkat sejak tadi. Tapi mengapa gadis itu tak datang juga. Hati Kiseop mulai resah, hingga ia memutuskan untuk mencarinya. Lalu, ia teringat Kevin sahabatnya. Pria yang telah mengenalkannya pada Soo Jeong. Kiseop  hendak menemui Kevin, siapa tau ia bisa membantunya mencari Soo Jeong. Atau sekedar memberi tahukan tempat yang sering Soo Jeong kunjungi, mengingat Kevin lebih lama mengenal Soo Jeong daripada dirinya.

Namun seolah ada seseorang yang menikamnya dengan belatih, sakit yang ia rasakan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seolah tiba-tiba kakinya lumpuh dan tak mampu menopang berat badanya, lututnya terasa begitu lemah. Beginikah rasanya? Rupanya begini rasanya dihianati oleh orang yang kita sayangi, yang kita percaya bahkan melebihi saudara kandung sendiri. Beginikah rasa sakit saat melihat kekasihmu lebih memilih bersama orang lain. Bukan, jangan katakan orang lain! Dia sahabatmu sendiri. Dihinati begitu saja, seolah dirimu tak pernah ada didunia ini.

Hanya hitungan detik, namun Kiseop merasa waktu berjalan begitu lambat. Tanpa sadar ia mencengkram dadanya sendiri. Meremasnya untuk menahan rasa sakit yang teramat sangat. Lalu, dengan langkah berat ia berjalan maju. Menemui mereka yang tengah duduk berdua ditempat tidur. Kiseop tak ingin membayangkan apa yang akan atau apa yang telah mereka berdua lakukan. Terlalu menakutkan, terlalu menyakitkan.

“Soo Jeong-ah” suara Kiseop tercekat ditenggorokan. Ia menelan ludah dengan susah payah.

Mendengar seseorang memanggil namanya, Soo Jeong segera menoleh dan tersentak saat mendapati kekasihnya Kiseop sudah berdiri dihadapanya. Kevin pun melempar pandangannya kearah mata Soo Jeong. raut wajahnya segera berubah, senyum yang sejak tadi melekat dibibirnya seolah hilang terbawa angin musim dingin yang berhembus dari arah jendela.

“Kiseop-ah” desah Soo Jeong seolah tak percaya.

Lalu tiba-tiba, kesunyian datang menyelubungi mereka. Ketiganya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak ada yang bersuara untuk waktu yang cukup lama. Tapi dibalik diam yang menyelimuti, ada bulir-bulir air mata yang mampu menjelaskan kepedihan dihati Kiseop. Ada desahan berat yang menandakan perasaan bersalah dihati Kevin. Serta, langkah pelan yang Soo Jeong ambil untuk mencoba meraih jemari Kiseop. Gadis itu menggeleng pelan, seolah mengerti arah pikiran Kiseop. Dan dengan hati-hati ia meraba pipi kekasihnya itu, menghapus air mata yang mengalir dari mata coklat pria yang ia cintai itu.

Soo Jeong bisa merasakan air mata yang dingin, pipi yang bak es itu. Nafas Kiseop yang berhembus  tak beraturan. Soo Jeong tau, betapa Kiseop tengah bersusah payah meredam emosinya.

“ini tak seperti yang kau fikirkan Kiseop” Soo Jeong akhirnya memecah kesunyian yang ada, lalu dengan cepat memeluk pria yang berdiri kaku dihadapannya. “tolong jangan berpikir seperti itu” gadis itu mendesah didada bidang Kiseop.

Kevin yang juga sejak tadi diam, akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia melangkah perlahan kearah Kiseop dan Soo Jeong. tatapan matanya tak sedikitpun lepas dari mata pria yang berdiri dihadapannya sekarang.

“aku bisa jelaskan padamu” suara Kevin terdengar sedikit bergetar.

“menjelaskan apa?” Kiseop pun akhirnya membuka mulut. Tubuhnya yang sejak tadi dirangkul oleh Soo Jeong perlahan melangkah maju. Ia melepaskan Soo Jeong, membuat gadis itu semakin terisak. Kiseop menatap Kevin tajam lalu dengan cepat menarik kerah baju sahabatnya itu. Kevin tak berusaha menepis, ia hanya memilih diam.

“menjelaskan apa huh?!” Kiseop berteriak tepat diwajah Kevin. “kau ingin menjelaskan bahwa kau telah menghianati sahabatmu sendiri! Kau ingin menjelaskan bahwa kau sudah tidur dengan pacar sahabatmu sendiri huh?! Kau ingin menjelaskan bahwa kau ingin merebut gadis ini dariku? Iya, benar begitu?” Kiseop meneriakkan kata-kata yangsejak tadi ia tahan tepat dihadapan Kevin, dengan kasar ia meraih lengan Soo Jeong lalu menghempaskan gadis itu kearah Kevin. Soo Jeong hanya bisa pasrah sembari terus menahan tangis meskipun ia hampir saja terjatuh jika saja Kevin tak menahan tubuhnya. Tubuh kecilnya bergetar hebat, tak pernah sekalipun ia melihat Kiseop semarah itu.

Kevin menatap nanar Kiseop, tatapannya memelas seolah mengisyaratkan agar Kiseop tenang dan ingin mendengarkan penjelasan darinya. Namun tetap saja pria dihadapannya itu sama sekali tak ingin tahu, ia memalingkan muka dari Kevin, memejamkan matanya sejenak untuk menghentikan air mata yang sejak tadi membanjiri pipinya. Kiseop tak pernah menangis didepan orang lain, bahkan didepan sahabatnya sekalipun. Baginya menangis hanya untuk didirnya sendiri, tak usah ada orang lain yang melihat. Baginya air mata untuk seorang pria adalah pertanda bahwa ia tengah berada dititik terlemah dirinya. Yah, seperti saat ini. Kiseop merasa ia begitu lemah dihadapan dua orang itu.

Lalu tak berapa lama, Kiseop dengan gerakan cepat menghujam pipi kiri Kevin dengan sebuah pukulan. Melihat hal itu, Soo Jeong menjerit dan segera menarik lengan Kiseop mundur. Gadis itu tak ingin melihat Kiseop memukuli Kevin. Ia tak ingin melihat Kiseop berubah menjadi orang lain.

“hentikan, aku mohon” ucap Soo Jeong lemah. Namun Kiseop tak peduli, ia hendak melangkah maju untuk memukuli Kevin lagi. Soo Jeong terisak, tangannya semakin kuat mencengkram lengan Kiseop. “jangan! Aku mohon, bawa aku pergi. Bawa aku pergi dari sini” gadis itu hampir kehilangan suaranya.

Dan malam itu seolah menjadi malam terburuk didalam hidup Kiseop, penghinatan yang ia terima begitu membuat dirinya terpuruk. Dimalam itu pula, ia memilih pergi. Menjauh dari kenyataan yang menyakitkan ini. Kiseop berlari meninggalkan Soo Jeong yang berdiri seorang diri ditrotoar dan terus saja meneriakkan namanya. Berlari meninggalkan kekasihnya agar ia tak lagi bisa menatap manik mata gadis itu, mata yang Kiseop pikir hanya untuk menatap kearah dirinya, bukan yang lain. Malam itu, hubungannya dengan gadis itu telah ia tanggalkan. Tak ada lagi Soo Jeong dalam hatinya, tak ada lagi  mimpi itu dalam pikirannya. Mimpi bahwa Soo Jeong akan menangis haru melihatnya bertekuk lutut sembari menyematkan cicin yang telah ia persiapkan untuk melamarnya malam ini juga. Lupakan semuanya! Lupakan tentang mimpi menjadikannya mempelai wanitamu.

***

Tokyo, sebuah kota yang sibuk dengan segala hiruk pikuk penduduknya. Kota yang Kiseop pilih menjadi tempat pelariannya. Yah, sejak malam itu Kiseop memilih naik penerbangan terakhir menuju Tokyo. Entah apa yang merasukinya, pria berambut coklat itu seolah tak perduli lagi dengan segala hal yang ia tinggalkan. Apartemennya, pekerjaannya, keluarganya, sahabatnya, dan Soo Jeong. ia pergi begitu saja seolah tak perlu ada basa-basi tentang salam perpisahan. Kiseop berangkat hanya dengan luka menganga didadanya, ingin rasanya ia pergi jauh dari Seoul dan melupakan semua kejadian malam itu. Memilih memulai hidup barunya sendirian, tanpa ada lagi cinta di hatinya.

3 tahun sudah ia menetap di Tokyo, dan sejak itupula tak pernah sekalipun ia menginjakkan kakinya di kampung halamannya, Seoul. Dirinya mulai terbiasa tinggal disini, mendapatkan pekerjaan baru, apartemen sederhana yang cukup nyaman, hingga beberapa teman yang cukup untuk menemaninya minum jika dirinya tengah merasa kesepian. Dan sejak saat itupula, luka dihati Kiseop sedikit demi sedikit mulai membaik, namun jika harus jujur ingatan akan gadis itu masih jelas dikepalanya.

Terlebih saat Kiseop menerima sebuah telepon beberapa hari lalu. Telepon dari seseorang yang telah lama mencari dirinya. Bukan, bukan Soo Jeong melainkan Kevin sahabatnya, dulu. Kiseop sebenarnya ingin langsung menutup telepon dari Kevin jika saja ia tidak mendengar kabar itu. Kabar yang begitu membuatnya terpukul, yang membuatnya kini semakin dirundung pilu dan dihantui penyesalan besar.

Kevin akan menikah bulan depan. Tidak dengan Soo Jeong, bukan. Kevin akan menikah dengan kekasihnya sendiri. Kevin memohon agar Kiseop mendengar penjelasannya kali ini saja. Tentang betapa sulitnya ia mencari alamat Kiseop, mencari nomor teleponnya yang baru, tentang mencoba memberanikan diri untuk menghubunginya setelah sekian tahun Kiseop menghilang bak ditelan bumi. Tentang menyampaikan kebenaran yang selama ini tak sempat Kiseop dengar.


“malam itu seharusnya aku menarikmu atau bahkan menyeretmu jika perlu. Seharusnya aku tak membiarkanmu melarikan diri. Sungguh, kau benar-benar seperti pengecut. Namun, setelah ku sadari, akulah yang lebih pengecut ketimbang dirimu Kiseop.” Suara Kevin terdengar sedikit parau, jelas sekali kalau ia tengah menahan tangisnya.

“aku minta maaf Kiseop, maaf telah membiarkan mu pergi dan tak menjelaskan semuanya. Maaf karena malam itu aku hanya diam seperti orang bisu. Maaf karena membiarkan kesalahpahaman ini tak pernah terluruskan. Soo Jeong tidak bersalah Kiseop, tidak sama sekali. Apa kau tau betapa ia mencintaimu? Ia bahkan begitu antusias malam itu untuk menemuimu”

Kevin mengambil jeda sejenak. Ia menghirup nafas dalam, sementara Kiseop hanya diam mendengarkan.

“Soo Jeong tau kau akan melamarnya malam itu. Aku.. minta maaf, aku yang memberitahunya. Kiseop dengarkan aku, malam itu kami tak melakukan apapun. Ia hanya datang untuk meminta saran. Apa kau tau? Ia bahkan memintaku untuk memilihkannya gaun yang menurutnya akan kau sukai. Apa kau tau betapa bahagianya gadis itu?”
Kiseop sedikit terkesiap, namun tetap diam tak menyela. Ia ingat akan gaun-gaun yang berserakan di tempat tidur Kevin malam itu. Kevin lalu melanjutkan

“aku berani bersumpah kalau kami berdua sama sekali tak melakukan apapun malam itu. Ia hanya datang dan meminta saran, Soo Jeong telah lama menunggu moment ini. Momen bahwa kau akan melamarnya. Namun kemudian kau datang dan tak memnberikannya kesempatan untuk menjelaskan. Kau salah faham Kiseop, salah besar. Dan ya, sebenarnya aku menyukai Soo Jeong. aku mencintai gadis itu bahkan sebelum kau mengenalnya. Tapi, dimata Soo Jeong hanya ada kau, ia menganggapku sebagai  teman. Hanya sebatas itu.”
Kembali desahan nafas panjang terdengar dari mulut Kevin. Sementara itu, jari jemari Kiseop bergetar, tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.

“Kiseop, malam itu aku juga dibutakan oleh emosi. Aku pikir, jika kesalahpahaman ini dilanjutkan maka kau dan Soo Jeong akan putus hingga aku bisa memiliki kesempatan untuk mengutarakan perasaanku padanya. Namun ternyata aku salah besar. Tak ada sedikitpun cela bagiku untuk bisa menggantikan posisimu dihatinya. Hingga saat ini ia masih sangat mencintaimu, sudah 3 tahun Kiseop, 3 tahun sudah ia mencarimu kesana-kemari. Ia telah berubah, tak ada lagi senyum dibibirnya. Seolah senyum itu pergi bersama dirimu. Dan sungguh, ini sangat menyakitiku”

Kevin terdiam diseberang sana, hanya desahan nafas berat yang terdengar. Sementara Kiseop menggenggam pegangan balkon erat, tubuhnya terasa melemas.

“maafkan aku baru memberitahukanmu sekarang Kiseop. Aku mohon padamu, pulanglah. Temui gadis itu. Ia sangat membutuhkanmu sekarang” kini jelas terdengar isakan dari Kevin. Pria itu menangis.” Soo Jeong mengalami kecelakaan, ia tertabrak dan...” pria itu tak melanjutkan, ia tak tau apakah Kiseop bisa menerima kabar ini atau tidak.

“a-ada apa?” tanya Kiseop terbata-bata. Jantungnya kini berdetak 2 kali lebih kencang. Tangannya semakin erat mencengkram pembatas besi balkon disampingnya. “ada apa dengan Soo Jeong! ada apa?” desaknya.

“ia kecelakaan, sekarang ia lumpuh” suara Kevin nyaris tak terdengar.

Kini, kedua kaki Kiseop sudah benar-benar tak mampu menopang tubuhnya. Pria itu hanya bisa terduduk lesu disamping pagar besi pembatas. Ponsel ditangannya meluncur begitu saja kelantai. Meninggalkan Kevin disebrang sana yang sejak tadi memanggil namanya. Hati Kiseop hancur, lebih hancur dari pada malam itu. Malam dimana ia meninggalkan Soo Jeong begitu saja.

***

Taman dipusat kota pagi itu masih lengang, hanya beberapa orang saja yang tampak tengah berjalan-jalan sembari menghirup udara pagi yang dingin namun menyegarkan. Hari ini hari Minggu, hari yang tepat untuk menyingkirkan sejenak persoalan pelik tentang pekerjaan, hari yang tepat untuk bermalas-malasan dirumah atau dengan kata lain beristirahat.

Dan pagi itu, meski Januari telah berada dipenghujung bulan udara masih terlampau dingin bagi kebanyak orang untuk sekedar berjalan-jalan ditaman kota. Membuat mereka enggan meninggalkan rumah dengan penghangat ruangan yang sejak memasuki bulan Desember tahun lalu telah dinyalakan. Namun, tidak bagi seorang gadis cantik berambut coklat yang tengah duduk sembari memejamkan mata. Terlihat begitu syahdu dibawah langit kota Seoul yang seputih hamparan salju disekelilingnya. gadis itu mengenakan syal berwarna merah dengan mantel berwarna krem yang terihat sederhana namun tak mampu menutupi pesona gadis itu.

Lee Soo Jeong. gadis dengan syal merah itu masih betah duduk didepan sebuah danau yang beku, tidak terganggu sama sekali oleh suhu dingin yang menyengat. Tak lama gadis itu membuka mata, segaris senyum terukir dibibir mungilnya. Entah apa yang tengah ia pikirkan hingga membuatnya tersenyum. Tatapan matanya kini jatuh pada sebuah pohon disebrang danau yang tampak sedikit memutih tertutup salju. Pohon itu meski sudah tak memiliki daun sama sekali, masih terlihat kokoh berdiri ditengah hamparan salju yang kontras dengan warnanya yang coklat. Soo Jeong tiba-tiba teringat sesuatu, sesuatu yang kini membuatnya merasa memiliki nasib yang sama dengan pohon disebrang sana.

Pohon dengan batang berwarna coklat yang masih terlihat kokoh berdiri meski tak ada sehalai daunpun yang ia miliki. Pohon yang tampak sunyi ditengah hamparan salju yang dingin. Soo Jeong seolah bercermin, seolah melihat sosok dirinya disana. Gadis yang terlihat kokoh meski sebenarnya ia rapuh. Gadis yang hatinya telah lama beku ditinggal oleh cinta. Soo Jeong nyatanya begitu kesepian meski tengah berada ditengah lautan manusia. Menunggu sendirian, menunggu seseorang yang telah lama pergi. Menunggu meski tak tau sampai kapan. Kini tanpa sadar, bulir air mata telah jatuh membasahi punggung tangannya. Dingin, namun tak sebanding dengan hatinya yang beku.

***

Kiseop tak bergeming sejak matanya menangkap sosok yang sejak tadi membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Pria itu terlihat bersusah payah mengatur deru nafasnya yang tak beraturan. Dihari ia menerima telepon dari Kevin, ia segera berlari menuruni apartemennya dan menahan taksi pertama yang ia lihat. Dengan terburu-buru ia memaksa sang supir agar segera membawanya ke bandara. Sama sekai ia tak memperdulikan tatapan keheranan sang supir taksi. Lalu sesampainya ia di bandara, pria itu segera membeli tiket penerbangan menuju Seoul, Korea Selata. Tak perlu lagi ada yang ia pikirkan, ia akan segera menemui gadis itu. Gadis  yang sebenarnya masih sangat ia cintai.


Disaat seperti ini, ingin rasanya Kiseop berlari dan segera mendekap tubuh gadis yang semakin kurus itu. Ingin rasanya ia mengusap wajahnya, mulai dari alis, mata, hidung hingga bibir yang selalu mampu menyihirnya dengan segaris senyuman. Sungguh! Kiseop merindukannya setengah mati, merindukan wangi citrus yang menyegarkan itu, merindukan dekapan hangat wanitanya, wanitanya dulu.

Kemudian saat matanya jatuh pada kursi roda yang tengah diduduki gadis itu, hatinya semakin terenyuh. Apa yang dikatakan Kevin tempo hari ternyata benar. Soo Jeong lumpuh, lumpuh yang artinya ia tak akan bisa berjalan lagi. Oh, ini menyakitkan, sungguh! Kiseop merasa ada sesuatu ditenggorokannya yang membuatnya merasa sakit. Sesak didadanya semakin terasa.

Hanya bisa mengamati gadis itu dari balik pohon yang berada tak jauh dari tempat Soo Jeong duduk benar-benar terasa menyakitkan. Hanya bisa mendengar isakan kecil gadis itu tanpa melakukan apa-apa membuat Kiseop seperti seorang pengecut. Namun, jika ia muncul begitu saja didepan gadis itu setelah tiga tahun kepergiannya bukan cara yang tepat. Ada dilema besar yang menghinggapi rongga dada Kiseop, tapi jauh didalam relung hatinya ada perasaan lega yang sulit dijelaskan. Melihat gadis itu sekarang saja sudah membuat hatinya terasa hangat, meski penyesalan itu semakin besar layaknya bola salju yang bergulir melihat kondisi gadis itu sekarang.

Betapa kejamnya aku

Tanganya menggenggam erat benda yang seharusnya telah berada ditangan gadis itu sejak tiga tahun lalu. Sebuah cincin yang seharusnya telah menjadikan mereka pasangan suami istri. Kiseop mendesah, menatap cicin di telapak tangannya itu membuatnya semakin ingin menemui Soo Jeong. ia ingin meminta maaf atas semua yang telah dialami oleh gadis itu, ia ingin meminta maaf atas kesalahannya dulu. Kiseop ingin menatap manik mata indah itu sekali lagi, berlutut didepannya dan mengatakan bahwa cinta dihatinya sama sekali tak memudar meski ia telah coba menghapusnya. Dan jika boleh, memintanya menjadi pasangannya yang memang seharunya ia utarakan sejak tiga tahun lalu.

Semantara Soo Jeong masih belum bergeming dari tempatnya, masih setia duduk didepan danau yang beku itu. Entah apa yang tengah ia perhatikan, hingga membuatnya lupa akan dinginya udara pagi itu.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Kiseop mengukuhkan hati. Ia akan menemui gadis itu, menampakkan dirinya dihadapannya. Mengutarakan semua isi hatinya. Tak mengapa jika Soo Jeong tak ingin menerimanya kembali, Kiseop sadar betapa dirinya tak lagi pantas mengisi hati gadis itu. Tak apa, asalkan permintaan maafnya tersampaikan. Itu sudah cukup mengurangi sedikit beban dihatinya.

Dan saat langkah kakinya memijak hamparan salju menuju kearah Soo Jeong, Kiseop terkesiap saat matanya menangkap sosok pria telah berdiri tepat dihadapan Soo Jeong. Pria berpostur tubuh tinggi yang mengenakan mantel coklat itu tengah menatap Soo Jeong sambil tersenyum. Kiseop maju selangkah untuk melihat mereka lebih jelas. Dan disaat yang sama tampak segaris senyum dibibir gadis itu. Hati Kiseop seketika bergetar, senyum yang telah lama tak pernah ia lihat. Gadis itu kini tersenyum, namun bukan padanya melainkan pada pria didepannya. Pria lain.

“eoh, Sungyeol oppa?” terdengar suara lembut Soo Jeong.

Sungyeol? Oppa? Siapa dia?

Pria yang dipanggil dengan nama Sungyeol itu tersenyum lalu mengusap puncak kepala Soo Jeong dengan tatapan penuh kasih. Pria itu kemudian membenarkan letak syal Soo Jeong lalu berkata

“kau menangis lagi?” tangan pria itu kemudian mengelus pipi kiri Soo Jeong, ia menghapus air matanya.

“hanya teringat sesuatu yang seharusnya ku lupakan”

Suara lirih Soo Jeong terdengar sampai ketelinga Kiseop.

“Sesuatu yang seharusnya ku lupakan?”

Ah, benar. Untuk siapa lagi kalimat itu ditujukan kalau bukan untuk Kiseop. Mendengar kalimat itu ia benar-benar merasa dongkol sampai ke ubun-ubun. Kini nyalinya untuk menemui gadis itu seolah hilang bak salju yang mencari. Entah mengapa, Kiseop merasa kasihan pada dirinya sendiri. Seharusnya Kiseop sadar, tak akan ada lagi celah untuknya di hati Soo Jeong. gadis itu mungkin telah menemukan seseorang, yah orang yang menggantikan posisinya. Memang masuk akal sejak 3 tahun kepergiannya. Seharunya memang begitu adanya kan? Mungkinkan pria yang tengah berdiri dihadapan Soo Jeong sekarang? Pria bernama Sungyeol itu?

“kalau begitu, mengapa harus diingat lagi?” tanya Sungyeol yang lebih terdengar seperti sebuah saran. Soo Jeong sendiri tak menjawab dan hanya menyunggingkan senyum tipis.

“tak ada gunanya mengingat yang tak perlu, aku tak ingin kau terlalu banyak memikirkan sesuatu”

Kini pria itu semakin mendekatkan wajahnya kearah Soo Joeng. Ia mengamati gadis itu dengan seksama.

“kau pantas untuk bahagia Lee Soo Jeong” bisiknya tepat ditelinga gadis itu.

Tentu. Gadis itu pantas untuk bahagia.

Kiseop berguman. Matanya tak lepas menatap Soo Jeong dan pria disebelahnya. Sepertinya memang benar, mereka berdua memiliki hubungan yang khusus. Setahu Kiseop Soo Jeong adalah anak tunggal, ia tak memiliki saudara laki-laki. Selain itu, Kiseop tak pernah mendengar Soo Jeong memiliki teman bernama Sungyeol. Jadi, kalau mereka bukan saudara dan bukan juga teman apa lagi namanya selain hubungan khusus antara seorang pria dan wanita. Ditambah lagi jika melihat sikap pria itu, Kiseop semakin yakin jika memang hubungan mereka cukup serius.

Kini tak ada lagi kesempatan bagi Kiseop untuk menemui Soo Jeong. kiseop sadar, ia cukup tau diri. Ia kemudian berbalik, meski hatinya sakit Kiseop merasa pantas mendapatkannya. Tanpa sadar, air matanya meluncur mulus di pipinya lalu kemudian jatuh ke hamparan salju yang tengah ia pijak. Kiseop melangkah pergi, perlahan tapi pasti ia menjauh dari tempatnya tadi. Memilih pergi tanpa bersua terlebih dahulu dengan Soo Jeong membuatnya merasa menjadi pengecut untuk kedua kalinya. Namun ia pikir, ia tak punya pilihan lain. Jika sampai dirinya mendengar sendiri dari mulut Soo Jeong bahwa ia telah menemukan pria lain, Kiseop tak bisa membayangkan rasa sakit yang akan menyelimutinya. Mungkin lebih baik begini, tak perlu lagi ia mengusik hidup gadis itu. Selama ini ia sudah cukup menderita. Dan setidaknya apa yang ia lakukan sekarang, bisa jadi lebih berarti dari pada kata maaf yang bisa membangkitkan kenangan yang seharusnya telah gadis itu lupakan.

***

“mau ku belikan kopi?” Sungyeol bertanya pada Soo Jeong. gadis di sampingnya itu tak menjawab dan hanya mengangguk kecil.

“ayolah, aku tak suka melihat Soo Jeongku seperti ini. Aku lebih suka melihatnya tersenyum”

Gadis itu kemudian tersenyum, ia memalingkan wajahnya kearah Sungyeol.

“kau cerewet sekali dokter Lee Sungyeol”  Soo Jeong berkata dengan senyum yang semakin merekah. Sungyeol sendiri terkekeh mendengar celoteh Soo Jeong. melihat kondisi gadis itu yang kini mulai membaik membuat perasaan Sungyeol lega, berbeda dengan beberapa bulan lalu saat pertema kali gadis itu tau kalau  ia lumpuh. Soo Jeong benar-benar frustasi, butuh waktu lama untuk membuatnya ingin keluar dari rumah sakit. Sejak hari itu, yang ia lakukan hanya duduk menghadap jendela. Seharian penuh ia hanya diam sembari menitikan air mata.

Hari itu, Sungyeol masih ingat saat Soo Jeong sadar dari koma dan mengetahui kenyataan bahwa ia lumpuh. Soo Jeong menjerit, membuat siapapun yang mendengarnya akan memalingkan wajah karena tidak tega melihat kondisinya. Setiap hari, ia hanya bergumam kalau ia ingin dapat berjalan lagi. Ia ingin pergi mencari kekasihnya.

Kini, melihat senyuman di bibir gadis itu mulai kembali membuat hati Sungyeol tenang. Ia memang bukan orang yang spesial untuk gadis itu selain hanya sebagai sepupu sekaligus dokter yang merawatnya. sungyeol hanya bisa berharap agar senyum itu selalu hadir diwajah cantik Soo Jeong. tak perduli gadis itu masih mencintai kekasihnya dulu.

“baiklah, aku akan pergi untuk membeli kopi. Lalu setelahnya kita kembali ke rumah. Bibi bisa menendang bokongku jika melihat putri kesayangannya ini terlalu lama diluar rumah hingga flu menyerangnya” Sungyeol sedikit bergurau sambil mengacak-ngacak rambut Soo Jeong pelan sebelum akhirnya ia melangkah pergi.

Sekarang hanya tingga Soo Jeong duduk seorang diri. Gadis itu mendesah hingga terlihat uap putih yang keluar dari mulutnya. Memang sekarang cuaca sedikit lebih dingin, membuatnya semakin merapatkan mantel yang tengah ia kenakan.

Hingga tak lama, tiba-tiba saja ada seorang anak kecil berumur sekitar 6 tahun berambut blonde datang menghapirinya. Bocah laki-laki itu berdiri dihadapan Soo Jeong dan mengamatinya dengan seksama.

“ada apa dik?” Soo Jeong bertanya sambil mengelus puncak kepala bocah didepannya. “apa kau sendirian saja?”

Bocah itu menggeleng.

“kalau begitu, kau bersama seseorang? Ibumu? Apa kau terpisah dengan ibumu?”
Bocah itu kembali menggeleng
“lalu? Ada apa?”

Anak laki-laki itu masih terdiam, ia mengamati kursi roda yang tengah diduduki Soo Jeong lalu kembali menatap wajahnya. Tak lama ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna biru dari saku mantelnya kemudian menyerahkannya pada Soo Jeong.

“nunna, seseorang tadi menyuruhku untuk memberikan ini untukmu” kata bocah itu, kemudian tak lama ia berbalik dan berlari menjauh.

Soo Jeong hendak memanggilnya kembali tapi urung dilakukan, anak itu sudah menjauh dari tempatnya sekarang. Masih dengan perasaan heran, Soo Jeong beralih menatap amplop biru ditangannya. Ia mengamati benda itu dengan hati-hati. Hingga ia merasakan ada sebuah benda kecil didalamnya. Soo Jeong perlahan membuka amplop itu dan seketika terkejut ketika menemukan sebuah cincin berwarna perak meluncur mulus ditelapak tangannya. Cincin itu terlihat begitu cantik, dengan hiasan berlian ditengahnya. Sekilas saja, ia sudah bisa menebak bahwa itu adalah cincin kawin.

Tak cukup dengan cincin, Soo Jeong kembali menemukan hal lain didalam amplop itu. Sepucuk surat. Namun disurat itu tidak tertera nama pengirimnya, hanya tertuliskan “untuk Soo Jeong” yang berarti untuk dirinya. Sejenak Soo Jeong tampak ragu untuk membuka surat itu, namun rasa penasannya lebih besar dari pada perasaan takut maupun keraguannya.

Tak lama Soo Jeong telah larut dalam setiap kata yang ada didalam surat itu.


Dear Lee Soo Jeong...
Aku tak tau harus menulis apa, namun yang pasti aku ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukanmu. Maaf telah menjadi pengecut, maaf telah meninggalkanmu dan membuatmu menderita. aku minta maaf.

Aku harap kau bisa hidup bahagia. Kau pantas mendapatkan kebahagianmu. Hiduplah dengan seseorang yang pantas denganmu. Yang bisa membuatmu selalu tersenyum. Bukan pengecut seperti diriku.

Apa kau tau? Aku masih sangat mencintaimu. Cincin yang kini ditanganmu seharusnya telah melingkar dijari manismu sejak tiga tahun lalu.

Aku berterimakasih untuk cinta yang pernah kau berikan padaku. Kau adalah salah satu anugrah dalam hidupku. Trimakasih atas senyum manis yang selalu kau berikan dikala pagi, terimakasih juga untuk setiap pelukan hangat serta wangi citrus yang menyegarkan. Aku tak akan penah melupakan wangi itu. Aku tak akan pernah melupakanmu. Tidak akan pernah.

Saranghae Lee Soo Jeong...

Lee Kiseop”


Untuk sepersekian detik waktu seolah berhenti berputar. Entah sejak kapan air matanya telah mengalir membasahi pipinya. Hati Soo Jeong terasa perih. Membaca surat itu membuatnya ingin menjerit memanggil nama yang tertera diakhir surat itu. Kiseop, Lee Kiseop. Pria yang sejak tiga tahun itu ia rindukan.

Kini dibawah butiran salju yang perlahan turun, Soo Jeong hanya bisa menangis tersedu-sedu sembil memeluk erat surat beserta cincin dari Kiseop. Berharap kakinya sedikit saja bisa digerakkan agar ia bisa berlari mencari pria yang ia yakini berada tak jauh darinya. Suaranya seolah lenyap tergantikan dengan tangisan yang begitu dalam. Ia ingin berlari mencari Kiseop agar ia bisa mengatakan bahwa ia juga masih sangat mencintainya. Pria yang menjadi kebahagiannya sekaligus kesedihannya. Pria yang juga tak bisa ia lupakan selamanya.




The End

2 komentar: