Tittle
: My Mistake
Cast : Lee Kiseop ‘Ukiss’, Lee Soo
Jeong ‘Lovelyz’, Kevin ‘Ukiss’
Support
cast : Lee Sungyeol ‘Infinite’
Author : Ddeokbokkie a.k.a Widi
Lenght : one shoot
Genre : sad, romance
Backsound : Ukiss- Playground-
Cover by : K.RSYeo ART
Cover by : K.RSYeo ART
Kiseop
masih bisa mengingat dengan jelas wangi citrus yang tercium tiap kali ia
mengecup lembut puncak kepala Soo Jeong. Wangi yang begitu menyegarkan
sekaligus menenangkan bagi Kiseop, membuatnya selalu ingin mendekap gadis itu
dan tak ingin melepaskannya. Masih jelas dalam ingatan Kiseop tantang betapa
indahnya senyum Soo Jeong dipagi hari saat ia membuka mata. Mendapati gadis itu
menatapnya dengan sebuah senyuman dan
tanpa berkata-kata, membuat pagi Kiseop selalu hangat meski musim dingin masih
enggan meninggalkan kota Seoul.
Hangat
dan bahagia, setidaknya begitulah yang Kiseop rasakan beberapa tahun lalu
sebelum badai itu datang dan merenggut semua kehangatan yang ia rasakan.
Membawa serta Soo Jeong dan wangi citrusnya, membawa pargi gadis itu beserta
senyumnya yang indah. Badai yang seharunya tak pernah datang jika saja Kiseop
tidak dengan sengaja memanggilnya.
Dan
sekarang di sinilah ia berada, di sebuah bar yang tak begitu ramai dengan hanya
ada segelas bir yang setia menemaninya. Pria itu menatap lekat gelas kecil
berisi cairan kuning kecoklatan itu. Menatap es batu yang semakin lama semakin
kecil, meleleh seiring berjalannya waktu. Kiseop kemudian mendesah berat,
merasakan dadanya sedikit sesak entah karena alasan apa.
“kau
masih belum pulang dude?” suara seseorang membuyarkan lamunan Kiseop. Di depannya
telah berdiri Soohyun, bartender sekaligus temannya. Soohyun menatap Kiseop
dengan ekspresi prihatin. “masih belum bisa melupakannya, huh?” Soohyun maju
selangkah dan meletakkan gelas serta serbet ditangannya.
Kiseop
tak menjawab dan masih setia menatap gelas bir didepannya. Bibirnya sedikit
terangkat, membuat segaris senyum tipis. Senyum tanda mengiyakan. Melupakan
huh? Entahlah, Kiseop bahkan tak ingat lagi dengan kata-kata itu. Seolah kata
itu tak pernah ada dalam kamusnya. Seolah kata itu bukan untuknya. Yah,
seberapa keras usahanya untuk melupakan Soo Jeong, Kiseop tidak pernah
berhasil. Jangankan melupakan, bahkan semakin ia berusaha kenangan akan gadis
itu malah semakin jelas berputar dikepalanya. Seolah menghantuinya seumur
hidup.
Dan
tanpa sadar, air mata pria itu mulai jatuh membasahi meja bar didepannya. Jatuh
begitu saja tanpa bisa Kiseop bendung. Membuatnya merasa menjadi pria lemah,
pria pengecut yang hanya bisa melukai hati seorang gadis yang begitu
mencintainya. Pria lemah yang bahkan tak bisa mempertahankan gadis yang begitu
ia cintai. Pria tak berguna yang pantas mendapatkan apa yang ia rasakan
sekarang. Penyesalan yang tak ada ujungnya.
***
Malam
itu, suhu udara cukup untuk membekukan sekaleng sarden bila kau letakkan
dihalaman depan rumahmu. Kiseop dengan nafas yang memburu menarik kasar lengan
Soo Jeong keluar dari sebuah bangunan. Ia berjalan dengan langkah cepat tanpa
memperdulikan Soo Jeong yang sejak tadi merintih karena tangannya yang terasa
perih akibat dicengkram terlalu keras.
“lepaskan
aku Kiseop!” Soo Jeong memekik, masih berusaha melepaskan tangannya dari
Kiseop. “aku mohon, ini menyakitkan!”
Tapi
seolah suara Soo Jeong tertelan badai salju, Kiseop tak menggubris sedikitpun
dan terus melangkah.
“Kiesop!”
“Lee
Kiseop, lepaskan aku auu!”
“kau
mau membawaku kemana?!”
“tolong
dengarkan penjelasanku dulu”
Dan
tiba-tiba Kiseop menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan dengan kasar
melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Soo Jeong. Ia menatap gadis
didepannya dengan penuh amarah, dadanya naik turun menahan emosi yang memuncah.
“penjelasan?
Kau mau menjelaskan apa huh?!” suara Kiseop terdengar lantang. Tatapannya mulai
kabur akibat air mata yang entah sejak kapan mulai memenuhi pelupuk matanya.
Perasaan yang begitu aneh memenuhi relung dadanya, perasaan marah, kecewa, dan
tak percaya seolah bercampur menjadi satu dan membuat perutnya terasa mual. Ia
ingin menendang sesuatu, menghancurkan sesuatu sekarang juga.
Soo
Jeong sendiri hanya bisa menunduk, menggigit bibir bawahnya dan tak berani
menatap Kiseop. Air matanya pun sudah mengalir, jatuh dan menghilang begitu
cepat diantara salju yang tengah ia pijak.
“aku
mohon jangan seperti ini” suara Soo Jeong terdengar lirih disela-sela
tangisnya.
“arggghhh...”
Kiseop mengerang frustasi, ia menjambak rambutnya sendiri lalu menendang sebuah
tong sampah besi didekatnya hingga benda itu terhempas dan menimbulkan bunyi
yang cukup memekikkan telinga. Soo Jeong tersentak kaget dan semakin
memperdalam tangisannya.
“aku
mencintaimu Soo Jeong! Aku mencintaimu” Kiseop berkata masih dengan nada suara
yang tinggi. “aku mencintaimu, memberikanmu segalanya dan hanya ini yang
kuterima darimu?” suaranya sedikit melemah.
“ini
tak seperti yang kau pikirkan Kiseop” Soo Jeong maju selangkah hendak menyentuh
pundak Kiseop. Namun, dengan cepat Kiseop melangkah mundur, ia tak ingin satu
sentuhan dari Soo Jeong membuatnya luluh dan melupakan amarahnya. Soo Jeong
sendiri terpana dengan sikap Kiseop.
“aku
bisa menjelaskannya sayang, aku mohon dengarkan aku”
“penjelasan
apa lagi?! Penjelasan bahwa, bahwa aku mendapatimu tengah berduaan dengan Kevin
huh! Penjelasan bahwa kau membatalkan makan malam kita karena kau ingin menemui
Kevin diapartemannya huh! Kau ingin menjelaskan bahwa kau berselingkuh dengan
Kevin. Dengan sahabatku sendiri?!”
Kiseop tercekat menahan tangis. Hatinya hancur berkeping-keping bak
gelas kaca yang jatuh menghujam lantai. Hancur menjadi serpihan kecil yang terasa
begitu menyakitkan.
Mendapati
kekasihnya tengah berduaan dengan sahabatnya sendiri, saling melempar tawa
tanpa beban sedikitpun membuat Kiseop merasa dihianati. Betapa tidak, ia sudah
menunggu Soo Jeong sejak 1 setengah jam lalu untuk janji makan malam tapi gadis
itu tak kunjung datang. Ia meneleponnya tapi ia sama sekali tak menjawabnya.
Mengiriminya sms tapi tak satupun yang ia balas.
Saat
itu Kiseop merasa khawatir, takut terjadi apa-apa dengannya. Ia sudah menelepon
adik Soo Jeong dan berkata bahwa kakaknya sudah berangkat sejak tadi. Tapi
mengapa gadis itu tak datang juga. Hati Kiseop mulai resah, hingga ia
memutuskan untuk mencarinya. Lalu, ia teringat Kevin sahabatnya. Pria yang
telah mengenalkannya pada Soo Jeong. Kiseop
hendak menemui Kevin, siapa tau ia bisa membantunya mencari Soo Jeong.
Atau sekedar memberi tahukan tempat yang sering Soo Jeong kunjungi, mengingat
Kevin lebih lama mengenal Soo Jeong daripada dirinya.
Namun
seolah ada seseorang yang menikamnya dengan belatih, sakit yang ia rasakan
tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seolah tiba-tiba kakinya lumpuh dan tak
mampu menopang berat badanya, lututnya terasa begitu lemah. Beginikah rasanya?
Rupanya begini rasanya dihianati oleh orang yang kita sayangi, yang kita
percaya bahkan melebihi saudara kandung sendiri. Beginikah rasa sakit saat
melihat kekasihmu lebih memilih bersama orang lain. Bukan, jangan katakan orang
lain! Dia sahabatmu sendiri. Dihinati begitu saja, seolah dirimu tak pernah ada
didunia ini.
Hanya
hitungan detik, namun Kiseop merasa waktu berjalan begitu lambat. Tanpa sadar
ia mencengkram dadanya sendiri. Meremasnya untuk menahan rasa sakit yang
teramat sangat. Lalu, dengan langkah berat ia berjalan maju. Menemui mereka
yang tengah duduk berdua ditempat tidur. Kiseop tak ingin membayangkan apa yang
akan atau apa yang telah mereka berdua lakukan. Terlalu menakutkan, terlalu
menyakitkan.
“Soo
Jeong-ah” suara Kiseop tercekat ditenggorokan. Ia menelan ludah dengan susah
payah.
Mendengar
seseorang memanggil namanya, Soo Jeong segera menoleh dan tersentak saat
mendapati kekasihnya Kiseop sudah berdiri dihadapanya. Kevin pun melempar
pandangannya kearah mata Soo Jeong. raut wajahnya segera berubah, senyum yang
sejak tadi melekat dibibirnya seolah hilang terbawa angin musim dingin yang
berhembus dari arah jendela.
“Kiseop-ah”
desah Soo Jeong seolah tak percaya.
Lalu
tiba-tiba, kesunyian datang menyelubungi mereka. Ketiganya sibuk dengan
pikirannya masing-masing. Tak ada yang bersuara untuk waktu yang cukup lama.
Tapi dibalik diam yang menyelimuti, ada bulir-bulir air mata yang mampu
menjelaskan kepedihan dihati Kiseop. Ada desahan berat yang menandakan perasaan
bersalah dihati Kevin. Serta, langkah pelan yang Soo Jeong ambil untuk mencoba
meraih jemari Kiseop. Gadis itu menggeleng pelan, seolah mengerti arah pikiran
Kiseop. Dan dengan hati-hati ia meraba pipi kekasihnya itu, menghapus air mata
yang mengalir dari mata coklat pria yang ia cintai itu.
Soo
Jeong bisa merasakan air mata yang dingin, pipi yang bak es itu. Nafas Kiseop
yang berhembus tak beraturan. Soo Jeong
tau, betapa Kiseop tengah bersusah payah meredam emosinya.
“ini
tak seperti yang kau fikirkan Kiseop” Soo Jeong akhirnya memecah kesunyian yang
ada, lalu dengan cepat memeluk pria yang berdiri kaku dihadapannya. “tolong
jangan berpikir seperti itu” gadis itu mendesah didada bidang Kiseop.
Kevin
yang juga sejak tadi diam, akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia melangkah
perlahan kearah Kiseop dan Soo Jeong. tatapan matanya tak sedikitpun lepas dari
mata pria yang berdiri dihadapannya sekarang.
“aku
bisa jelaskan padamu” suara Kevin terdengar sedikit bergetar.
“menjelaskan
apa?” Kiseop pun akhirnya membuka mulut. Tubuhnya yang sejak tadi dirangkul
oleh Soo Jeong perlahan melangkah maju. Ia melepaskan Soo Jeong, membuat gadis
itu semakin terisak. Kiseop menatap Kevin tajam lalu dengan cepat menarik kerah
baju sahabatnya itu. Kevin tak berusaha menepis, ia hanya memilih diam.
“menjelaskan
apa huh?!” Kiseop berteriak tepat diwajah Kevin. “kau ingin menjelaskan bahwa
kau telah menghianati sahabatmu sendiri! Kau ingin menjelaskan bahwa kau sudah tidur
dengan pacar sahabatmu sendiri huh?! Kau ingin menjelaskan bahwa kau ingin
merebut gadis ini dariku? Iya, benar begitu?” Kiseop meneriakkan kata-kata
yangsejak tadi ia tahan tepat dihadapan Kevin, dengan kasar ia meraih lengan
Soo Jeong lalu menghempaskan gadis itu kearah Kevin. Soo Jeong hanya bisa
pasrah sembari terus menahan tangis meskipun ia hampir saja terjatuh jika saja
Kevin tak menahan tubuhnya. Tubuh kecilnya bergetar hebat, tak pernah sekalipun
ia melihat Kiseop semarah itu.
Kevin
menatap nanar Kiseop, tatapannya memelas seolah mengisyaratkan agar Kiseop
tenang dan ingin mendengarkan penjelasan darinya. Namun tetap saja pria
dihadapannya itu sama sekali tak ingin tahu, ia memalingkan muka dari Kevin,
memejamkan matanya sejenak untuk menghentikan air mata yang sejak tadi
membanjiri pipinya. Kiseop tak pernah menangis didepan orang lain, bahkan
didepan sahabatnya sekalipun. Baginya menangis hanya untuk didirnya sendiri,
tak usah ada orang lain yang melihat. Baginya air mata untuk seorang pria
adalah pertanda bahwa ia tengah berada dititik terlemah dirinya. Yah, seperti
saat ini. Kiseop merasa ia begitu lemah dihadapan dua orang itu.
Lalu
tak berapa lama, Kiseop dengan gerakan cepat menghujam pipi kiri Kevin dengan
sebuah pukulan. Melihat hal itu, Soo Jeong menjerit dan segera menarik lengan
Kiseop mundur. Gadis itu tak ingin melihat Kiseop memukuli Kevin. Ia tak ingin
melihat Kiseop berubah menjadi orang lain.
“hentikan,
aku mohon” ucap Soo Jeong lemah. Namun Kiseop tak peduli, ia hendak melangkah
maju untuk memukuli Kevin lagi. Soo Jeong terisak, tangannya semakin kuat
mencengkram lengan Kiseop. “jangan! Aku mohon, bawa aku pergi. Bawa aku pergi
dari sini” gadis itu hampir kehilangan suaranya.
Dan
malam itu seolah menjadi malam terburuk didalam hidup Kiseop, penghinatan yang
ia terima begitu membuat dirinya terpuruk. Dimalam itu pula, ia memilih pergi.
Menjauh dari kenyataan yang menyakitkan ini. Kiseop berlari meninggalkan Soo
Jeong yang berdiri seorang diri ditrotoar dan terus saja meneriakkan namanya.
Berlari meninggalkan kekasihnya agar ia tak lagi bisa menatap manik mata gadis
itu, mata yang Kiseop pikir hanya untuk menatap kearah dirinya, bukan yang
lain. Malam itu, hubungannya dengan gadis itu telah ia tanggalkan. Tak ada lagi
Soo Jeong dalam hatinya, tak ada lagi
mimpi itu dalam pikirannya. Mimpi bahwa Soo Jeong akan menangis haru
melihatnya bertekuk lutut sembari menyematkan cicin yang telah ia persiapkan
untuk melamarnya malam ini juga. Lupakan semuanya! Lupakan tentang mimpi
menjadikannya mempelai wanitamu.
***
Tokyo,
sebuah kota yang sibuk dengan segala hiruk pikuk penduduknya. Kota yang Kiseop
pilih menjadi tempat pelariannya. Yah, sejak malam itu Kiseop memilih naik
penerbangan terakhir menuju Tokyo. Entah apa yang merasukinya, pria berambut
coklat itu seolah tak perduli lagi dengan segala hal yang ia tinggalkan.
Apartemennya, pekerjaannya, keluarganya, sahabatnya, dan Soo Jeong. ia pergi
begitu saja seolah tak perlu ada basa-basi tentang salam perpisahan. Kiseop
berangkat hanya dengan luka menganga didadanya, ingin rasanya ia pergi jauh
dari Seoul dan melupakan semua kejadian malam itu. Memilih memulai hidup
barunya sendirian, tanpa ada lagi cinta di hatinya.
3
tahun sudah ia menetap di Tokyo, dan sejak itupula tak pernah sekalipun ia
menginjakkan kakinya di kampung halamannya, Seoul. Dirinya mulai terbiasa
tinggal disini, mendapatkan pekerjaan baru, apartemen sederhana yang cukup
nyaman, hingga beberapa teman yang cukup untuk menemaninya minum jika dirinya
tengah merasa kesepian. Dan sejak saat itupula, luka dihati Kiseop sedikit demi
sedikit mulai membaik, namun jika harus jujur ingatan akan gadis itu masih
jelas dikepalanya.
Terlebih
saat Kiseop menerima sebuah telepon beberapa hari lalu. Telepon dari seseorang
yang telah lama mencari dirinya. Bukan, bukan Soo Jeong melainkan Kevin
sahabatnya, dulu. Kiseop sebenarnya ingin langsung menutup telepon dari Kevin
jika saja ia tidak mendengar kabar itu. Kabar yang begitu membuatnya terpukul,
yang membuatnya kini semakin dirundung pilu dan dihantui penyesalan besar.
Kevin
akan menikah bulan depan. Tidak dengan Soo Jeong, bukan. Kevin akan menikah
dengan kekasihnya sendiri. Kevin memohon agar Kiseop mendengar penjelasannya
kali ini saja. Tentang betapa sulitnya ia mencari alamat Kiseop, mencari nomor
teleponnya yang baru, tentang mencoba memberanikan diri untuk menghubunginya
setelah sekian tahun Kiseop menghilang bak ditelan bumi. Tentang menyampaikan
kebenaran yang selama ini tak sempat Kiseop dengar.
“malam
itu seharusnya aku menarikmu atau bahkan menyeretmu jika perlu. Seharusnya aku
tak membiarkanmu melarikan diri. Sungguh, kau benar-benar seperti pengecut.
Namun, setelah ku sadari, akulah yang lebih pengecut ketimbang dirimu Kiseop.”
Suara Kevin terdengar sedikit parau, jelas sekali kalau ia tengah menahan tangisnya.
“aku
minta maaf Kiseop, maaf telah membiarkan mu pergi dan tak menjelaskan semuanya.
Maaf karena malam itu aku hanya diam seperti orang bisu. Maaf karena membiarkan
kesalahpahaman ini tak pernah terluruskan. Soo Jeong tidak bersalah Kiseop,
tidak sama sekali. Apa kau tau betapa ia mencintaimu? Ia bahkan begitu antusias
malam itu untuk menemuimu”
Kevin
mengambil jeda sejenak. Ia menghirup nafas dalam, sementara Kiseop hanya diam
mendengarkan.
“Soo
Jeong tau kau akan melamarnya malam itu. Aku.. minta maaf, aku yang
memberitahunya. Kiseop dengarkan aku, malam itu kami tak melakukan apapun. Ia
hanya datang untuk meminta saran. Apa kau tau? Ia bahkan memintaku untuk
memilihkannya gaun yang menurutnya akan kau sukai. Apa kau tau betapa
bahagianya gadis itu?”
Kiseop
sedikit terkesiap, namun tetap diam tak menyela. Ia ingat akan gaun-gaun yang
berserakan di tempat tidur Kevin malam itu. Kevin lalu melanjutkan
“aku
berani bersumpah kalau kami berdua sama sekali tak melakukan apapun malam itu.
Ia hanya datang dan meminta saran, Soo Jeong telah lama menunggu moment ini.
Momen bahwa kau akan melamarnya. Namun kemudian kau datang dan tak
memnberikannya kesempatan untuk menjelaskan. Kau salah faham Kiseop, salah
besar. Dan ya, sebenarnya aku menyukai Soo Jeong. aku mencintai gadis itu
bahkan sebelum kau mengenalnya. Tapi, dimata Soo Jeong hanya ada kau, ia
menganggapku sebagai teman. Hanya
sebatas itu.”
Kembali
desahan nafas panjang terdengar dari mulut Kevin. Sementara itu, jari jemari
Kiseop bergetar, tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.
“Kiseop,
malam itu aku juga dibutakan oleh emosi. Aku pikir, jika kesalahpahaman ini
dilanjutkan maka kau dan Soo Jeong akan putus hingga aku bisa memiliki
kesempatan untuk mengutarakan perasaanku padanya. Namun ternyata aku salah
besar. Tak ada sedikitpun cela bagiku untuk bisa menggantikan posisimu
dihatinya. Hingga saat ini ia masih sangat mencintaimu, sudah 3 tahun Kiseop, 3
tahun sudah ia mencarimu kesana-kemari. Ia telah berubah, tak ada lagi senyum
dibibirnya. Seolah senyum itu pergi bersama dirimu. Dan sungguh, ini sangat
menyakitiku”
Kevin
terdiam diseberang sana, hanya desahan nafas berat yang terdengar. Sementara
Kiseop menggenggam pegangan balkon erat, tubuhnya terasa melemas.
“maafkan
aku baru memberitahukanmu sekarang Kiseop. Aku mohon padamu, pulanglah. Temui
gadis itu. Ia sangat membutuhkanmu sekarang” kini jelas terdengar isakan dari
Kevin. Pria itu menangis.” Soo Jeong mengalami kecelakaan, ia tertabrak dan...”
pria itu tak melanjutkan, ia tak tau apakah Kiseop bisa menerima kabar ini atau
tidak.
“a-ada
apa?” tanya Kiseop terbata-bata. Jantungnya kini berdetak 2 kali lebih kencang.
Tangannya semakin erat mencengkram pembatas besi balkon disampingnya. “ada apa
dengan Soo Jeong! ada apa?” desaknya.
“ia
kecelakaan, sekarang ia lumpuh” suara Kevin nyaris tak terdengar.
Kini,
kedua kaki Kiseop sudah benar-benar tak mampu menopang tubuhnya. Pria itu hanya
bisa terduduk lesu disamping pagar besi pembatas. Ponsel ditangannya meluncur
begitu saja kelantai. Meninggalkan Kevin disebrang sana yang sejak tadi
memanggil namanya. Hati Kiseop hancur, lebih hancur dari pada malam itu. Malam
dimana ia meninggalkan Soo Jeong begitu saja.
***
Taman
dipusat kota pagi itu masih lengang, hanya beberapa orang saja yang tampak
tengah berjalan-jalan sembari menghirup udara pagi yang dingin namun
menyegarkan. Hari ini hari Minggu, hari yang tepat untuk menyingkirkan sejenak
persoalan pelik tentang pekerjaan, hari yang tepat untuk bermalas-malasan
dirumah atau dengan kata lain beristirahat.
Dan
pagi itu, meski Januari telah berada dipenghujung bulan udara masih terlampau
dingin bagi kebanyak orang untuk sekedar berjalan-jalan ditaman kota. Membuat
mereka enggan meninggalkan rumah dengan penghangat ruangan yang sejak memasuki
bulan Desember tahun lalu telah dinyalakan. Namun, tidak bagi seorang gadis cantik
berambut coklat yang tengah duduk sembari memejamkan mata. Terlihat begitu syahdu
dibawah langit kota Seoul yang seputih hamparan salju disekelilingnya. gadis
itu mengenakan syal berwarna merah dengan mantel berwarna krem yang terihat
sederhana namun tak mampu menutupi pesona gadis itu.
Lee
Soo Jeong. gadis dengan syal merah itu masih betah duduk didepan sebuah danau
yang beku, tidak terganggu sama sekali oleh suhu dingin yang menyengat. Tak
lama gadis itu membuka mata, segaris senyum terukir dibibir mungilnya. Entah
apa yang tengah ia pikirkan hingga membuatnya tersenyum. Tatapan matanya kini
jatuh pada sebuah pohon disebrang danau yang tampak sedikit memutih tertutup
salju. Pohon itu meski sudah tak memiliki daun sama sekali, masih terlihat
kokoh berdiri ditengah hamparan salju yang kontras dengan warnanya yang coklat.
Soo Jeong tiba-tiba teringat sesuatu, sesuatu yang kini membuatnya merasa
memiliki nasib yang sama dengan pohon disebrang sana.
Pohon
dengan batang berwarna coklat yang masih terlihat kokoh berdiri meski tak ada
sehalai daunpun yang ia miliki. Pohon yang tampak sunyi ditengah hamparan salju
yang dingin. Soo Jeong seolah bercermin, seolah melihat sosok dirinya disana.
Gadis yang terlihat kokoh meski sebenarnya ia rapuh. Gadis yang hatinya telah
lama beku ditinggal oleh cinta. Soo Jeong nyatanya begitu kesepian meski tengah
berada ditengah lautan manusia. Menunggu sendirian, menunggu seseorang yang
telah lama pergi. Menunggu meski tak tau sampai kapan. Kini tanpa sadar, bulir
air mata telah jatuh membasahi punggung tangannya. Dingin, namun tak sebanding
dengan hatinya yang beku.
***
Kiseop
tak bergeming sejak matanya menangkap sosok yang sejak tadi membuat jantungnya
seolah berhenti berdetak. Pria itu terlihat bersusah payah mengatur deru
nafasnya yang tak beraturan. Dihari ia menerima telepon dari Kevin, ia segera
berlari menuruni apartemennya dan menahan taksi pertama yang ia lihat. Dengan
terburu-buru ia memaksa sang supir agar segera membawanya ke bandara. Sama
sekai ia tak memperdulikan tatapan keheranan sang supir taksi. Lalu sesampainya
ia di bandara, pria itu segera membeli tiket penerbangan menuju Seoul, Korea
Selata. Tak perlu lagi ada yang ia pikirkan, ia akan segera menemui gadis itu.
Gadis yang sebenarnya masih sangat ia
cintai.
Disaat
seperti ini, ingin rasanya Kiseop berlari dan segera mendekap tubuh gadis yang
semakin kurus itu. Ingin rasanya ia mengusap wajahnya, mulai dari alis, mata,
hidung hingga bibir yang selalu mampu menyihirnya dengan segaris senyuman.
Sungguh! Kiseop merindukannya setengah mati, merindukan wangi citrus yang
menyegarkan itu, merindukan dekapan hangat wanitanya, wanitanya dulu.
Kemudian
saat matanya jatuh pada kursi roda yang tengah diduduki gadis itu, hatinya
semakin terenyuh. Apa yang dikatakan Kevin tempo hari ternyata benar. Soo Jeong
lumpuh, lumpuh yang artinya ia tak akan bisa berjalan lagi. Oh, ini
menyakitkan, sungguh! Kiseop merasa ada sesuatu ditenggorokannya yang
membuatnya merasa sakit. Sesak didadanya semakin terasa.
Hanya
bisa mengamati gadis itu dari balik pohon yang berada tak jauh dari tempat Soo
Jeong duduk benar-benar terasa menyakitkan. Hanya bisa mendengar isakan kecil
gadis itu tanpa melakukan apa-apa membuat Kiseop seperti seorang pengecut.
Namun, jika ia muncul begitu saja didepan gadis itu setelah tiga tahun
kepergiannya bukan cara yang tepat. Ada dilema besar yang menghinggapi rongga
dada Kiseop, tapi jauh didalam relung hatinya ada perasaan lega yang sulit
dijelaskan. Melihat gadis itu sekarang saja sudah membuat hatinya terasa
hangat, meski penyesalan itu semakin besar layaknya bola salju yang bergulir
melihat kondisi gadis itu sekarang.
Betapa kejamnya aku
Tanganya
menggenggam erat benda yang seharusnya telah berada ditangan gadis itu sejak
tiga tahun lalu. Sebuah cincin yang seharusnya telah menjadikan mereka pasangan
suami istri. Kiseop mendesah, menatap cicin di telapak tangannya itu membuatnya
semakin ingin menemui Soo Jeong. ia ingin meminta maaf atas semua yang telah
dialami oleh gadis itu, ia ingin meminta maaf atas kesalahannya dulu. Kiseop
ingin menatap manik mata indah itu sekali lagi, berlutut didepannya dan
mengatakan bahwa cinta dihatinya sama sekali tak memudar meski ia telah coba
menghapusnya. Dan jika boleh, memintanya menjadi pasangannya yang memang
seharunya ia utarakan sejak tiga tahun lalu.
Semantara
Soo Jeong masih belum bergeming dari tempatnya, masih setia duduk didepan danau
yang beku itu. Entah apa yang tengah ia perhatikan, hingga membuatnya lupa akan
dinginya udara pagi itu.
Setelah
menimbang-nimbang, akhirnya Kiseop mengukuhkan hati. Ia akan menemui gadis itu,
menampakkan dirinya dihadapannya. Mengutarakan semua isi hatinya. Tak mengapa
jika Soo Jeong tak ingin menerimanya kembali, Kiseop sadar betapa dirinya tak
lagi pantas mengisi hati gadis itu. Tak apa, asalkan permintaan maafnya
tersampaikan. Itu sudah cukup mengurangi sedikit beban dihatinya.
Dan
saat langkah kakinya memijak hamparan salju menuju kearah Soo Jeong, Kiseop
terkesiap saat matanya menangkap sosok pria telah berdiri tepat dihadapan Soo
Jeong. Pria berpostur tubuh tinggi yang mengenakan mantel coklat itu tengah
menatap Soo Jeong sambil tersenyum. Kiseop maju selangkah untuk melihat mereka
lebih jelas. Dan disaat yang sama tampak segaris senyum dibibir gadis itu. Hati
Kiseop seketika bergetar, senyum yang telah lama tak pernah ia lihat. Gadis itu
kini tersenyum, namun bukan padanya melainkan pada pria didepannya. Pria lain.
“eoh,
Sungyeol oppa?” terdengar suara lembut Soo Jeong.
Sungyeol? Oppa? Siapa
dia?
Pria
yang dipanggil dengan nama Sungyeol itu tersenyum lalu mengusap puncak kepala
Soo Jeong dengan tatapan penuh kasih. Pria itu kemudian membenarkan letak syal
Soo Jeong lalu berkata
“kau
menangis lagi?” tangan pria itu kemudian mengelus pipi kiri Soo Jeong, ia
menghapus air matanya.
“hanya
teringat sesuatu yang seharusnya ku lupakan”
Suara
lirih Soo Jeong terdengar sampai ketelinga Kiseop.
“Sesuatu yang seharusnya
ku lupakan?”
Ah,
benar. Untuk siapa lagi kalimat itu ditujukan kalau bukan untuk Kiseop.
Mendengar kalimat itu ia benar-benar merasa dongkol sampai ke ubun-ubun. Kini
nyalinya untuk menemui gadis itu seolah hilang bak salju yang mencari. Entah
mengapa, Kiseop merasa kasihan pada dirinya sendiri. Seharusnya Kiseop sadar,
tak akan ada lagi celah untuknya di hati Soo Jeong. gadis itu mungkin telah
menemukan seseorang, yah orang yang menggantikan posisinya. Memang masuk akal
sejak 3 tahun kepergiannya. Seharunya memang begitu adanya kan? Mungkinkan pria
yang tengah berdiri dihadapan Soo Jeong sekarang? Pria bernama Sungyeol itu?
“kalau
begitu, mengapa harus diingat lagi?” tanya Sungyeol yang lebih terdengar
seperti sebuah saran. Soo Jeong sendiri tak menjawab dan hanya menyunggingkan
senyum tipis.
“tak
ada gunanya mengingat yang tak perlu, aku tak ingin kau terlalu banyak
memikirkan sesuatu”
Kini
pria itu semakin mendekatkan wajahnya kearah Soo Joeng. Ia mengamati gadis itu
dengan seksama.
“kau
pantas untuk bahagia Lee Soo Jeong” bisiknya tepat ditelinga gadis itu.
Tentu. Gadis itu pantas
untuk bahagia.
Kiseop
berguman. Matanya tak lepas menatap Soo Jeong dan pria disebelahnya. Sepertinya
memang benar, mereka berdua memiliki hubungan yang khusus. Setahu Kiseop Soo
Jeong adalah anak tunggal, ia tak memiliki saudara laki-laki. Selain itu,
Kiseop tak pernah mendengar Soo Jeong memiliki teman bernama Sungyeol. Jadi,
kalau mereka bukan saudara dan bukan juga teman apa lagi namanya selain
hubungan khusus antara seorang pria dan wanita. Ditambah lagi jika melihat
sikap pria itu, Kiseop semakin yakin jika memang hubungan mereka cukup serius.
Kini
tak ada lagi kesempatan bagi Kiseop untuk menemui Soo Jeong. kiseop sadar, ia
cukup tau diri. Ia kemudian berbalik, meski hatinya sakit Kiseop merasa pantas
mendapatkannya. Tanpa sadar, air matanya meluncur mulus di pipinya lalu
kemudian jatuh ke hamparan salju yang tengah ia pijak. Kiseop melangkah pergi,
perlahan tapi pasti ia menjauh dari tempatnya tadi. Memilih pergi tanpa bersua
terlebih dahulu dengan Soo Jeong membuatnya merasa menjadi pengecut untuk kedua
kalinya. Namun ia pikir, ia tak punya pilihan lain. Jika sampai dirinya
mendengar sendiri dari mulut Soo Jeong bahwa ia telah menemukan pria lain,
Kiseop tak bisa membayangkan rasa sakit yang akan menyelimutinya. Mungkin lebih
baik begini, tak perlu lagi ia mengusik hidup gadis itu. Selama ini ia sudah
cukup menderita. Dan setidaknya apa yang ia lakukan sekarang, bisa jadi lebih
berarti dari pada kata maaf yang bisa membangkitkan kenangan yang seharusnya
telah gadis itu lupakan.
***
“mau
ku belikan kopi?” Sungyeol bertanya pada Soo Jeong. gadis di sampingnya itu tak
menjawab dan hanya mengangguk kecil.
“ayolah,
aku tak suka melihat Soo Jeongku seperti ini. Aku lebih suka melihatnya
tersenyum”
Gadis
itu kemudian tersenyum, ia memalingkan wajahnya kearah Sungyeol.
“kau
cerewet sekali dokter Lee Sungyeol” Soo
Jeong berkata dengan senyum yang semakin merekah. Sungyeol sendiri terkekeh
mendengar celoteh Soo Jeong. melihat kondisi gadis itu yang kini mulai membaik
membuat perasaan Sungyeol lega, berbeda dengan beberapa bulan lalu saat pertema
kali gadis itu tau kalau ia lumpuh. Soo
Jeong benar-benar frustasi, butuh waktu lama untuk membuatnya ingin keluar dari
rumah sakit. Sejak hari itu, yang ia lakukan hanya duduk menghadap jendela.
Seharian penuh ia hanya diam sembari menitikan air mata.
Hari
itu, Sungyeol masih ingat saat Soo Jeong sadar dari koma dan mengetahui
kenyataan bahwa ia lumpuh. Soo Jeong menjerit, membuat siapapun yang
mendengarnya akan memalingkan wajah karena tidak tega melihat kondisinya.
Setiap hari, ia hanya bergumam kalau ia ingin dapat berjalan lagi. Ia ingin
pergi mencari kekasihnya.
Kini,
melihat senyuman di bibir gadis itu mulai kembali membuat hati Sungyeol tenang.
Ia memang bukan orang yang spesial untuk gadis itu selain hanya sebagai sepupu
sekaligus dokter yang merawatnya. sungyeol hanya bisa berharap agar senyum itu
selalu hadir diwajah cantik Soo Jeong. tak perduli gadis itu masih mencintai
kekasihnya dulu.
“baiklah,
aku akan pergi untuk membeli kopi. Lalu setelahnya kita kembali ke rumah. Bibi
bisa menendang bokongku jika melihat putri kesayangannya ini terlalu lama
diluar rumah hingga flu menyerangnya” Sungyeol sedikit bergurau sambil
mengacak-ngacak rambut Soo Jeong pelan sebelum akhirnya ia melangkah pergi.
Sekarang
hanya tingga Soo Jeong duduk seorang diri. Gadis itu mendesah hingga terlihat
uap putih yang keluar dari mulutnya. Memang sekarang cuaca sedikit lebih
dingin, membuatnya semakin merapatkan mantel yang tengah ia kenakan.
Hingga
tak lama, tiba-tiba saja ada seorang anak kecil berumur sekitar 6 tahun
berambut blonde datang menghapirinya. Bocah laki-laki itu berdiri dihadapan Soo
Jeong dan mengamatinya dengan seksama.
“ada
apa dik?” Soo Jeong bertanya sambil mengelus puncak kepala bocah didepannya.
“apa kau sendirian saja?”
Bocah
itu menggeleng.
“kalau
begitu, kau bersama seseorang? Ibumu? Apa kau terpisah dengan ibumu?”
Bocah
itu kembali menggeleng
“lalu?
Ada apa?”
Anak
laki-laki itu masih terdiam, ia mengamati kursi roda yang tengah diduduki Soo
Jeong lalu kembali menatap wajahnya. Tak lama ia mengeluarkan sebuah amplop
berwarna biru dari saku mantelnya kemudian menyerahkannya pada Soo Jeong.
“nunna,
seseorang tadi menyuruhku untuk memberikan ini untukmu” kata bocah itu,
kemudian tak lama ia berbalik dan berlari menjauh.
Soo
Jeong hendak memanggilnya kembali tapi urung dilakukan, anak itu sudah menjauh
dari tempatnya sekarang. Masih dengan perasaan heran, Soo Jeong beralih menatap
amplop biru ditangannya. Ia mengamati benda itu dengan hati-hati. Hingga ia
merasakan ada sebuah benda kecil didalamnya. Soo Jeong perlahan membuka amplop
itu dan seketika terkejut ketika menemukan sebuah cincin berwarna perak
meluncur mulus ditelapak tangannya. Cincin itu terlihat begitu cantik, dengan
hiasan berlian ditengahnya. Sekilas saja, ia sudah bisa menebak bahwa itu
adalah cincin kawin.
Tak
cukup dengan cincin, Soo Jeong kembali menemukan hal lain didalam amplop itu.
Sepucuk surat. Namun disurat itu tidak tertera nama pengirimnya, hanya
tertuliskan “untuk Soo Jeong” yang berarti untuk dirinya. Sejenak Soo Jeong
tampak ragu untuk membuka surat itu, namun rasa penasannya lebih besar dari
pada perasaan takut maupun keraguannya.
Tak
lama Soo Jeong telah larut dalam setiap kata yang ada didalam surat itu.
“Dear Lee Soo Jeong...
Aku tak tau harus
menulis apa, namun yang pasti aku ingin mengatakan bahwa aku sangat
merindukanmu. Maaf telah menjadi pengecut, maaf telah meninggalkanmu dan
membuatmu menderita. aku minta maaf.
Aku harap kau bisa hidup
bahagia. Kau pantas mendapatkan kebahagianmu. Hiduplah dengan seseorang yang
pantas denganmu. Yang bisa membuatmu selalu tersenyum. Bukan pengecut seperti
diriku.
Apa kau tau? Aku masih
sangat mencintaimu. Cincin yang kini ditanganmu seharusnya telah melingkar
dijari manismu sejak tiga tahun lalu.
Aku berterimakasih untuk
cinta yang pernah kau berikan padaku. Kau adalah salah satu anugrah dalam
hidupku. Trimakasih atas senyum manis yang selalu kau berikan dikala pagi,
terimakasih juga untuk setiap pelukan hangat serta wangi citrus yang
menyegarkan. Aku tak akan penah melupakan wangi itu. Aku tak akan pernah
melupakanmu. Tidak akan pernah.
Saranghae Lee Soo
Jeong...
Lee Kiseop”
Untuk
sepersekian detik waktu seolah berhenti berputar. Entah sejak kapan air matanya
telah mengalir membasahi pipinya. Hati Soo Jeong terasa perih. Membaca surat
itu membuatnya ingin menjerit memanggil nama yang tertera diakhir surat itu.
Kiseop, Lee Kiseop. Pria yang sejak tiga tahun itu ia rindukan.
Kini
dibawah butiran salju yang perlahan turun, Soo Jeong hanya bisa menangis
tersedu-sedu sembil memeluk erat surat beserta cincin dari Kiseop. Berharap
kakinya sedikit saja bisa digerakkan agar ia bisa berlari mencari pria yang ia
yakini berada tak jauh darinya. Suaranya seolah lenyap tergantikan dengan
tangisan yang begitu dalam. Ia ingin berlari mencari Kiseop agar ia bisa
mengatakan bahwa ia juga masih sangat mencintainya. Pria yang menjadi
kebahagiannya sekaligus kesedihannya. Pria yang juga tak bisa ia lupakan
selamanya.
The End

Keren,,,sampe nangis beneran ini bacanya😂
BalasHapusUwaaaa makasih makasih, terharuh 😆😄
Hapus